25 : Frinza vs Reynard

106 17 5
                                        

Ruangan kelas mendadak senyap dan mencekam. Aroma badai terendus kuat, datang bersama genderang perang. Kedua lelaki itu seperti dua serigala yang hendak menentukan siapa Alpha di antara mereka.

Frinza melesat cepat ke arah Reynard yang masih berdiri di tempat.

Namun, saat ketegangan memuncak, pintu kelas terbuka lebar dan meredakan ketegangan itu. Semua kepala refleks menoleh. Seorang guru laki-laki berkumis masuk dengan langkah cepat sambil menenteng map.

Frinza langsung improvisasi, seolah tak terjadi apa-apa. Ia merangkul pundak Reynard seperti teman akrab

"Bro, kita ketemu lagi ya pulang sekolah," ucapnya sambil tertawa lebar. "Nomor lu mana? Buat janjian ketemu. Di tempat gua aja, jangan di tempat lu. Gua cuma mau main berdua aja sama lu."

Reynard tidak langsung menjawab. Tatapannya dingin seperti es yang tak bisa dicairkan api. Namun, setelah beberapa detik, ia mengeluarkan ponsel dan menyodorkan layarnya pada Frinza. Nomor itu terpampang jelas di kontaknya sendiri, dan Frinza langsung mencatatnya di ponsel miliknya.

"Kalo lu yakin mau manggil badai, pastiin lu bukan daun kering," bisiknya.

Frinza menepuk pundak Reynad. "Aman. Gua cabut dulu ya, Bro." Ia berjalan ke arah pintu dan berpapasan dengan Pak Maman.

"Pak," sapanya sambil lewat dan pergi dari sarang para Raksasa.

"Ngapain kamu di kelas tiga?" tanya Pak Maman.

"Biasa. Silaturahim sama pacar dan abang-abangan saya, Pak."

Pak Maman menunjuk ke arah Reynard. "Siapa abang kamu? Reynard?"

"Iya, itu, dia," jawab Frinza sambil cengengesan dan melanjutkan langkah keluar kelas.

***

"Anjing!" pekik Kenny yang baru bicara lagi dengan Frinza, setelah sebelumnya merajuk. "Gila lu, ya?!"

Frinza masih sibuk mengorek hidungnya. "Kok gila sih?"

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tapi mereka berdua masih duduk di bangku masing-masing.

"Gua tau lu bisa ngalahin Bagas. Lu keren, lu hebat, lu beken, lu mantep!" kata Kenny. "Tapi Reynard beda urusan."

"Sama aja, beda orang doang. Kalah-kalah juga," sahut Frinza.

"Dia juara satu taekwondo berturut-turut dari SMP, tingkat kota, nasional, sampe internasional."

"Terus?" tanya Frinza. "Lu juga bukannya anak taekwondo? Waktu kita berantem dulu, cara lu nyerang itu kayak anak taekwondo."

"Iya, lu ga salah," jawab Kenny.

"Berarti aman. Orang paling kuat di taekwondo aja udah gua kalahin. Kalo gitu apa yang harus ditakutin?"

"Gua berhenti gara-gara dia," ucap Kenny dengan tampang serius. "Selalu jadi nomor dua itu bikin lu frustasi. Gua latihan keras setiap hari, tapi pada akhirnya Reynad yang selalu menang."

Frinza diam. Ia sangat paham, dan betul-betul paham perasaan itu. Selama ini ia berhenti latihan karena lelah tak pernah unggul dari Gemma. Sekeras apa pun ia berusaha, hasilnya tak pernah berubah.

Ia beranjak dari duduknya saat menerima SMS balasan dari Reynard. "Si kunyuk bilang bawa temen satu. Dia ga mau kalo gua kenapa-napa, dia yang repot ngurusin gua. Padahal itu buat dia sendiri paling."

"Lokasinya di mana? Tanah merah?" tanya Kenny.

Frinza tersenyum. "Kita yang atur, bukan mereka."

Ia berjalan pergi diikuti Kenny ke lokasi yang sudah ia berikan pada Reynard.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang