24 : Perasaan yang Sesungguhnya

144 16 4
                                        

Frinza dan Kenny sedang mengantre cilor bersama para siswi random dari berbagai angkatan. Di kantin, hanya laki-laki dari XI IPS 3 saja yang berkeliaran saat periode waktu pengumpulan uang setoran.

Dari arah koridor, tiba-tiba saja semua siswi heboh. Bisik-bisik riuh membuat atensi terfokus ke arah kerumunan tersebut.

Frinza memicing menatap ke arah kerumunan di batas lorong dan kantin itu.

"Ada apaan sih rame-rame?" tanya Frinza penasaran. "Siapa yang ketabrak mobil?"

"Au, Pak Maman kali," jawab Kenny mengutuk guru paling killer di Adinata.

Dari kerumunan itu, seorang anak laki-laki berlari ke arah Frinza dan Kenny.

"Frin, Ken ...," panggilnya sambil terengah-engah.

"Kenapa?" tanya Frinza. "Lu digangguin?"

Anak lelaki itu menggeleng. "Bukan ... bukan gua ...."

"Pak Maman?" tanya Kenny.

"Bu—bukan juga," jawabnya.

"Terus?" tanya Frinza.

Anak itu menunjuk ke arah koridor. "Gita ... si Gita basah kuyup! Dia kayak orang abis dibully."

Di saat Frinza masih diam mencerna kata-kata barusan. Kenny sudah berlari menuju kelas mereka di lantai dua.

Melihat Kenny yang berlari sekencang itu, Frinza ikut berlari menyusulnya.

***

Kenny tiba di depan pintu kelasnya dengan napas terengah-engah. Ia menatap Gita yang pakaiannya basah dan menerawang. Gadis itu sedang membereskan buku-buku dan alat tulisnya.

Kenny mengambil jaketnya yang tergantung di belakang kursi, lalu berjalan cepat ke arah Gita.

"Git, lu pake dulu nih." Kenny menutupi tubuh Gita dengan jaket miliknya.

Gita tak menjawab, tapi membiarkan jaket Kenny memeluknya. Ia hanya fokus mengemasi barangnya sambil menangis.

"Lu kenapa? Mau ke mana?" tanya Kenny.

"Gua ... mau pulang," ucapnya tersedu.

"Gua anter, ya." Kenny tak bisa membiarkan gadis itu merasa sendirian saat ini.

"Ga usah." Gita memakai tasnya, lalu berjalan cepat ke arah pintu.

Begitu ia berada di depan pintu, tubuhnya ditabrak Frinza yang setengah berlari. Sebelum Gita jatuh, Frinza refleks menarik tangan gadis itu. Sejenak, mereka saling beradu tatap.

"Git, lu—kenapa?" tanya pemuda itu.

Gita tak menjawab. Ia melepaskan tangannya dari Frinza, lalu lanjut pergi meninggalkan kelas tanpa penjelasan.

Frinza sontak menatap Kenny. Ia bertanya tanpa suara. "Kenapa?"

Kenny menghampiri Frinza dengan langkah cepat.

"Lu kejar sana, temenin Gita. Anterin dia pulang," ucap Kenny.

"Kok gua?" Frinza mengerutkan kening. "Lu aja. Lu kan ada motor dan bisa naek motor."

Kenny mendorong Frinza pelan. "Udah, lu aja. Buruan."

"Kok lu ngatur-ngatur gua sih?" tanya Frinza. "Kalo lu mau temenin, lu aja yang anterin."

FrinzaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang