34 : Hadiah

107 13 2
                                        

Bengkel Kenny sore itu lebih terlihat seperti markas perang yang dijadikan tempat nongkrong. Bau oli berpadu dengan dentingan kunci pas jadi pelengkapnya.

Di pojok bengkel, speaker portable memutar lagu-lagu indie yang kalah oleh riuh tawa anak-anak SMA.

Andre duduk di kursi plastik hijau sambil menyulut rokoknya, sementara Bima dan Fajar asik berdebat soal motor 2-tak vs 4-tak. Rian, Agung, Ardi, dan Rio sesekali nyeletuk sambil menyeruput es teh plastikan mereka. Semua terlihat sibuk dengan obrolannya masing-masing.

Iya, semua kecuali Frinza yang sejak tadi duduk santai di sofa pojokan. Gita menempel di sisinya, seperti dua magnet yang tak lagi bisa dipisahkan.

Andre melirik Frinza yang jemarinya sibuk memainkan rambut Gita. Gadis itu terlihat cekikikan oleh ulah jokes Frinza yang recjeh.

"Enak banget dah yang punya cewek," celetuk Rio dengan nada sarkas, disambut tawa satu bengkel.

Kenny masuk dari arah pintu samping membawa plastik berisi kue sagu yang ia beli di warung sebelah.

"Ini dia yang ulang tahun!" seru Andre sambil mengangkat rokoknya.

"Norak, anjing!" balas Kenny santai sambil menaruh kue di atas meja, lalu duduk di samping Andre. 

"Happy birthday, Ken!" ucap Rian.

"Itungan mundur ke arah mati, ga usah dirayain!" seru Kenny.

Sorak-sorai pun pecah, bengkel riuh itu mendadak ricuh. Anak-anak basis bernyanyi selamat ulang tahun ala kadarnya, Gita ikut tepuk tangan sambil tertawa. Sementara Frinza hanya tersenyum menatap sahabatnya itu dengan tatapan puas. Menurutnya, orang seperti Kenny pantas dirayakan, meski dengan cara yang sederhana.

Andre mendekat sambil menepuk bahu Kenny. "Coba liat KTP lu. Katanya abis nyogok Pak Lurah lu? Jadi gercep gitu kerjanya, Bray."

Kenny tersenyum bangga. "Jelas lah. Nih, baru jadi tadi pagi."

Ia mengeluarkan dompet dari saku celana, lalu menunjukkan kartu identitas barunya yang masih kaku. Foto Kenny di KTP itu membuat semua orang ngakak.

Frinza tiba-tiba bangkit dan merebut kartu identitas tersebut. Ia memicingkan mata dan fokus menatap pas foto Kenny.

"Kayak aki-aki hilang ingatan lu, bego."

"Mata lu tipes, anjing!" Kenny merebut KTP-nya, tapi Frinza menghindar.

"Bentar, liat dulu! Pelit amat lu ah. Belom juga beres gua analisa, ngobrol aja dulu lu sono!"

Kenny menghela napas berat, lalu pergi dan nimbrung dengan anak basis.

Di sisi lain, Frinza kembali ke pojokan bengkel dan duduk sambil menatap KTP Kenny.  Gita merapat padanya dan ikut melihat KTP manusia aneh yang tampangnya datar seperti buronan.

Obrolan anak-anak kembali riuh. Andre dan Kenny masuk ke pembahasan serius tentang dunia permodifan.

"Ken, kalo lu punya duit buat beli motor lagi, jangan pasang knalpot KW lagi. Berisik! Bikin kuping copot."

"Anjing ... terserah gua lah," balas Kenny.

Di pojok, Frinza asik ngobrol sendiri dengan Gita, sibuk tertawa, dan sesekali saling berbisik seolah dunia hanya milik berdua. Kenny sempat melirik sekilas, senyum samar muncul di bibirnya, lalu kembali berbaur dengan Andre.

Waktu berjalan cepat, sampai matahari miring ke barat. Anak-anak satu per satu pamit. Bengkel mulai sepi, hanya tersisa Frinza, Gita, dan Kenny yang sedang beberes.

"Gua udah beres nih, cabut dulu yak," ucap Frinza santai sambil menggendong tasnya.

"Oke, hati-hati lu berdua," balas Kenny.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang