Jehan sudah sadar, dan kondisinya sudah stabil dan membaik. Kabar yang beberapa hari ini ditunggu orang terdekatnya termasuk Roila.
Hari itu dirinya baru saja menyelesaikan satu mata kuliah. Begitu mendengar kabar jika kekasihnya sudah sadar, Roila bahkan tidak berfikir dua kali untuk membolos dan berangkat ke Rumah sakit. Padahal dirinya masih memiliki satu kelas nanti sore.
Begitu sampai di rumah sakit, Roila langsung saja berhambur memeluk kekasihnya erat, tidak peduli dengan dokter dan suster yang masih memeriksa kondisi Jehan.
"Han... Jehan..." Roila terus memanggil nama Jehan sambil menangis di dada pemuda itu.
Jehan yang masih lemah hanya bisa tersenyum tipis sambil mengusap kepala Roila dengan lembut. "Iya sayang ,aku di sini gak akan kemana-mana lagi."
"Jangan gitu lagi! Kamu bikin aku takut." Roila terisak di pelukan Jehan.
"Maaf ya? Aku janji gak akan bikin kamu takut lagi." Jehan mengecup puncak kepala Roila dengan lembut.
Mike yang berdiri di pojok ruangan melihat momen itu dengan senyum tipis. Dadanya terasa sesak, tapi dia tahu ini adalah kosekuensi jika menyukai seseorang yang sudah dimiliki orang lain.
Ya, Roila datang di antar Mike, mereka tanpa sengaja bertemu di depan gerbang kampus, Mike yang melihat Roila hampir menyebrang tanpa melihat sekitar refleks menarik lengan gadis itu dan bertanya mengapa Roila begitu terburu-buru.
Roila hanya menjelaskan dengan singkat jika Jehan sudah sadar dan berkata ingin secepatnya datang ke rumah sakit. Maka dengan baik hati, Mike langsung menawari tumpangan dan mereka akhirnya sampai di rumah sakit bersama.
"La, dokter mau periksa. Kita tunggu di luar dulu yuk!"
Lira datang memberi tahu. Memang Lira sedang menjaga Jehan dengan Mirta dan juga Devan. Dia juga yang memberi tahu jika Jehan sudah siuman.
"Gak mau, gue mau di sini." Roila menolak untuk melepaskan Jehan.
"La, dengerin Lira. Nanti kalo dokter udah selesai, lu bisa balik lagi ke sini. Bang Jehan juga gak akan kemana-mana kok." Kali ini Mirta yang membujuk. Roila menatap Jehan dengan tatapan meminta pertolongan, tapi Jehan hanya mengangguk.
"Sebentar aja kok, nanti abis ini kamu boleh peluk aku sepuasnya."
Roila akhirnya mengangguk dengan berat hati. Dia mengecup kening Jehan sebentar sebelum akhirnya keluar bersama Lira dan Mirta, karena Mike dan Devan memang menunggu diluar ruangan.
Beberapa jam kemudian setelah dokter selesai memeriksa dan memastikan kondisi Jehan sudah stabil, Roila akhirnya diizinkan masuk kembali. Gadis itu langsung duduk di samping ranjang Jehan sambil menggenggam tangan kekasihnya erat.
"Gimana rasanya? Masih sakit?" Roila bertanya dengan wajah cemas.
"Udah enakan kok. Cuma masih agak pusing aja." Jehan tersenyum menenangkan. "Eh tapi ini kenapa kamu kurusan ya? Kamu Udah makan belom?"
"Udah kok, Mike, Lira sama yang lain maksa aku makan terus, walau sebenernya aku gak nafsu." Roila menjawab yang sebenarnya.
"Bagus. Makasih ya udah jagain Roila." Jehan menatap Mike yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Mike tersenyum. "Sama-sama, Bang. Itu udah kewajiban gue sebagai temen."
"Bang, gue sama Lira mau balik nih gapapa ya? Ada bang Saga sama Bang Josh kok di luar." Mirta tiba-tiba saja masuk berpamitan. Devan sudah lebih dulu pulang karena harus menjemput Yuriko.
Jehan mengangguk. "Sayang, kamu juga ikut pulang dulu aja sama Lira ya? Kamu keliatan cape, istirahat dulu aja di kost. Besok baru kamu balik ke sini." Jehan berkata sambil mengusap punggung tangan Roila.
