Tanah merah kini dipenuhi oleh tubuh-tubuh tergeletak. Napas berat terdengar dari segala penjuru arah. Langkah lemah dari anak-anak Jotun yang masih sadar perlahan mundur menjauhi medan perang. Beberapa di antaranya menyeret kaki, sebagian lagi mencoba berdiri hanya untuk jatuh kembali.
Pasukan para raksasa telah dipaksa tunduk ke tanah. Menyisakan hanya empat orang yang masih berdiri tegak di sisi seberang tanah merah.
Rudi berdiri dengan kedua tangan di saku. Di sebelah kirinya ada Bagas yang sudah mengepal erat tangannya seolah menuntut dendam. Sementara di sisi kanannya ada Reynard yang berdiri sangat tenang seolah sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Dan di belakang mereka, Aksa tersenyum dengan tatapan haus darah yang tak pernah redup sejak awal.
Di sisi sebrang, basis Andre pun tak jauh berbeda kondisinya dengan pasukan Jotun. Enam orang itu tergeletak kelelahan, beberapa tak sadarkan diri, sisanya hanya bisa menatap punggung Frinza, Kenny, Andre, dan Arkanta.
Keempatnya kini berkumpul membentuk barisan baru. Mereka tidak terluka parah, tapi sangat tampak kelelahan.
"Empat." Frinza menunjuk satu per satu dari lawan di seberang. "Lawan empat."
Ia melirik Kenny dan Andre. Lalu menatap Arkanta.
"Ada request mau lawan siapa?" tanya Frinza.
"Bagas buat gua," kata Andre sambil melangkah ke depan. Tatapannya tak goyah memandang Bagas dari jauh.
"Reynard," ucap Kenny singkat sambil mengencangkan ikatan tali sepatu.
"Yakin lu?" tanya Frinza.
"Kalo ga yakin gua ga di sini dari awal," tegas Kenny.
Frinza tersenyum, lalu menoleh ke Arkanta. "Lu yang-"
"Rudi," ucap Arkanta memotong ucapan Frinza.
Frinza mengernyit. "Lu kalo mau ngambil panggung gua, better lu pergi dah."
Arkanta bergeming. Tatapannya menusuk ke bola mata Frinza.
"Kalo lu ga mau pindah target, gua hajar lu duluan dan lu resmi jadi musuh gua."
Arkanta menghela napas, ia tak punya pilihan lain di sini. "Ya udah. Gua sisanya."
Dari seberang, Rudi akhirnya melangkah maju. Setiap langkah kakinya berat dan memberikan tekanan pada keempat lawan di sebrang sana. Di belakangnya, Bagas, Reynard, dan Aksa berjalan bersisian seperti neraka yang siap menelan para pendosa.
Empat jenderal Jotun kini berdiri di hadapan empat orang yang menantang mereka.
Hening menjadi kuasa si tengah senja. Bahkan angin pun seolah menahan napasnya agar tidak memecahkan ketegangan di antara mereka.
Rudi menatap Frinza dari atas ke bawah.
"Orang macem lu pasti nyangka kalo diri lu itu pahlawan di dalem cerita ini ya?" tanya Rudi.
Frinza menyeringai. "Gua? Gua justru karakter sampingan yang capek liat tokoh utama goblok kayak lu dan-temen-temen lu, Bang."
Bagas meludah ke tanah. "Dre. Udah siap mampus lu?"
Andre mengangkat kepalanya. "Jawab pertanyaan lu sendiri."
Reynard menatap Kenny tak bergerak. "Lu masih berani muncul di depan gua?"
Kenny memasang tampang serius. "Sejak kapan gua ngumpet dari lu, anjing?"
Di sisi lain, Aksa berdiri diam menatap Arkanta. Matanya menyipit dan berusaha menilai manusia setengah OSIS di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
JugendliteraturMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
