Pagi itu, Gemma dan Broto duduk di meja makan saat Frinza berjalan keluar dari kamarnya.
Frinza sudah mengenakan seragam putih-abu dengan rapi. Sangat kontras dengan wajah babak belurnya.
"Riasan wajah yang pantas untuk anak jalanan," ejek Gemma.
Anak pertama di keluarga itu mengenakan jas formal. Ia tampak rapi seperti biasa, rambut disisir licin, dan dasi terikat sempurna.
Frinza melihatnya dengan kekehan tengil. "Lu mau maen sulap apa mau ke mana sih rafi ahmat pake jas?"
Broto hanya melirik tajam pada Frinza lewat atas koran bisnisnya. "Sekolah yang benar. Perusahaan butuh orang yang berguna, bukan preman. Kalau kau mau buang-buang waktu di jalanan, silakan keluar dari rumah ini."
Frinza duduk di ambang pintu sambil memakai sepatu. "Ini mau keluar, pas banget."
"Edwin, jangan antar Frinza. Biarkan anak itu belajar mandiri mulai sekarang," kata Broto pada Edwin yang juga berada di ruangan itu.
"Oke," jawab Edwin datar seakan tak peduli pada permasalahan mereka.
Frinza terkekeh. "Emang biasanya begitu. Bagus juga kalo udah ada statement resminya, jadi ga perlu lagi anter jemput kayak anak bayi."
Begitu sepatunya terikat rapi, ia bangun. Tak ada satu pun kata yang keluar. Frinza hanya menatap mereka sebentar sambil cengengesan, lalu pergi tanpa pamit.
Raut wajahnya berubah datar saat langkahnya menjauh dari rumah. Senyum tengil itu luntur menjadi wajah-wajah kesal. Frinza adalah orang yang ingin terlihat kuat, maka dari itu, ia tidak pernah menampilkan wajah orang kalah di depan keluarganya.
"Cih! Pagi-pagi udah bikin kagak mood aja. Mending bisnis ke luar kota sana! Jangan pulang-pulang," umpatnya seperti membaca doa keluar rumah.
***
Saat sedang menyusuri jalan menunggangi angkot biru, Frinza melihat beberapa anak SMA yang berjalan bersama dan masuk ke sebuah bangunan kumuh. Ia memicingkan mata berusaha membaca plang nama bangunan itu dari jarak beberapa meter.
"Galaxy Net ...," gumamnya lirih.
"Kiri, Bang," ucap seorang bocah.
Mobil angkot berhenti tepat di sebrang warnet Galaxy. Seorang anak SMP turun dari angkot yang Frinza tumpangi. Karena penasaran, Frinza pun ikut turun dan membayar ongkosnya.
Kepalanya masih pening dari semalam, dan kebetulan pagi ini moodnya lebih gelap dari awan hujan di Bogor. Ia mengikuti bocah SMP itu masuk ke dalam warnet.
Frinza berdiri di epan operator warnet. Ia menatap poster bertuliskan headline happy hour.
"Maen berapa jam, Bang?" tanya pria kumuh berambut keriting itu.
"Happy hour, Bang," jawab Frinza.
"Harus member kalo mau ikut paket pagi, Bang," ucap si OP warnet.
"Gimana cara membernya?" tanya Frinza.
"Bayar sepuluh ribu."
Tanpa pikir panjang, Frinza membayar uang member dan harga promo paket happy hour, dua belas ribu rupiah dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Ia duduk di bilik sebelah pojok dan tanpa banyak cincong. Setelah komputer menyala, Frinza langsung membuka game Warcraf 3 untuk bermain DoTA.
"Maen DoTA juga, Bang?" tanya pemuda di sebelahnya, yang duduk di pojok. Ia mengenakan seragam SMA dengan jaket yang digantungkan sembarangan di punggung kursi.
Frinza menoleh ke arahnya. "Hooh. Udah lama ga maen tapi."
"Di server apa?" tanyanya.
"Nusa Reborn. Lu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Fiksi RemajaMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
