5 : Bukan Sembarang Kenny

153 22 5
                                        

Aroma libur di sabtu pagi adalah salah satu aroma terbaik bagi sebagian orang termasuk pelajar. Hari ini, Kenny berdiri di depan pagar rumah Gita dengan rambut disisir ke belakang, ia memakai minyak rambut yang aromanya menusuk, mirip bau bensin kebakar. Kemeja kotak-kotak dibuka satu kancing paling atas, mirip Jokowi. Lalu, kalung perak menjuntai di leher, dan tak lupa kacamata gelapnya. Gaya tahun 2000-an katanya.

Kenny menghela napas panjang. Pemuda itu terlihat seperti sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang spesial.

"Assalamualaikum, Gita."

Pintu rumah terbuka setelah ucapan salam. Gita muncul dengan mengenakan kaus santai dan celana training abu-abu. Wajahnya tanpa rias. Rambutnya agak awut-awutan, tapi bagi Kenny, gadis itu sempurna.

"Masuk aja, Ken, langsung naik ke atas. Kamar gua di lantai dua," ucap Gita cepat, lalu kembali masuk tanpa menunggu jawaban.

Kenny menelan ludah. "Buset ... ka-kamar?"

Pemuda itu berjalan memasuki rumah Gita. Langkahnya langsung tertuju pada tangga, lalu ia naiki satu per satu anak tangga pelan-pelan. Setiap anak tangga yang Kenny injak seperti mendekatkannya ke takdir yang selama ini hanya ada dalam angannya. Tapi begitu pintu kamar terbuka, harapannya runtuh seketika.

Frinza duduk di sana.

ADA FRINZA DI DALAM SANA.

Frinza sedang duduk bersila di karpet sambil menggambar di halaman terakhir buku tulisnya. Pandangan mereka bertabrakan dalam tayangan lambat.

"Yo," sapa Frinza.

"Ngapain lu di sini, anjing?!"

Frinza tersenyum. "Tugas sejarah berkelompok. Udah dua hari lu ga masuk, ya udah jadi Gita ngajakin ngerjainnya pas liburan di rumah dia."

Belum juga bibir Kenny kering, Gita masuk membawa tiga gelas minuman. "Udah, duduk, Ken. Ga usah ribet."

Kenny merasa seperti baru saja ditonjok realita. Semua angan-angan indahnya rontok dalam hitungan detik, tapi Kenny tetap duduk di ruangan itu, bersebrangan dengan Frinza.

"Pffttt ...." Frinza tiba-tiba saja tertawa, tapi segera ia tahan lagi.

Alis Kenny naik satu. "Apa yang lucu?"

Pada satu titik, ia terbahak-bahak sambil memandang ke arah Kenny. "Rambut lu mirip tukang rujak!"

Urat di pelipis Kenny muncul. "Anjing ...," gumamnya lirih.

Kenny mencengkeram lututnya, berusaha keras untuk tidak menyiram gelas es teh manis ke kepala Frinza. Emosinya hampir meledak, tapi pada akhirnya ia menyenderkan punggung ke dinding kamar sambil mengambil salah satu gelas minuman yang dibawa oleh tuan rumah.

"Ngomong-ngomong muka lu kenapa tuh?" tanya Frinza yang menyadari ada beberapa luka dan lebam samar di wajah Kenny.

"Jadi tugasnya apa? Mau bahas apa?" tanya Kenny membelokkan arah pembicaraan sambil meneguk minumannya.

Frinza menyandarkan dagu di tangan. "Mau lu bahas apaan? Sejarah tukang rujak?"

Kenny menatapnya tajam. "Diem ga lu, gua lempar gelas nih."

Frinza tertawa terpingkal-pingkal. "Jangan marah dong. Gua salut loh sama lu, Ken. Lu sampe bela-belain dandan kayak bapak-bapak yang udah punya anak SMA demi tugas sejarah. Totalitas."

Gita menahan tawa, tapi senyum geli sudah terbit di sudut bibirnya. "Katanya tukang rujak, Frin?"

"Iya, bapak tukang rujak yang punya anak SMA," balas Frinza sambil terkekeh.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang