"Hari ini kita ulangan dadakan," ujar Bu Juwita, juru kunci Geografi di SMA Adinata. "Kerjakan dalam waktu tiga puluh menit, setelah itu kita periksa bareng-bareng."
"Halah ...," lirih Kenny yang terlihat tidak siap menghadapi badai bernama ulangan dadakan. "Disuruh belajar aja nilai gua jelek mulu, gimana dadakan, anjing?"
Semua tampang mendadak lesu, kecuali Frinza. Pemuda itu tampak biasa aja.
"Isi asal aja, ga akan ngaruh ke nilai rapot juga," balas Frinza.
Soal dibagikan, dan sudden death pun dimulai.
"Yang udah selesai, langsung dikumpul di depan, abis itu boleh tunggu di luar," ucap Bu Juwita.
Selang lima menit ulangan berlangsung, Frinza tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia menjadi sorotan mata di kelas saat kursinya berdecit.
"Mau ke toilet lu?" tanya Kenny.
"Kagak. Mau ngumpulin lembar jawaban," jawab Frinza.
Kenny memicingkan mata. "Anjing ... menyerah lu?"
Frinza terkekeh. "Ga akan ngaruh ke rapot. Orang nantinya juga kelulusan kita cuma ditentuin lewat Ujian Nasional, bukan ulangan receh begini. Buang-buang waktu aja."
Kenny terdiam geleng-geleng kepala, sambil melihat teman sebangkunya yang berjalan ke meja guru membawa lembar jawaban.
"Kamu udah selesai?" tanya Bu Juwita.
Frinza mengangguk. "Udah, Bu."
Bu Juwita memicing. "Kok cepet banget?"
"Apa alasannya berlama-lama di pilihan ganda dua puluh soal?" tanya Frinza balik.
Gita melirik sebentar dari tempat duduknya, lalu kembali mengerjakan.
Frinza mengumpulkan kertas ulangannya, lalu berjalan keluar kelas dan langsung menuju tangga. Ia penasaran bagaimana keseharian Rania di kelasnya saat pelajaran berlangsung.
"Kangen juga lama-lama," ucap Frinza bermonolog. "Ditungguin setiap hari, tapi ga pernah SMS."
Begitu sampai di lantai tiga, Frinza berjalan ke kelas Rania dan mengintip dari balik jendela.
Pandangannya melayang, hingga mendarat di satu sosok gadis. Senyum itu mendadak tertekuk saat melihat Rania duduk sebangku dengan seorang laki-laki.
Laki-laki itu tidak asing. Ia adalah si tampan dingin yang waktu itu Frinza tabrak. Lelaki tersebut tampak tenang membaca buku, tak peduli pada pelajaran. Di sisinya, Gita ikut membaca buku yang sama sambil bersandar di bahu lelaki itu. Jarak mereka sangat dekat hingga berdempetan. Sesekali, Gita terlihat menahan tawa dan memukul manja lelaki tersebut.
"Tau gitu gua dorong ampe jatoh waktu itu!" gumamnya lirih.
Frinza terduduk di lantai sambil meremas dadanya. Rasanya sesak saat melihat orang yang ia suka dekat dengan lelaki lain. Rasa sakit itu tak bisa dibendung dan tak bisa dilawan.
"Ngapa lu, bego?"
Frinza yang terlihat seperti orang sakit jantung dan rebahan di lantai, perlahan mendongak. Ditatapnya sosok Bagas, salah satu Jendral Raksasa di depan pintu kelas. Bagas hendak masuk ke dalam kelas dan mendapati seonggok anomali mencurigakan di depan kelasnya.
Frinza bangun dan terlihat baik-baik saja. "Enggak, lagi latihan drama buat pensi."
"Pensi kan udah lewat," balas Bagas.
Frinza terkekeh. "Persiapan tahun depan."
Bagas memicingkan mata, lalu melangkah ke dalam kelas dan mengabaikan Frinza. "Aneh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
