33. Berita Mengejutkan

281 36 8
                                        

Mirta sedang membeli nasi padang saat tiba-tiba babeh —pemilik kost— datang menghampirinya. Mereka berbicara cukup lama. Hanya basa-basi singkat seperti biasa. Karena Babeh ini emang cukup sibuk, dia tidak sering datang mengecek keadaan kost dan percaya sepenuhnya pada Mirta.

"Anak kost aman kan? Gak ada masalah atau apa?"

Mirta tersenyum akrab. "Aman dong beh, semua terkendali."

"Babeh denger kemaren pacar Roila masuk RS, gimana itu kabarnya?"

"Oh udah pulang, udah dua minggu lalu. Udah oke lagi kok pokonya."

"Itu lu bungkusin juga lagi buat beberapa anak kost, biar babeh yang bayar."

Mirta tentu saja berbinar mendengarnya. Sebagai anak kost dan ini adalah akhir bulan kesempatan seperti ini adalah aji mungpung. Maka dari itu Mirta kembali memesan nasi padang yang dia bungkuskan untuk anak-anak kost.

"Oh iya hampir lupa, lu kalo ada temen yang nyari kost coba tawarin buat ngekost disini." Babeh yang sudah akan pergi kembali mundur dan menatap Mirta.

Mirta mengernyit dengan bingung, setahunya semua kamar di kost sudah terisi full, apa babeh mau menambah kamar baru. "Buat kost beh?" Mirta bertanya memastikan.

"Iya, Si Mike kan mau out tuh. Otomatis kamarnya kosong, makanya tawarin ke temen lu siapa tau ada yang berminat."

Mirta makin heran, dia tidak salah dengar? Mike mau keluar? Tapi pemuda itu tidak ada berbicara apapun padanya.

"Mike bilang pas kapan beh?"

"Pas hari sabtu, dia aja minta maaf karena dadakan. Padahal dia bayar sewa udah lunas tuh sampe tiga bulan kedepan."

***

Malam itu semua berkumpul di ruang santai dengan Lengkap. Mirta memang meminta semua penghuni berkumpul tanpa terkecuali, dia tidak menerima alasan siapapun untuk absen. Hal ini membuat semua penghuni mau tidak mau menuruti karena sudah pasti apa yang akan disampaikan oleh Mirta ini penting.

Roila yang baru saja pulang dari Apartement Jehanpun ikut duduk dengan wajah bingung, gadis itu masih membaca situasi. Suasana di ruang santai tidak secair biasanya dan malah terkesan dingin.

Mike sendiri duduk di pojok, mengenakan tudung hoddie yang menutupi kepalanya, dalam hatinya berkata cepat atau lambat kepergiannya memang harus diberitahukan.

Mirta berdiri di tengah dengan ekspresi datar.

"Ini kita mau ada apa sih? Tegang amat." Arjun berusaha mencairkan suasana.

"Tau kita bukan mau perang kan ini? Yasha ikut menimpali.

Mirta berdehem, membuat Arjun maupun Yasha akhirnya diam. Atensipun sepenuhnya ada pada Mirta sekarang ini.

"Jadi tadi gue ketemu sama babeh."

"Iya tau, kan lu tadi bilang nasi padang dari babeh." Bimo memotong, Jea yang ada disebelahnya refleks mencubit paha pemuda itu agar diam.

"Lanjut Ta." Jea memberi intruksi.

"Dia nyuruh gue cari penguni baru buat isi kamar Mike."

Semua kepala serentak berpaling ke arah Mike. "Kenapa? Emang lu mau kemana?" Arjuna bertanya duluan.

Mike menghela nafas. "Sorry guys."

Hawa sekitar mereka makin mendingin, tapi tidak ada yang menerima atau membalas perkataan Mike, menunggu pemuda itu untuk melanjutkan perkataannya."

"Gue lolos program magang di kampus. Penempatan di China." Dia berhenti sebentar. "Dan gue bakal berangkat lusa."

Sunyi, tidak ada siapapun yang membuka mulut mereka.

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now