Saat ini di ruang santai hanya ada Mike dan Roila. Roila belum mengatakan apapun setelah mengajak Mike untuk berbicara. Gadis itu terlihat banyak memikirkan sesuatu.
"Jadi?" Mike bertanya, berinisiatif agar Roila mau mengutarakan apa yang ingin di bicarakan padanya.
Roila bangkit sebentar, mengintip ke arah tangga memastikan tidak ada yang masih berkeliaran di bawah. Setelah yakin semuanya sudah naik, gadis itu kembali duduk, kali ini lebih dekat tidak lagi di seberang Mike tapi di sisi yang sama, hanya dibatasi jarak satu bantal.
Beberapa detik keduanya hanya diam. "Ini kurang teh aja nih kalo mau meditasi." Mike kembali bergurau, berniat untuk mencairkan suasana.
Roila hanya terkekeh dengan sarkas. "Gak lucu, gue beneran pengen ngobrol serius. Jangan bercanda." Akhirnya Roila membuka mulut. Mike mengangguk kemudian memberikan atensinya secara serius pada gadis di hadapannya ini.
Roila menghela nafas panjang, sebelum menatap manik Mike yang kini juga menatapnya. "Gue mau minta maaf sama lu."
Mike mengernyitkan dahinya. "Tiba-tiba minta maaf?" Tanyanya heran. "Buat apa? Gue gak merasa lu punya salah ke gue." Timpalnya santai. Roila tahu Mike mengerti maksudnya, tadi pemuda itu malah memilih seolah memang tidak pernah ada hal yang terjadi diantara mereka.
"Buat semuanya. Gue tau lu ngerti, gue berhutang maaf buat banyak hal." Roila menatap tangannya sendiri yang menggenggam bantal di pangkuannya.
"Gue tau lu suka sama gue, Mike."
Hening meliputi keduanya. Mike tidak menjawab, tapi juga tidak menyangkal.
"Gue udah tau dari lama sebenernya, gue peka sama perasaan lu ke gue." Roila melanjutkan, suaranya pelan tapi stabil. "Dan gue malu ngakuinnya, tapi gue pernah manfaatin rasa suka lu ke gue. Mungkin gak secara sadar di awalnya, tapi lama-lama gue nyadar apa yang gue lakuin dan gue tau lu juga sadar gue manfaatin tapi lu biarin hal itu."
"La—"
"Dengerin dulu, jangan di potong." Roila memotong lembut. Kembali Roila menghela nafas sebelum melanjutkan.
"Setiap kali gue butuh sesuatu, yang pertama gue inget itu lu. Setiap kali gue pengen ditemani tapi gak mau ganggu yang lain, gue cari lu. Dan gue tau lu gak akan pernah nolak. Bahkan disaat gue mau buat cowok gue cemburupun gue selalu melibatkan lu." Suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat. "Itu jahat, Mike. Dan gue harus minta maaf."
Mike terdiam cukup lama, matanya yang tadinya menatap Roila kini menatap dinding di depannya.
"Boleh gue tanya sesuatu?" Mike akhirnya membuka suaranya.
Roila mengangguk.
"Lu sadar itu gue suka sama lu dari kapan?"
Roila menggigit bibir bawahnya yang langsung Mike usap agar gadis itu tidak menggigitnya lagi.
"Waktu gue ngurusin lu di rumah sakit, saat gue merasa hubungan gue sama Jehan udah gak ada harapan." Roila tersenyum getir. "Gue sadar lu suka gue karena lu gak pernah nolak apapun yang gue lakuin, lu bahkan gak marah setelah gue bikin patah tulang." Roila berhenti sebentar.
"Gue ngerasa hangat dan gue sempet takut sama rasa hangat itu. Gue takut rasa itu cuma pelarian karena gue mencari validasi gue gak sebutuh itu sama Jehan. Disisi lain gue cinta Jehan dan itu gak pernah goyah. Tapi gue takut karena gue sadar, gue udah terlalu banyak ngambil dari lu tanpa pernah mikirin harga yang lu bayar."
Mike menghela nafas panjang, tangannya mengepal pelan di atas lututnya.
"Gue gak pernah ngerasa dimanfaatin, La." Mike berkata pelan. "Serius."
"Tapi itu gak ngilangin fakta bahwa gue harusnya lebih peka." Roila akhirnya menoleh, menatap Mike langsung. Matanya sudah berkaca-kaca. "Gue harusnya lebih tegas dari awal. Harusnya gue jaga jarak yang bener supaya lu bisa move on lebih cepet, bukan malah terus-terusan nyari lu setiap kali gue butuh sesuatu."
Mike menatap Roila, ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan. Antara sedih dan lega di waktu yang bersamaan.
"Lu tau yang paling lucu?" Mike akhirnya berkata, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Gue gak nyesel. Satu detik pun gue gak nyesel pernah ada buat lu dan suka sama lu." Mike mengatakan itu dengan senyuman yang tetap tersungging. "Disini lu gak salah kok. Karena gue juga menyadari kalo gue juga salah, gak seharusnya gue suka sama cewek orang. Gue juga tau resikonya, salahnya gue gak mempersiapkan kemungkinan terburuk dari apa yang gue lakuin ini. Tapi sekarang gue sadar, Jehan adalah orang yang paling pantes ada disisi lu."
Roila menghapus air matanya yang tiba-tiba saja jatuh dengan lengan baju. "Itu yang bikin gue harus makin minta maaf. Kalo aja gue gak semenarik itu sampe bikin lu suka sama gue, ini gak akan serumit itu." Roila kembali mengutarakan candaam diakhir agar suasana tidak terlalu menjadi berat.
Mike tertawa kecil mendengarnya.
"Gue boleh tanya satu hal lagi?" Roila berkata agak ragu, Mike hanya mengangguk mengiyakan.
"Lu pergi bukan karena gue kan? Gue tau ini kesannya gue kepedean banget. Tapi gue kepikiran banget, dan kalo jawabannya iya gue bakal merasa bersalah banget. Rasanya gak adil lu harus ninggalin tempat ini, gimanapun tempat ini pasti udah kaya rumah kedua bagi lu sama halnya kaya gue dan yang lain."
"Gue pergi bukan karena lari dari lu kok, La. Gue pergi karena gue butuh ketemu sama versi gue yang gak lagi nunggu sesuatu yang gue tau dari awal gak akan pernah ada." Mike berkata jujur, mungkin untuk pertama kalinya dia mengatakannya dengan lantang. "Dan gue rasa, ini waktu yang tepat buat itu."
Roila mengangguk pelan, air matanya masih mengalir meski pelan. "Gue harap di sana lu nemu sesuatu yang bikin lu bahagia beneran. Bukan kebahagiaan yang lu paksain."
"Gue juga berharap kaya gitu." Mike tersenyum. "Dan lu juga harus bahagia ya, La. Jaga Jehan, jangan mau dijahilin mulu sama dia, dan sesekali dengerin omongan Jea supaya dia gak capek ngurusin lu."
Roila tertawa di tengah tangisnya. "Ih, gue gak sering dijailin kok. Udah kebal banget nih, gue bisa jailin dia balik!"
"Iya iya."
"Beneran!"
"Iya gue percaya." Mike mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi senyumnya tidak hilang.
Tawa Roila pelan-pelan mereda, berganti jadi sesuatu yang lebih tenang. Nafasnya agak berat terdengar.
"Gue bakal kangen sama lu, Mike. Pokonya pas lu udah balik indo kita harus ketemuuuu dan lu harus jajanin gue!"
"Gue juga. Tenang aja, nanti pulang dari China gue beliin mala yang banyak." Mike menjawab diiringi candaan.
Keduanya terdiam kembali, membiarkan malam dan sunyi ruang santai itu menampung semua yang tersisa semua yang sudah diucapkan, dan semua yang memang lebih baik tidak perlu diucapkan.
"Udah malem, naik dulu sana, tidur." Mike akhirnya berkata pelan. "Besok lu harus bantu gue ngadepin mereka semua." Lanjutnya.
Roila menghela nafas sambil berdiri, tangannya mengusap sisa air mata di pipinya. "Oke. Tapi lu janji ya satu hal."
"Apa?"
"Kabar-kabaran. Gak harus sering, tapi jangan ngilang."
Mike menatap Roila sebentar, kemudian mengangguk. "Janji."
Roila tersenyum tipis sebelum berbalik menuju tangga. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti tanpa menoleh.
"Mike."
"Hm?"
"Makasih buat semuanya."
Mike tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum pada punggung Roila yang perlahan menghilang di balik tangga.
"Gue yang harusnya berterima kasih, La."
Tbc
Dengan ini aku katakan kapal Mike-Roila resmi karam ya gessss hehehehehe. Ketemu lagi besok ya bubay<3
