10 : Queen

102 13 8
                                        

Hari silih berganti. Langit di atas SMA Adinata pagi itu tampak lebih cerah dari biasanya. Spanduk bertuliskan Pentas Seni Tahunan tergantung di gerbang sekolah, diiringi kerumunan siswa bepakaian bebas yang sibuk mondar-mandir menata booth dan panggung.

Hanya Frinza yang memakai seragam batik biru sekolah dan celana bahan putih. Ia menatap ke arah Kenny dan Gita yang mengenakan pakaian bebas.

"Lu kok pada ga ngasih tau gua sih kalo ada pensi? Jadi keliatan kayak orang bego gua, pake seragam sendirian," ucap Frinza.

"Cocok. Emang lu bego." Kenny ngakak brutal. "Lagian lu waktu ada pengumuman pensi malah nolongin warnet sih. Mampus lah."

"Ga apa-apa, Frin," balas Gita dengan kekehan tipisnya. "Biar disangka guru."

"Bangsat juga." Frinza berdecak kesal.

Di tengah keramaian pensi, Frinza berdiri seperti patung di antara kerumunan. Pada satu titik, matanya tertuju lurus ke atas panggung utama.

"Itu siapa, Ken?" Frinza menunjuk ke arah panggung.

Kenny memicingkan mata di balik kacamata gelapnya. Ia menatap personel band yang sedang bersiap-siap manggung. "Yang mana?"

"Yang cewek sendiri," jawab Frinza.

Kenny melirik sejenak pada Gita, lalu menjawab singkat tanpa menatap Frinza. "Rania. Kenapa?"

Di sanalah Rania berdiri. Sang vokalis yang digadang-gadang lebih bagus daripada guest star di pensi ini. Gadis itu terlihat sedang menyetem gitar sambil tertawa kecil dengan personel band nya.

Rambut hitamnya bergelombang indah, dibiarkan jatuh bebas. Jaket kulit dan boots hitamnya menyatu dengan aura panggung. Sorot matanya tajam, tapi senyum tipisnya membuat para siswa menoleh dua kali untuk bertamu ke parasnya.

Frinza tersenyum tipis. "Cantik ...," gumamnya lirih.

Gita menoleh ke arah panggung, lalu melirik cepat pada Frinza. Tampangnya mendadak canggung saat Frinza menyebut perempuan itu cantik.

"Biasa aja ah," kata Kenny. "Kayak anjing malah."

Frinza mengerutkan kening. "Dih, goblok lu, ya? Ga ngerti seni."

"Yang namanya fisik mah selera. Kalo menurut lu Rania cantik, menurut gua biasa aja," sahut Kenny.

"Susah ngomongin keindahan sama tukang pijet." Pemuda bodoh bernama Frinza itu menoleh ke arah Gita. "Lu kenal sama Rania, Git?"

Gita menggulung bibir, ia tampak sedang berpikir. "Tau aja sih, tapi ga kenal yang gimana-gimana. Soalnya dia kelas tiga. Dia juga Ratu di SMA ini, jadi popularitasnya tinggi. Mana level kenal sama cewek kayak gua."

"Ratu, ya? Berarti butuh Raja." Frinza terpana. Pandangannya terpaku pada sosok gadis bernama Rania itu.

"Lu rakyat jelata jangan aneh-aneh," ujar Kenny.

"Justru karena challenging, gua jadi makin tertarik. Kalo gua bisa bikin dia jadi pacar gua, artinya gua Raja, kan?"

Gita menghela napas berat. "Lu bakal ditolak sih. Soalnya dia udah punya Raja."

Frinza terdiam beberapa detik. Ia terlihat sedang menggunakan otaknya.

Kenny tersenyum puas. "Sabar ya, warga biasa. Rania udah punya pacar."

Frinza malah terkekeh. "Malah makin menarik! Ngerebut cewek orang itu lebih gampang daripada mulai dari yang sama-sama nol. Toh, mereka belom nikah. Cowok malang itu cuma jadi tempat singgah sebentar di hadapan gua. Makasih ya, pria baik ... udah jagain Rania selama gua belum hadir di sini. Sekarang karena gua udah ada, silakan istirahat. Cuma ada satu Raja buat satu Ratu."

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang