16 : Deklarasi Merdeka!

103 15 3
                                        

Sepulang sekolah, Frinza, Kenny, dan Gita jalan bersama. Mereka bertiga baru saja keluar dari gerbang sekolah.

Kenny memulai lembaran barunya sebagai pejalan kaki akibat motornya dibunuh Frinza. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia jadi harus naik angkutan umum pulang dan pergi.

"Woy, Kenny!"

Baru saja berjalan beberapa meter melewati gerbang. Seruan dari arah warkop di seberang sekolah menghentikan langkah mereka.

Mereka bertiga menoleh ke arah bangunan dengan spanduk Warkop 99 tersebut, sarang anak-anak Jotun Wrath saat jam pulang sekolah. Di bagian luarnya, berdiri tiga anak basis. Salah satunya adalah si Bima, anak buah Andre yang lengan bajunya digulung melulu.

"Gimana kabar nyokap lu, Ken? Masih nyuci buat makan, ya?" teriak Bima sambil tertawa.

"Pantes susah bener disuruh bayar setoran!" timpal anak basis lainnya.

"Sabar, Ken," bisik Gita. "Ayo, cepet pergi aja."

"Mau ke mana sih, buru-buru amat, Neng?" ledek Bima saat melihat Gita mempercepat langkah sambil menarik lengan Frinza dan Kenny.

"Mereka kenapa sih?" tanya Frinza sambil berjalan cepat ditarik Gita. Satu tangannya mencari harta karun di lubang hidung. "Kayaknya benci banget sama lu, Ken?"

"Gara-gara si Kenny ga mau gabung sama mereka, jadinya diincer terus dari kelas satu," jawab Gita.

Di dalam warkop ada Andre dan juga Bagas, tapi pentolan-pentolan Jotun itu tidak ikut menghina Kenny, mereka paling hanya ikut tertawa saja.

"Jangan maen ama Kenny, ntar ketularan miskin!" seru Bima. "Emaknya kuli cuci, tapi baju anaknya kagak bersih!"

Dua temannya ikut terbahak. "Eh, kalo mau cepet kaya, suruh nyokap lu jual diri aja, Ken, biar lu bisa bayar setoran ampe tahun depan!"

Tawa mereka meledak. Gita terkesiap menatap Kenny yang langsung menunduk. Kedua tangannya mengepal erat, kukunya mencengkeram kulit telapak sampai terluka. Napasnya mendadak berat. Namun, ia tidak bergerak. Kenny hanya menunduk diam. Ia mencoba menelan harga dirinya demi ibunya. Demi janji pada ayahnya. Demi hidupnya yang tidak punya banyak ruang untuk kesalahan lagi.

"Ken, jangan kemakan provokasi mereka," ucap Gita. "Mereka emang keterlaluan, tapi—"

Namun, tiba-tiba ... angin kencang lewat mengibas di sampingnya. Kenny terbelalak saat menyadari bahwa seseorang berlari melewatinya secepat kilat.

"FRINZA!" teriak Kenny. "JANGAN!"

Tapi pemuda itu sudah tak bisa dihentikan.

Frinza menerjang ke arah warkop dengan ekspresi penuh gusar. Tanpa sepatah kata, ia menendang meja sampai terjungkal. Gelas kopi tumpah, piring-piring di atasnya pecah, dan suara meja jatuh menjadi instrumen utamanya.

"Bangs—" Bima belum sempat bereaksi ketika sebuah pukulan mendarat tepat di rahangnya, membuat pemuda itu ambruk ke lantai warkop. "AARRGH!"

"BANGSAT!" Seorang lagi mencoba menyerang Frinza dari belakang.

Namun, Frinza berbalik badan dan meninju ulu hatinya. Anak itu muntah dan tersungkur.

Satu anak terakhir mencoba menerjang, tapi Frinza menyambar kerah bajunya dan melemparnya ke tembok warkop dengan keras.

"Oi, oi, apa-apaan nih?" gumam Bagas. Salah satu dari tiga Jendral raksasa itu akhirnya bangun dari singgasananya.

Andre juga ikut bangun dan menatap ketiga basisannya yang terkapar di lantai.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang