Sore itu, Frinza berjalan masuk ke toko bunga di dekat persimpangan jalan tempatnya dan Rania biasa bertemu. Warna-warna cerah dari berbagai jenis bunga memenuhi toko, tapi mata pemuda itu hanya tertuju pada satu jenis.
Tangannya merogoh saku, lalu menghitung lembaran uang yang tersisa. "Mawar berapaan? Tapi yang masih seger, yang durinya belum dipotong."
Penjual itu mengangkat alis. "Biasanya anak muda mintanya yang udah dirapiin."
Frinza terkekeh. "Saya bukan anak muda biasa."
"Buat pacar ya?" ledek si penjual.
"Iya, masa buat Pak SBY," balas Frinza.
"Kalo dia ketusuk duri gimana?"
"Bagus," jawab Frinza. "Biar saya ada alesan ketemu buat tanggung jawab ngobatin dia."
Penjual itu terkekeh sambil menyiapkan pesanan Frinza.
Frinza memilih dua tangkai mawar merah yang durinya masih tajam. Tak perlu ada pita, tak perlu dilapisi plastik. Ia hanya ingin datang dan bicara selayaknya seorang pacar. Banyak yang ingin ia bagikan malam ini. Tak pedul bagaimana nanti respons orang tua Rania. Frinza ingin bicara agar hubungan mereka terbuka. Ia sudah lelah dirangkul ketidakjelasan kabar.
Setelah membayar mawar itu dengan uang lebih tanpa mengambil kembalian, ia berjalan menuju rumah Rania. Frinza tahu di mana letak rumah gadis itu. Sebab, di pertemuan terakhir mereka, Frinza diam-diam mengikuti gadis itu sampai ke rumahnya. Ia tidak ingin Rania diganggu lagi.
***
Lampu jalan menyala temaram. Angin malam menyusup perlahan di antara celah-celah dedaunan yang bergoyang pelan di pinggir jalan. Jalanan kosong dan sepi malam itu, hanya ada suara sepatu dan detak jantung Frinza yang berdebar kencang. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah santai. Tangannya menggenggam dua tangkai mawar merah yang masih berduri, dibalut dengan kertas koran seadanya yang dibeli terpisah dari toko bunga tadi.
Ia bersiul pelan membawakan lagu cinta yang ia sendiri lupa judulnya. Entah karena memorinya tak cukup kuat, atau karena isi hatinya yang sedang terlalu penuh untuk mengingat detail kecil semacam itu.
Senyumnya mengembang, lebar, polos, dan lugu. Diiringi kekehan tipis yang menyembul dari kerongkongan.
"Dia pasti ga nyangka dapet surprise," gumam Frinza setengah tertawa menahan gemasnya sendiri.
Begitu sudah tak jauh dari rumah Rania, Frinza menghentikan langkah lantaran melihat gadisnya berdiri di depan pagar rumah.
"Nah, itu dia orangnya."
Ia menjilat telapak tangan, lalu menyisir rambutnya ke belakang. Senyumnya makin lebar. Di dadanya, detak jantung semakin menggila. Entah karena grogi atau bahagia. Mungkin keduanya.
Ia bersiap muncul dari tikungan menuju rumah Rania, tapi langkahnya kembali tertahan.
Sebuah motor melaju pelan dari arah berlawanan dan berhenti tepat di depan rumah Rania. Tepat setelah mesin dimatikan, seorang lelaki turun dari motor itu. Tubuhnya tegap. Rambutnya rapi. Bahunya lebar.
Frinza menyipitkan mata memandang lelaki itu. Ia berdiri membelakangi Frinza, tapi dari postur tubuhnya, cara jalannya, dan gelagat-gelagatnya, Frinza cukup yakin siapa orang itu.
"Reynard, anjing," gumam Frinza lirih.
Sebelum sempat menerka lebih jauh, kedua lengan Rania melingkar ke belakang leher lelaki itu. Wajah mereka berdekatan. Sangat dekat. Dan Frinza yakin, bahwa saat ini bibir mereka sedang saling melumat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
