"Hasil sidang pertama masih mengacu pada aturan, bahwa setiap anak dibawah dua belas tahun hak asuhnya akan diberikan pada pihak ibu."
Cakra menopang dagunya dengan sebelah tangan, ia sungguh tak ingin kehilangan Ciko.
"Kenapa hakim berfikir kalau dia lebih layak mendapatkan hak asuh itu?"
"Sepertinya, Hakim melihat effort seorang ibu yang berusaha datang ke pengadilan dengan darah di kakinya."
Cakra memejamkan matanya seraya menggeleng, "dia bukan wanita baik-baik, anak saya akan kehilangan hidupnya jika hak asuhnya jatuh ke tangan dia."
"Pak, maaf jika saya lancang. Apa kejadian di masa lalu didasari atas keinginan dan kesadaran berdua, atau ada unsur paksaan dari salah satu pihak? Karena sepanjang persidangan, penggugat tidak membahas dan mengungkit statusnya dengan anda."
Bola mata Cakra menatap pak Adnan, tubuhnya kini dicondongkan, menunpukan kedua sikutnya pada paha.
"Saya tahu apa yang harus dilakukan," desis Cakra.
Di bulan berikutnya sidang kembali dilanjut sesuai jadwal yang ditentukan.
Lewat kacamata hitamnya, Cakra menatap dingin penuh kebencian pada wanita yang menjadi lawannya. Sebuah ingatan kelam dimasa lalu kembali berputar di kepalanya.
Pesta di sebuah apartemen yang dihadiri para remaja begitu asik menghibur jiwa. Mereka bersuka ria menuangkan bir dan menegaknya bersamaan.
Hakim memasuki ruangan, semua berdiri memberi hormat.
Pesta berakhir pada jam larut malam. Satu persatu mulai pulang dalam keadaan mabuk, kecuali seorang remaja laki-laki yang kini tengah meraba seluruh sakunya, "lo liat handphone gue?"
"Di dalem kali. Gue duluan ya, Cak." Cakra yang berumur 20 tahun itupun mengangguk.
Kembali masuk apartemen untuk mengambil handphonenya yang tertinggal.
"Sidang hari ini tertutup untuk umum dengan perkara Hak Asuh Anak."
"Apakah pak Cakra siap untuk memulai sidang?"
Cakra memasuki apartemen mengambil handphonenya yang tergeletak di meja. "Gue tau lo pasti kembali Cakra."
Gadis pemilik apartemen itu mengejutkan Cakra, mengambil langkah mendekat.
"Gue cuma mau ambil handphone."
"Siap, Yang Mulia."
Gadis itu tertawa, "alasan klasik." Tangan lentiknya menyentuh dada Cakra, namun Cakra menepisnya.
Kaki jenjangnya menuju pintu, namun terkunci.
"Kamu gak bisa lolos dari aku, sayang. Tonight, you and me will be us."
Pandangan Cakra tiba-tiba buram, kepalanya berat dan berdenyut hebat. "You're mine, Cakra." Gadis itu berbisik tepat ditelinga Cakra.
Ditengah sidang, Cakra membuka suara. "Saya mengajukan gugatan baru atas dasar pelecehan seksual, pencemaran nama baik, dan.." Cakra melepas kacamata hitamnya melirik sengit pada wanita itu. "perencanaan percobaan pembunuhan," imbuhnya.
■□■□
Di ruang tunggu, Pak Norman dan Zanayya duduk bersampingan.
Gadis itu sibuk membuka lembaran demi lembaran berkas yang untuk mempelajarinya.
"Zanayya, boleh saya jujur?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Color of Catur
Teen Fiction"Aku, Zanayya Auretta Claryn yang akan membalaskan dendam atas kematian Rietta Airin." Antara dendam dan ikhlas, mana pemenangnya? Hanya ada warna Hitam dan Putih dalam papan catur, begitu pula hanya ada suka dan duka dalam hidup. Langkahnya baga...
