"Gue kalo jadi cewek yang lu tembak udah muntah duluan sih, ini kelewat alay." Roila menatap tumpukan bunga di depannya dengan kernyitan jijik. Belum lagi beberapa perintilan alay yang sekarang mengintari kostnya.
Mirta menoleh cepat, "Ini tuh romantis bukan alay, emang lu gak pernah gitu di kasih bunga sebanyak ini sama dinyanyiin?" Mirta membalas dengan sewot.
Sudah dua bulan sejak kepergian Mike, suasana Kost sudah kembali seperti semula. Walau minggu-minggu awal memang terasa berat, sekarang semuanya sudah mulai terbiasa. Untuk kamar Mike, seluruh penghuni sepakat tidak akan membiarkan kamar penuh kenangan itu diisi oleh orang lain, maka dari itu mereka tetap menyewa dan membayar kamar Mike untuk membiarkannya sebagai ruang serbaguna.
"Ngapain? Cowok gue bukan artis, kalo mau liat artis nyanyi ya kita tinggal beli tiket konser aja. Iya kan sayang?"
Jehan mengangguk, pemuda itu kembali menyuapkan satu buah anggur pada sang kekasih yang sedang memperhatikan Mirta menyusun acara untuk meminta Lira menjadi kekasihnya.
Jefran tertawa mendengarnya. Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya, merasa terhibur akan perdebatan Roila dan juga Mirta sejak tadi.
"Lagian nih ya lu kurang totalitas kata gue, lu udah beli bunga sebanyak ini terus mau nyanyi juga buat dia. Bahkan lu udah masak banyak buat Lira. Tapi kenapa lu gak sewa tempat aja sih? Di ancol misal. Kalo di kost mah sama aja bohong dong." Lagi-lagi Roila berkomentar cukup pedas.
"Ini gue salah gak sih minta saran ke Roila? Harusnya gue minta saran Yumna atau Jea aja gak sih?" Mirta menatap Jefran yang kini asyik memangku gitar yang akan digunakan Mirta. Pemuda itu mendongkak.
"Lebih oke minta saran Jila sih, dia kan mantan lu. Siapa tau lu bisa upgrade nembak cewek. Maksud gue lebih oke daripada nembak Jila waktu itu." Perkataan Jefran sontak saja mendapat lemparan bantal sofa dari Mirta. Sementara Jehan, Roila, dan Jefran hanya tertawa-tawa.
Saat ini hanya ada mereka berempat di kost, berlima dengan Arjun yang sedang tertidur lelap di kamarnya setelah bergadang hampir tiga harian untuk tugas rumitnya.
"Chaera whatsaap gue, katanya mereka balik dua jam lagi." Roila memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Chaera. Lira saat ini memang sedang diajak hangout oleh yang lain, karena memang hampir seluruh kost tahu rencana Mirta. Dan Mirta memang menyuruh penghuni lain untuk datang lebih telat demi acaranya ini.
"Dia gak curiga kamu aja yang gak ikut sayang? Semua anak cewek kan ikutan tuh." Jehan bertanya sambil mengusap sayang rambut sang kekasih.
"Enggak, aku bilang mau nganterin cowokku chekup demi ini demit satu." Roila melirik Mirta melalui ekor matanya.
"Siapa yang lu sebut demit hah?" Mirta balas memelototi Roila, Jehan yang melihatnya hanya tertawa, tidak berniat membela sang kekasih karena tahu itu hanya bercanda.
"Udah dong la, bantuin gue sekarang. Gue kan ngundang lu buat bantuin gue bukan buat nyinyirin gue." Mirta akhirnya mengeluh juga. Roilapun akhirnya bangkit, membantu Mirta membaca kertas surat yang sudah disiapkan pemuda itu.
"Lu ngapa buka itu? Ini rahasia!" Mirta mendekat hendak mengambil suratnya tapi Roila buru-buru menjauhkannya.
"Gue harus liat dulu, firasat gue mengatakan kalo tulisan ini alay maksimal." Roila membukanya, dan benar saja surat itu isinya sangat puitis, Roila saja merinding membacanya.
Jefran yang dari tadi hanya menonton. Kini menyimpan gitar miliknya. "Beda pov aja gak sih la? Lu bilang cringe dan alay karena itu surat bukan buat lu, kayanya kalo yang bacanya Lira pasti beda cerita."
Mirta yang mendengarnya tersenyum haru, akhirnya ada juga yang mengerti dirinya. "Tau, kaya gak pernah kasmaran aja." Mirta merasa tinggi karena ada yang membela.
YOU ARE READING
ninenty-seven kost
Literatura Kobiecakostan dengan penuh keragaman dari para penghuninya
