26 : The King is Back

111 17 7
                                        

Kabar kekalahan Reynard menyebar seantereo sekolah. Dua Jendral raksasa sudah ditumbangkan oleh The Giant Slayer, Frinza Martawangsa. Anak OSIS pun mengambil momentum dan menyuarakan stop bullying. Mereka membuat ultimatum keras bagi pelaku yang melakukan pemerasan atau pemalakan di area sekolah. Sehari setelah Reynard dikalahkan, keesokan harinya tak ada lagi uang pungutan setoran. Era para raksasa telah berakhir.

Selama satu minggu, kehidupan di SMA Adinata akhirnya damai. Para siswa mulai terbiasa tanpa kehadiran anak Jotun di kelas-kelas mereka saat jam istirahat. Para begundal itu bersembunyi di palung terdalam kelas mereka masing-masing dan tak punya muka keluar saat jam istirahat berlangsung.

.

.

.

Senin, minggu kedua setelah keruntuhan para raksasa.

"Jangan tawuran-tawuran lagi kamu," ucap Pak Maman sambil menghela napas berat. "Kamu tuh di kelas tiga ini cuma berapa bulan doang. Kalo kena skors lagi, beres kamu. Ga bisa ikut ujuan nasional."

Lelaki dengan name tag tertulis Rudi Kuncoro di atas kantong seragam itu tersenyum pada Pak Maman. "Oke, Pak. Saya ga akan terlibat tawuran lagi."

"Ya sudah, sana kembali ke kelas," ucap Pak Maman.

Rudi mengangguk, lalu keluar dari ruang guru. Ia berjalan di koridor sekolah pagi itu. Semua mata memandangnya. Kedamaian yang sempat dirasakan minggu lalu, ternyata hanyalah kedamaian yang semu. Mereka semua hampir lupa, bahwa para raksasa itu memiliki seorang Raja. Langkah Rudi terlihat ringan, tapi membuat aura di sekolah kembali berat dan mencekam.

Begitu tiba di lantai tiga, para anggota Jotun berbaris di kanan dan kiri koridor menyambut kedatangan sang raja. Bukan hanya anak kelas tiga, tapi seluruh anggota Jotun dari kelas satu dan dua pun hadir.

Reynard dan Bagas sudah menunggu di dalam kelas. Mereka berdua berdiri di sebelah kursi yang selama kurang lebih dua bulan ini kosong.

Saat langkah Rudi melewati pintu kelas, Rania menghampirinya. "Beb, aku—"

Ekspresi rudi yang ceria, tiba-tiba berubah. "Diem. Gua ga mau denger apa-apa lagi dari mulut pengkhianat. Cewek yang hobi mempermainkan perasaan laki-laki ga pantes dipertahankan. Kita udah putus, dan cukup sampe di situ."

Rania diam tak berkomentar. Ia menunduk dan merasa bersalah karena sudah mendua, meskipun hanya main-main.

Rudi mengusap kepala Rania. "Tapi gua tetep ga terima lu dipermaluin begitu sama anak yang gangguin temen-temen gua. Jadi sebagai hadiah terakhir buat lu, gua bakal balesin rasa sakit lu."

Kini Rudi melanjutkan langkah hingga dirinya berdiri di hadapan Reynard dan Bagas. "Sorry, gua ada ada waktu kalian dihajar."

"Maaf, gua kalah ...," lirih Bagas.

Rudi terkekeh. "Wajar, lawan lu Frinza Martawangsa. Lu pada tau siapa dia? Atau pernah denger namanya?"

Semua menggelengkan kepala.

"Orang yang punya nama belakang Martawangsa itu, bukan orang sembarangan. Terlebih, si Frinza ini dikeluarin dari sekolah lamanya karena insiden berat. Dia bikin anak orang jadi cacat permanen dan hampir tewas. Beruntung lu berdua ga kenapa-napa."

"Lu kenal dia?" tanya Bagas.

Rudi menggeleng. "Belum pernah liat, tapi namanya cukup besar sejak SMP. Dia ga pernah muncul di permukaan kancah tawuran, wajar kalo ga banyak yang tau. Tapi yang jelas, dia ga bisa ditanganin segampang itu. Jadi, kita bakal perang abis-abisan."

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang