Mencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah.
Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
Gerbang besar kediaman keluarga Martawangsa terbuka. Frinza berjalan pelan masuk ke dalam halamannya sambil dipeluk hujan. Baru satu langkah memasuki halaman rumah, suara berat menyambutnya.
"Masuk ke sasana," ucap Broto yang baru saja keluar rumah utama menggunakan payung.
Belum juga tubuhnya pulih. Frinza sudah disuruh ke tempat latihan keluarganya yang berada di belakang rumah utama. Tempat itu adalah mimpi buruk anak-anak di keluarga Martawangsa. Kenangan di dalamnya hanya ada suara tinju dan ringis kesakitan.
Frinza menghela napas. Tanpa berkata-kata, ita berjalan melewati taman menuju sasana tua di belakang rumah. Sebuah bangunan kayu klasik dengan lantai tatami dan alat-alat bela diri yang menggantung di dinding.
Begitu pintu bangunan itu terbuka, di dalam sana para Dasamuka sudah berkumpul. Sepuluh pengguna topeng sakti dari keluarga Martawangsa tersebut sedang berkumpul dalam rangka rapat bulanan Martawangsa Corporation.
"Kenapa kau selalu saja membuat malu keluarga kita di, Frinza?" ucap Broto dengan suara rendah mengintimidasi.
Frinza hanya diam menunduk. Tubuhnya masih dipenuhi luka dan terasa perih akibat basah kuyup diguyur hujan.
"Seorang anak Martawangsa babak belur?" Broto tertawa, lalu tiba-tiba ekspresinya berubah datar. "Jangan membuatku tertawa, anak sialan."
Suasana malam itu agak mencekam. Broto menatap salah seorang anggota Dasamuka yang berbadan paling besar dan kekar.
"Bramono, beri dia pelajaran. Jangan berbelas kasih, anggap saja Frinza adalah ancaman yang harus dilenyapkan. Lawan anak itu dengan kekuatan penuh, seolah kau ingin membunuhnya."
Satu orang anggota Dasamuka bernama Bramono itu melangkah ke arah Frinza. Pria bertubuh kekar tersebut memiliki aura yang tak kalah mencekam dari Broto. Di tangannya, sebuah topeng tergenggam dan siap bertempur.
"Buang tasmu, Frinza," ucap Bramono.
Frinza menghela napas dan melepaskan tas ransel yang ia kenakan, lalu melemparnya ke lantai tanpa basa-basi.
"Kokohkan jiwamu, Gunung Sari." Bramono mengenakan topeng Gunung Sari di wajahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tunjukkan pada anak itu, kalau Frinza Martawangsa bukan siapa-siapa!" seru Broto pada Bramono.
Frinza memasang kuda-kuda. Dengan cepat ia melesat ke arah Bramono dan memberikan tendangan berputar. Bramono sama sekali tidak bergerak saat kaki Frinza menghantam kepalanya.
Suara tulang berbunyi nyaring di dalam sasana. Frinza mengatur ulang posisinya saat kembali berpijak dengan kaki kanan terpincang-pincang.
"Bangsat ...," gumam Frinza lirih sambil menatap kakinya yang terluka. Rasanya seperti baru saja menendang tembok dengan keras.
Bramono masih belum melakukan pergerakan. Ia tidak membalas sama sekali. Pria itu hanya menatap acuh dari balik topengnya.
Merasa diremehkan, Frinza mulai panas. Ia menerjang dengan sisa-sisa tenaganya. Tinju lurus menghantam dada Bramono. Namun, lagi-lagi malah tangan Frinza yang retak karena memukul Bramono. Ia jatuh berlutut sambil menahan rasa sakit.