22 : Bahasa Tangan

113 19 2
                                        

Rumah itu masih berdiri gagah seperti benteng yang menyimpan kemarahan. Frinza berdiri di depan gerbang sambil menghela napas berat. Setelah ia sudah siap, Frinza berjalan masuk menyusuri halaman dan terus berjala ke rumah utama.

Ketika baru saja memasuki rumah, ia menangkap hadir Gemma di ruang tengah. Anak tertua Broto itu sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

Frinza berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk lebih dalam. Pemuda itu hanya diam tak bersuara menatap Gemma.

"Ngapain pulang?" tanya Gemma tanpa menoleh.

Frinza menyeringai kecil. "Nyari lawan. Ayo sparing."

Gemma menghentikan kegiatannya, lalu menatap adiknya. Tatapannya tak berubah, masih dingin seperti biasanya. "Badanku bukan samsak emosi mu, Frin."

"Gua mau balik latihan kayak dulu lagi," balas Frinza. "Kalo lu takut, gua cari orang lain yang berani."

Gemma menghela napas panjang, lalu bangkit dari duduknya. Tanpa menoleh, ia melangkah pergi.

"Ayo ke Sasana."

Frinza terkekeh. Ia berjalan dengan tengil mengikuti Gemma menuju Sasana.

***

Di tengah sasana, Edwin terbaring santai di lantai tatami. Sebuah handuk kecil menutupi matanya.

"Mau latihan tanding, kah?" tanya pria itu pada Gemma dan Frinza tanpa melihat

"Ya," jawab Gemma singkat. Ia berdiri di atas matras dengan postur tegap. Wajahnya datar seperti biasa. Namun, dari caranya mengencangkan sarung tangan, terlihat jelas bahwa ia tak menganggap remeh lawannya.

Edwin bangun, lalu menyingkir. Ia berdiri di pinggir sasana sambil bersandar di tembok. Pria itu tak mau ikut campur urusan apa pun di keluarga utama, dan hanya bersikap netral menjadi penonton.

Di sisi lain, Frinza sudah berdiri di depan Gemma. Luka-luka di wajahnya belum sembuh total. Masih ada lebam di pipi, pelipis, dan bibirnya. Bahu kirinya agak kaku. Kaki kanan dan tangan kanannya pun terluka cukup berat akibat pertarungannya dengan Bramono semalam.

Namun, sinar matanya sudah tidak lagi sama seperti kemarin. Hari ini Frinza lebih tenang. Lebih hidup. Seolah luka-luka di tubuhnya hanyalah goresan tipis yang tidak ada rasanya. Dan sebagian luka terdalamnya sudah ia jahit semalam di pelukan tanah makam ibunya.

Sejenak mereka beradu pandang, menakar kemampuan masing-masing. Sampai pada akhirnya, suara matras berdecit saat dua pasang kaki itu bergerak.

Gemma membuka pertandingan dengan langkah pertama. Ia tahu bahwa dirinya unggul dalam tinggi, kekuatan, dan ketahanan. Pukulan pertamanya melesat ke wajah Frinza.

Frinza memiringkan kepala. Angin dari pukulan Gemma lewat dan terasa berat di kulit. Pemuda itu mundur beberapa langkah. Ia tak langsung maju tanpa rencana. Frinza mengitari Gemma dengan sabar. Sesekali, ia mengubah arah langkahnya untuk membuat Gemma waspada dan terus memutar badan.

Mereka saling mengukur lagi. Ada bayak skenario simulasi di kepala Frinza tentang sebab-akibat pergerakanya. Namun, pada satu titik Frinza mencoba masuk dengan serangan cepat ke arah perut.

Lengan Gemma bergerak memblokir pukulan itu seperti tameng. Serangan Frinza belum cukup kuat untuk menembus pertahanan tersebut. Gemma membalas dengan pukulan telak ke ulu hati.

"Ughhh!" Frinza terangkat dari pijakannya dan terpental sedikit ke belakang.

Tanpa memberi ruang, Gemma maju lagi. Pukulan demi pukulan deras  menghajar Frinza seperti hujan deras.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang