"Ga sebat dulu nih di genteng?" tanya Kenny.
"Gua langsung cabut, Ken. Besok lagi dah."
"Besok lagi, besok lagi ... bayar lu, yak! Numpang makan mulu di rumah orang miskin. Ga ada harga dirinya lu jadi orang kaya," kata Kenny sambil terkekeh.
"Inget, Ken! Kekayaan itu bukan soal seberapa banyak yang kita punya, tapi siapa yang kita punya," ucap Frinza mengutip kata-kata hari ini dari Babeh Kenny.
"Ya udah, sono lu, lama!" seru Kenny. "Anjing."
Frinza terkekeh. Ia berbalik arah dan melangkah pergi dari rumah Kenny sambil mengacungkan jari tengah. Ia berniat pulang jalan kaki agar tidak terlalu cepat sampai ke rumah.
Pemuda itu berjalan menyusuri trotoar dengan langkah santai. Ia menyelipkan tangan ke saku celana sambil memandangi langit malam Jakarta yang tak berbintang.
Di persimpangan menuju rumahnya, Frinza melihat sebuah keributan di jalur yang tak searah dengannya.
Tiga pemuda lusuh dengan jaket bolong dan celana belel mengelilingi seorang gadis. Mereka tertawa cekikikan sambil melontarkan godaan yang agak terdengar dewasa. Salah satunya menggenggam botol miras.
"Ayo dong temenin kita minum, sekalian tidur nanti," kata salah satu dari mereka mencoba menyentuhnya.
"Kasian amat tuh cewek," ucap Frinza sambil terkekeh. Ia tidak peduli dan pura-pura tidak melihat.
"Apaan sih! Pergi ga!"
Frinza yang mulanya kurang minat terlibat, tau-tau menghentikan langkah. Ia kenal betul suara tinggi bernada penolakan itu. Suara khas gong-gongan anjing galak itu milik Rania.
"WOI!" teriak Frinza sambil berlari ke arah mereka. "Anak mana lu pada berani macem-macem di mari?!"
Ketiga pemuda itu refleks menoleh, tapi sebelum sempat mengambil sikap, satu dari mereka sudah dapat bogem mentah di pipi kanan. Frinza melompat dan menghantamnya dengan hook kanan yang keras. Pemuda itu terpelanting ke aspal dengan mulut berdarah.
"ANJING!" seru pemuda lainnya. "APA-APAAN NIH?!"
Dua lainnya langsung menyerang. Satu dari kanan, satu lagi dari kiri.
Frinza menunduk menghindari pukulan pertama dari kanan, lalu memutar tubuh dan menghantam lutut lawannya dengan low kick ke arah samping. Pemuda itu berteriak kesakitan dan jatuh terduduk memegangi kakinya.
Yang satu lagi berhasil menyentuh bahu Frinza dari belakang, tapi Frinza dengan cepat mencengkeram tangan itu dan menarik tubuhnya maju, lalu membantingnya ke tanah.
"Bantingan Dewa!" seru Frinza memberikan nama asal pada serangan terakhirnya.
Pemuda itu terkapar di tanah sambil menggeliat kesakitan seperti cacing kepanasan.
Pemuda yang pertama dihajar berdiri limbung, lalu melihat kawan-kawannya yang sudah tergeletak di tanah. Ia panik dan mulai mundur. "CABUT, WOY!"
Dalam hitungan detik, ketiganya kabur terbirit-birit meninggalkan jejak kekalahan.
Di sisi lain, Frinza berdiri terengah sambil mengibaskan tangannya. Ia membalik badan dan menatap Rania yang masih gemetar ketakutan.
"Lu ga apa-apa?" tanyanya.
Rania mengangguk pelan. "Ma—makasih."
Frinza mengangkat tangan dan memotong ucapan Rania. "Kalo mau makasih, temenin gua makan. Gua laper soalnya."
Rania mengernyit. "Hah?"
Frinza mengedikkan dagu ke arah ujung jalan. "Makasih. Makan bersama kekasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Genç KurguMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
