27 : Persiapan Perang

104 19 0
                                        

Saat senja mulai meredup, Frinza selesai bekerja di bengkel keluarga Kenny.

"Beh, saya balik dulu, ya," ucap Frinza.

Babeh Kenny yang sedang duduk istirahat menatap pemuda itu. "Makan dulu ga?"

Frinza menaruh lap di atas meja, lalu menyeka peluh yang menetes dari pelipisnya dengan punggung tangan.

"Kagak kayaknya, Beh. Ada urusan di rumah," jawab Frinza.

"Ya udah, kalo gitu hati-hati," balas Babeh.

Kenny masih terlihat sibuk membongkar mesin motor salah satu customer. "Urusan apaan lu?"

"Rahasia keluarga," jawab Frinza sambil terkekeh.

Tanpa banyak bicara, Frinza memakai seragamnya kembali, lalu mengambil tas dan pergi.

"Heh, kalo ada apa-apa cerita lu, ya!" teriak Kenny pada Frinza yang sudah berjalan keluar bengkel.

"Iye ah, bawel lu tonggos," ucap Frinza singkat.

***

Suara pintu pagar yang bergemerincing membuat Edwin menoleh dari kursinya. Lelaki itu sedang duduk santai di beranda rumah. Ia mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang dengan dasi hitam yang tampak longgar. Lengan kemejanya tergulung hingga ke siku, dan sebatang rokok menyala tergenggam di sela jarinya.

Frinza memasuki halaman menuju teras.
"Di rumah ga ada siapa-siapa, Ed?" tanya Frinza.

Edwin tak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat pandangannya dan menatap Frinza sejenak, lalu mengangguk sekali.

Frinza menghampirinya. "Gua butuh lawan sparring."

Edwin mengangkat sebelah alis. "Sekarang?"

Frinza menatap lurus ke arah lelaki dingin di depannya.

"Jumat ini ada lomba simulasi perang buat mata pelajaran pramuka, au ... aneh bat dah itu sekolaan. Kalo gua masih bisa berdiri abis lawan lu, berarti gua udah pasti jadi orang yang berdiri terakhir di acara pramuka itu."

Asap rokok mengepul tipis dari jemari Edwin. Ia menyeringai kecil, lalu berdiri perlahan.

"Siap-siap sana. Sepuluh menit lagi kita ketemu di sasana," kata Edwin datar.

Tanpa banyak kata lagi, Frinza melangkah masuk ke rumah dan bersiap-siap untuk latihan tanding dengan guru lamanya.

***

Karena sadar tak punya banyak teman yang bisa diajak melawan Jotun Jumat ini, Frinza fokus pada dirinya sendiri. Berangkat dari kesadaran itu, ia ingin meningkatkan diri dengan jalan pintas meskipun jalurnya terjal.

Edwin bukan tipe orang yang banyak bicara. Di ruang sasana, ia sudah menunggu.

"Aku tidak tahu apa alasan utamamu ingin berlatih, tapi kalau kau ingat metode ku melatih, artinya kau harus benar-benar siap."

Frinza tersenyum. "Oke."

Pertandingan latih tanding pun dimulai. Frinza lebih banyak menahan daripada menyerang.

Sebuah pukulan hook dari Edwin menghantam pipi kirinya. Frinza membalas dengan melancarkan jab cepat. Namun, lagi-lagi berhasil diblok dengan mudah oleh Edwin.

Selama dua ronde penuh, Frinza dihajar habis-habisan. Tapi tak sekalipun ia meminta berhenti. Di ronde ketiga, Edwin melayangkan tendangan rendah, tapi Frinza membacanya. Pemuda itu menghindar dan membalas dengan uppercut.

Edwin terkena serangan telak dan terdorong mundur.

Senyum tipis muncul di wajah Frinza.

Namun, di ronde ketiga pun, hanya itu yang bisa Frinza berikan. Begitu sesi selesai, Edwin menghampirinya.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang