Genderang knalpot memecah keteduhan sore. Debu merah beterbangan saat dua motor itu melaju kencang di area kekuasaan para Mantra.
Frinza sudah jago mengendarai motor sekarang berkat bimbingan sang maha guru Kenny Harris Pratama. Sore ini, ia mengitari bus kuning Bon Voyage, dan melukis jejak roda yang melingkar di tanah sekitaran bangkai bus tersebut. Motor barunya persis seperti motor Kenny, tapi warnanya biru.
Di sisi lain, motor Kenny sudah berhenti. Pemuda itu hanya diam dan duduk di jok melihat tingkah Frinza yang berusaha mengintimidasi bocah-bocah di dalam bus tersebut.
"Frin! Penguasa tanah merah udah nongo tuhl!" seru Kenny sambil menunjuk dua anak kecil yang keluar dari dalam bus.
Dirga tidak pakai baju, tapi memakai celana merah SD. Sedangkan Tirta sudah mengenakan kaos dan celana main.
Frinza berhenti sambi menyeringai. "Yo, adik bodoh!" sapanya. Ia turun dari motor dan melakukan perenggangan.
"Ngapain sih lu ke sini lagi, hah?!" teriak Dirga dengan nada gusar. "Perg—"
Belum sempat Dirga menyelesaikan kalimatnya, Frinza berlari dengan cepat, lalu menjepit kepala Dirga dari belakang dan mengacak-acak rambutnya.
"Mulai sekarang, ini tempat bakal jadi arena balap gua ama geng motor gua!" ucap Frinza.
"Woi! Lepasin pala gua!" Dirga berusaha melepaskan diri, tapi Frinza mengencangkan jepitannya sambil tertawa. "Gua ga akan biarin lu ngambil rumah gua!"
Tirta ikut maju. Ia mendorong tubuh kakaknya dengan kedua tangan. "Lepasin Dirga!"
Frinza melepas Dirga dan mendorongnya ke samping, lalu meraih leher Tirta dengan satu tangan dan mencekiknya. "Jadi, lu mau gantiin Dirga buat disiksa, hah?"
Keributan itu memancing perhatian para Mantra yang sedang bersembunyi di dalam bus. Uchul, Andis, Ajay, dan Tama berhamburan keluar.
Frinza menoleh ke arah Kenny, lalu menyeringai. "Lu lawan empat keroco itu. Biar gua beresin bos mereka."
Kenny menghela napas berat. Sejujurnya, ia malas terlibat perkelahian tidak berguna dengan anak-anak itu.
Namun, begitu Andis maju, Kenny langsung menjulurkan kaki menyandung kaki Andis hingga jatuh tersungkur. Uchul berusaha menyerang dari belakang, tapi Kenny menunduk sehingga Uchul malah nyungsep ke Ajay. Sementara itu, Tama hanya diam dan bersandar di badan Bon Voyage sambil menonton. Bocah cool itu tidak ikut-ikutan perkelahian tersebut.
"Gimana ini?" bisik Andis yang sudah sekarat.
"Kekeke, aku punya ide menarik," balas Uchul.
Si bocah iblis mata satu itu bangkit, lalu berlari ke arah motor Kenny. "Kita rusakin kuda perang mereka, kekeke!"
"Woi, mau ngapain lu, anjing?!" teriak Kenny yang urat marahnya mencuat di kening. Ia berlari kencang seperti anjing mengejar Uchul.
Andis dan Ajay ikut bangkit untuk menyerang motor Kenny dari arah yang berbeda. Kenny terlihat kewalahan karena ia tidak jadi berantem dan malah sibuk mengejar-ngejar bocah-bocah tersebut.
Di sisi lain, Frinza tidak main-main seperti Kenny. Dirga menyerang dengan ayunan tangan cepat, sementara Tirta mencoba menjegal kakinya.
Frinza memutar tubuh, lalu menahan serangan mereka sambil mendorong dan menjatuhkan Dirga dan Tirta ke tanah. Serangan Frinza cukup keras untuk membuat mereka kesal, tapi tidak sampai melukai.
"Ha-ha-ha, sadar lemah," ucap Frinza sambil terkekeh dan menunjuk-nunjuk mereka bergantian. "Ayo bangun, kita lanjut main adik bodoh."
Namun, pada satu titik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
