Kini di tengah lapangan itu hanya ada dua manusia yang sedang menentukan nasib orang-orang di belakang mereka.
Satu, si aneh yang tidak pernah terlihat serius dan selalu cengangas-cengenges. Sementara yang satunya lagi terlihat tenang seperti ombak santai yang bisa menjelma tsunami kapan saja.
"Akhirnya," gumam Frinza yang terlihat excited parah, "Kita selesain semua masalah ini sekarang, Bang bambang."
Sang pemenggal raksasa pun tak mau membuang waktu. Dalam sekejap, Frinza melesat dari tempatnya berdiri. Kecepatan geraknya seperti kabut yang ditiup badai. Dalam satu tarikan napas, ia sudah berada tepat di depan Rudi dan melesatkan pukulan tangan kiri ke ulu hati.
Namun, Frinza terbelalak ketika tangannya justru terluka akibat menyerang Rudi. Ia seperti baru saja meninju sebuah dinding besi. Bulu kuduknya sontak merinding saat merasakan sebuah sensasi yang familiar.
'Sensasi ini lagi, bangsat?!'
Frinza mundur beberapa langkah seolah hampir saja terbunuh. Padahal Rudi belum melakukan apa-apa, tapi instingnya berteriak untuk mundur.
Tangan kirinya gemetar. Tinjunya menghitam di bagian bawah, seolah tulang Frinza baru saja remuk dan terluka dari dalam.
Frinza mengangkat tangannya, lalu menatap luka itu sambil tertawa geli.
"Ada-ada aja," ucap pemuda tengil itu. "Rudi Kuncoro, ternyata Kuncoro yang itu?"
Rudi tersenyum tipis. "Cepet pasang topeng lu kalo ga mau mati, Martawangsa."
"Topeng?" Frinza memasang senyum asimetris. "Setiap manusia kan-pasti pake topeng!"
Ia kembali melesat. Namun, Rudi masih diam di posisinya berdiri seolah sama sekali tidak merasa terancam.
"Frinza emang kuat, tapi Rudi ada di level yang beda," gumam Andre yang sedang duduk mengamati.
Kenny menyalakan sebatang rokok, lalu menatap sisa pertempuran mereka. "Yaaa, will see."
Frinza memberikan serangan-serangan kecil, tapi Rudi sama sekali tak memberikannya reaksi apa pun. Sang Raja para raksasa itu hanya diam seolah-olah seperti diserang lalat.
Keringat mulai menetes dari pelipis Frinza. Air tubuh itu bukan lahir dari rasa lelah, melainkan karena tekanan yang diberikan oleh lawannya.
Rudi masih berdiri di tempatnya berpijak. Ia sama sekali belum bergerak barang sejengkal pun, tapi tubuh Frinza sudah terluka hanya karena mencoba menyerangnya. Ada semacam perisai tak kasat mata yang melapisi tubuh Rudi dari dalam dan membuatnya keras seperti patung baja. Itulah teknik atma milik keluarga Kuncoro.
"Manikmaya," gumam Rudi. "Selama lu ga bisa matahin armor yang gua pasang, lu ga akan bisa ngasih kerusakan."
Manikmaya merupakan sebuah teknik dasar atma yang menjadi ciri khas keluarga Kuncoro. Mereka mampu memadatkan atma hingga mencapai wujud padat menyerupai besi dan menyebar ke seluruh permukaan tubuh. Pengguna teknik ini dapat bertahan dari hantaman keras, serangan senjata tajam, senjata api, bahkan suhu ekstrem. Namun, pemakaian berlebihan dapat membuat tubuh penggunanya menjadi terlalu berat dan lamban.
Frinza mengayun-ayunkan tangannya yang memar sambil terkekeh. "Kasih keras, Bang. Boss terakhir emang harus keras dan kuat. Kalo gampang, ga ada artinya dikalahin."
Rudi ikut tersenyum sinis. "Ya udah, coba maju aja. Gua ga akan nyerang lu balik sebelum lu pantes buat dilawan."
Alih-alih gentar, Frinza malah menyeringai. "Menarik, sial."
Rudi tak berkomentar. Ia menjawab dengan perubahan aura di sekeliling tubuhnya.
'Sialan.' Frinza mengumpat dalam hati saat tekanan yang ia rasakan semakin berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Novela JuvenilMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
