Langkah kaki Frinza terombang-ambing seperti daun jatuh di tengah angin malam. Ia tak tahu harus ke mana. Tak tahu siapa lagi yang bisa ia datangi malam ini.
Di pinggiran jalan, Frinza berhenti di depan seorang bapak tua penjual koran yang sedang merenung. Tangannya merogoh kantong celana, dan menghitung uang receh yang tersisa.
"Pak, Tempo, satu," ucap Frinza.
"2.500 rupiah, Dek."
Frinza memberikan uang terakhirnya yang tersisa tiga ribu rupiah pada bapak itu.
"Ambil aja gopek nya, Pak."
Bapak itu tersenyum. "Terima kasih, ya."
Frinza membalas senyum itu. "Sama-sama."
Pemuda itu melipat koran yang ia beli dan menyelipkannya ke dalam jaket. Setelah itu, ia kembali melangkah tanpa tujuan yang jelas. Namun, entah mengapa, tubuhnya berjalan menuju satu tempat yang selalu ia hindari saat sedang kuat dan selalu ia cari saat sedang rapuh.
Tanpa sadar, Frinza sudah berada di jalan setapak tanah merah yang penuh dengan batu nisan. Tidak ada penerangan di tempat itu. Hanya ada cahaya bulan yang mengintip malu di balik awan.
Ketika sampai di nisan bertuliskan nama Dinda Martawangsa, Frinza berhenti. Napasnya tercekat. Dadanya sesak, dan pada akhirnya ia jatuh berlutut.
"Bu ...." Suaranya lirih dan gemetar. "Frinza kangen sama ibu."
Tangisnya mulai merangkak keluar perlahan. Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Seperti seorang remaja yang kehilangan dunianya. Dan seperti seorang anak yang kehilangan pelukan. Sebuah pelukan yang dulu selalu siap menenangkannya setiap kali dunia terasa jahat.
"Kenapa harus ibu yang pergi?" gumamnya parau. "Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan yang tega ngebuang anaknya sendiri? Atau yang tega ngeludahin darah dagingnya demi martabat palsu?"
Air matanya mengalir terus-menerus. Deras, menyatu dengan tanah. Frinza menunduk, tubuhnya terguncang hebat. Ia menangis kejar sekejar-kejarnya.
"Satu-satunya hal yang Frinza pengen dari hidup ini tuh sederhana, Bu. Beneran sederhana ...."
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, tapi air itu tak berhenti mengalir.
"Frinza cuma pengen foto sekali aja, sekali aja, bareng kita semua. Ayah, Ibu, Gemma, aku, Dirga, Tirta. Duduk sebelahan di kursi kayu atau di mana kek. Foto keluarga yang beneran utuh. Yang bisa diliat, terus bikin hati tenang."
Nyanyian para jangkrik jadi satu-satunya jawaban untuk Frinza atas harapan-harapannya barusan.
"Di sekolah ... Frinza sering liat temen-temen yang dijemput ayah ibunya, Bu, meskipun mereka udah pada gede. Mereka bisa ngobrol bareng. Makan bareng. Ketawa bareng. Saling tanya kabar, ada apa hari ini di sekolah?"
Ia tertawa kecil di sela tangisnya. Getirnya luruh di antara lirih dan sesal.
"Frinza iri, Bu. Frinza iri sama mereka yang kalo pulang ke rumah selalu ditanya kabarnya. Apa susahnya sih nanya, gimana hari kamu di sekolah? Ada masalah apa? Timbang gitu doang, tapi ga bisa, Bu ...."
Frinza menarik napas panjang, lalu menatap langit yang suram sambil memeluk lututnya sendiri.
"Semua orang ninggalin Frinza. Rumah ga lagi jadi tempat pulang. Pacar Frinza milih cowok lain. Ayah ngusir Frinza. Dirga sama Tirta ... mereka benci sama Frinza. Padahal Frinza cuma pengen semuanya baik-baik aja ... tapi rasanya susah banget."
Ia menggigit bibir, menahan suara yang hendak pecah kembali.
"Maaf, Bu. Frinza gagal ...."
Frinza merebahkan tubuhnya di atas koran yang ia bentangkan pelan di samping gundukan makam ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
