13 : Permainan Belaka

122 16 3
                                        

Keesokan harinya merupakan hari yang anomali untuk Rania. Pasalnya, setelah semalam resmi berpacaran dengan mode backstreet, Frinza malah muncul di kelasnya seolah-olah tidak paham apa itu backstreet.

"Cie, cie. Pagi-pagi udah disamperin," ledek Tita.

Wajah Rania mendadak jutek. "Ngapain sih tuh orang?"

"Ya ngapain lagi emangnya? Nyamperin belahan jiwanya lah!" sahut Fira sambil tertawa bersama Tita.

Frinza duduk manis di salah satu bangku kosong tepat di seberang meja Rania. Seperti biasa, wajahnya ceria, lengkap dengan senyum tengil. Ia membawa dua roti telur gulung dibungkus kertas nasi. Salah satunya disodorkan pada Rania.

"Pagi, Nona," sapanya lembut. "Nih buat kamu."

Rania mengangkat alis. "Cari mati lu, ya? Ngapain sih ke sini?"

Frinza menggigit rotinya sendiri. "Cuma mau silaturahmi aja. Denger-denger, silaturahmi memperpanjang umur."

"Pergi ga lu," ucap Rania. "Umur lu malah pendek kalo ke sini!"

Frinza terkekeh. "Ah, suka gitu."

Rania menghela napas berat. Karena perempuan itu tahu bahwa Frinza tipikal manusia kepala batu, ia kembali sibuk pada bukunya, berusaha mengabaikan Frinza. Namun, lelaki itu tetap duduk di situ sambil memandang Rania tak bosan-bosan, meskipun wajahnya ditutupi buku. Malah, semakin Rania mengabaikannya, semakin ngeloyor Frinza.

"Suka baca buku?" tanya Frinza berbasa-basi. "Aku punya banyak buku di rumah, mau?"

"Ga. Ga butuh," jawab Rania singkat dengan nada ketus.

"Buku tulis  tapi," lanjut Frinza sambil terkekeh.

Tita dan Fira ikut tertawa mendengar jokes Frinza.

Tak berslang lama, bel masuk berbunyi, menjadi nyanyian indah bagi Rania, dan petaka bagi Frinza.

"Aku pamit dulu. Besok ke sini lagi." Frinza berdiri, lalu berjalan keluar kelas dengan ringan kaki.

Rania hanya diam dengan tampang sebal. "Ngapa sih tuh orang?"

"Ngomong-ngomong, dia kok jadi manggilnya aku-kamu sih ke lu, Ran?" tanya Tita.

Terbesit senyum tipis di bibirnya. "Lu mau tau ga sih?"

Tita memicingkan mata. "Apaan?"

Rania merangkul Tita dan Fira, lalu berbisik menceritakan apa yang terjadi semalam dan mengapa lelaki itu ada di kelasnya barusan.

Di sisi lain, Frinza hendak turun dari lantai tiga menuju lantai dua. Ia sibuk nyengir dan berfantasi baik, hingga tak sadar bahunya menghantam seseorang cukup keras di belokan tangga.

"Ow, sorry, sorry!" ucap Frinza.

Sebuah buku tergeletak di lantai akibat benturan itu. Frinza buru-buru membungkuk, dan mengambil buku tersebut. Namun, tangannya sempat berhenti sejenak saat menatap judul buku itu: Kafka on the Shore.

Tapi tak berselang lama, ia mengambilnya dan mengembalikannya pada kakak kelas lelaki yang ia tabrak barusan.

"Nih, Kak bukunya. Sorry, ya," sambung Frinza lagi.

Kakak kelas itu punya ekspresi wajah yang dingin seperti Kenny. Seragamnya sangat rapi tanpa lekukan, dan memiliki aura yang membuat orang segan berada di hadapannya. Ia menerima bukunya tanpa respons yang berarti, lalu kembali melangkah tanpa sepatah kata pun.

Frinza menoleh dan menatap punggungnya yang perlahan menjauh, sampai masuk ke dalam kelas Rania. "Orang apa arwah pemasaran, ya?"

Tanpa ambil pusing, Frinza kembali menghadap depan dan melanjutkan langkah pulang ke kelasnya.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang