11 : Tempat Terhangat

130 16 5
                                        

Bel berakhirnya kegiatan belajar-mengajar berbunyi. Murid-murid tumpah keluar dari kelas masing-masing. Beberapa masih asik mengobrol di balkon depan kelas, sebagian besar langsung bergerak menuju parkiran.

Di antara kerumunan itu, Frinza bersandar santai pada tembok pagar dengan kaki disilangkan. Satu tangannya masuk ke saku celana.

Hari ini Frinza cukup menjadi sorotan di sekolah. Maklum, lelaki itu tampil dengan segala kemewahan yang ia miliki untuk menarik hati Rania.

Frinza mengenakan kemeja putih dengan dua kancing terbuka seperti anak cowok di FTV. Ia juga memakai kecamatan hitam.

Di pergelangan tangan kirinya, berkilau jam tangan Rolex Datejust Two-Tone edisi terbaru, dengan kaca safir dan bezel emas. Setiap kali Frinza menyibak rambut ke belakang, jam itu menangkap cahaya sore, melahirkan pantulan silau yang membuat beberapa anak cewek menoleh risih saat terkena pantulan cahayanya.

Seolah itu belum cukup, ia mengenakan sepatu kulit Tod's asli berwarna karamel yang masih mengilat, seakan baru keluar dari kotaknya pagi itu.

Namun yang paling mencolok adalah sebuah cincin signet emas dengan berlian kecil di jari manis tangan kanannya. Cincin itu adalah simbol keluarga Martawangsa yang seharusnya hanya dipakai untuk pertemuan Sepuluh Keluarga Agung. Frinza tak pernah memakainya meskipun di acara penting, tapi justru mengenakannya ke sekolah. Karena hari itu, ia berniat flexing di depan Rania.

Baru saja disebut, perempuan itu langsung muncul dari tangga. Ia terpantau sedang berjalan bersama dua temannya, Tita dan Fira.

Begitu menyadari aura sange Frinza, Rania langsung merinding dan menghentikan langkahnya. Kedua temannya ikut berhenti dan berbisik sambil cekikikan.

"Tuh si pujangga dateng lagi, Ran. Tapi hari ini ... dia keliatan keren, ya?"

Rania mendengus. "Keren apaan! Norak kayak debt collector begitu."

Tapi meski bibirnya bicara sinis, matanya tak bisa sepenuhnya menghindari sorot kemilau jam tangan itu. Apalagi saat Frinza mendongak, menyapanya dengan senyum tengil dan melepas kacamata hitamnya dengan gerakan slow motion seperti efek drama Cina yang ia buat manual.

"Hey," sapa Frinza.

Rania memutar bola matanya dan berjalan hendak melewati Frinza dengan langkah terburu-buru. Ia mengabaikan lelaki yang di matanya terlihat bodoh itu.

Begitu Rania lewat, Frinza langsung meraih tangannya.

"Mau bareng ga? Gua kebetulan bawa motor hari ini."

Rania berhenti sejenak, lalu menatapnya dengan tatapan skeptis. "Lu punya motor?"

Frinza tersenyum. "Yoi. Kunci motor gua mana, Ken?" Frinza menoleh ke arah Kenny yang sedari tadi diam seperti patung di sebelahnya persis.

"Hah?" Kenny merebut kacamata hitam miliknya yang bertengger di kantong seragam Frinza. "Anjing. Minjem motor gua maksudnya?"

Frinza memberikan kode dengan kedipan mata. "Ken ...."

"Dasar cowok ga modal," ucap Rania. "Minjem barang mewah sama siapa aja lu?"

Gadis itu menarik tangannya dan lanjut melangkah. Kedua temannya tertawa geli di belakang sambil memberikan Frinza semangat dengan simbol genggaman tangan.

Seperginya Rania, Frinza menoleh ke arah Kenny dengan tampang kesal.

"Ah! Sialan lu, Ken! Ga peka banget jadi cowok," seru Frinza. "Jadi dikata tukang pinjem guah."

Kenny yang tadinya datar, tiba-tiba terkekeh. "Meskipun lu briefing dulu, gua ga akan mau minjemin motor gua. Apa lagi lu dadakan kayak tadi."

"Ganti rugi lu ah! Pokoknya malem ini gua numpang makan di rumah lu."

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang