23 : Hancur

108 16 0
                                        

Total, sudah satu minggu Frinza tak masuk sekolah. Senin ini SMA Adinata dibuat geger karena pemuda itu tau-tau tiba di depan gerbang sekolah di antar mobil Alphard keluaran terbaru. Begitu ia turun, semua mata memandangnya. Frinza menjadi sorotan utama karena kemewahan yang ia bawa pagi itu.

"Ga masuk-masuk. Ga ada kabar. Tau-tau dateng naik Alphard, jadi pusat perhatian satu sekolah. Dasar caper," ucap Gita yang kebetulan juga baru saja tiba di depan sekolah. Ia menatap wajah Frinza yang masih tersisa sedikit bekas luka. "Lu baik-baik aja, kan?"

Frinza tersenyum pada gadis itu. "Kalo jahat-jahat aja, gua ga sekolah, tapi di penjara."

Mobil Alphard yang dikendarai oleh Gemma mulai bergerak kembali dan pergi meninggalkan Frinza.

"Itu mobil lu?" tanya Gita.

"Iya, seminggu ini gua ikut MLM pesugihan. Jadi gua tinggal di kuburan buat nyari kekayaan," jawab Frinza.

Gita menggeleng sambil menggesek jari telunjuk di jidatnya. "Sinting."

Frinza terkekeh dan melanjutkan langkah menuju kelas bersama Gita. Mereka berbincang perihal tugas-tugas dan seputar info sekolah.

Tanpa mereka sadari, sepasang bola mata menancap tajam ke arah mereka.

"Gatel banget tuh cewek. Langsung di deketin si Frinza begitu dateng naik Alphard," ucap Tita.

"Parah! Kalo gua jadi lu mah, gua labrak, Ran." Fira ikut mengompori.

Rania tak merespons ucapan mereka. Ia hanya diam sambil melamun dengan tatapan kosong. Tangannya terkepal keras seolah menahan ledakan emosi.

***

"ANJING!" Kenny menunjuk sosok Frinza yang muncul di depan pintu. "Gua kira udah mati lu."

Frinza terkekeh dan berjalan santai ke kursi kosong di sebelah Kenny. "Mati itu cuma kata sifat yang menunjukan bahwa tidak ada hidup di satu tempat, termasuk raga. Iya, kemarenan sempet mati gua, tapi sekarang udah idup lagi."

"Gua kayaknya sempet liat lu dah di depan rumah gua waktu malem kapan gitu, tapi gua pikir orang gila karena jalannya pincang kayak zombie. Setelah lu ga masuk-masuk, gua kepikiran ... jangan-jangan lu gila?"

Frinza memandang Kenny sambil memasang senyum tengil khasnya. "Siapa pun itu, bukan gua. Soalnya wajar, kalo orang selain gua lewat aja di depan rumah lu. Siapa yang kepikiran silaturahim ke rumah orang miskin? Yang ada, mampir-mampir pulangnya diutangin. Gua mah jelas, karena temen lu aja."

"Anjing," gerutu Kenny. "Kalo gua tau rumah lu, gua malingin mulu dah."

"Coba aja kalo bisa," balas Frinza. "Paling mati lu liat harta berserakan."

"Bodo amat, anjing! Seenggaknya, kalo lu sakit lagi, gua bisa jenguk. Persetan sama harta lu."

Frinza terdiam. Ia membuang muka dari si anjing itu. Terukir senyum tipis di bibirnya. "Halah, ga usah. Kayak sanggup aja lu beli parcel buat jenguk."

Selain solid, terkadang, persahabatan laki-laki itu lebih romantis daripada persahabatan perempuan. Bedanya, mereka jarang mengungkapkan perhatian dan cenderung terlihat tak acuh. Padahal, satu dipukul, yang lain menggonggong tak tinggal diam.

"Jotun masih ke sini nagih duit?" tanya Frinza tanpa menoleh.

"Ga pernah," jawab Kenny. "Tapi di luar kelas, anak kelas kita sering kena konflik sama mereka. Ga parah, tapi cukup bikin ga nyaman."

Frinza menghela napas. "Gua hajar aja kali ya ke atas biar lenyap?"

"Gila lu, ya?" Kenny melepas kacamata gelapnya. "Mau mampus lu?"

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang