Langit mulai menguning saat langkah kaki mereka tiba di rumah Kenny. Frinza masih menahan sakit di rusuknya.
"Aaa ... adaw!" Ia sesekali memekik pelan saat Kenny dan Gita bergerak terlalu cepat. "Pelan-pelan atuh."
"Lemah, anjing," balas Kenny.
Luka di pelipis Frinza sudah mengering, tapi lebam di wajahnya semakin kentara.
"Assalamualaikum, Mak!" seru Kenny.
"Waalaikumsalam. Lah, lah, itu si Prinja kenapa? Kayak maling abis dipukulin warga!"
Frinza mencoba berdiri tegak, tapi emak Kenny sudah lebih dulu maju dan memeriksa wajahnya.
"Ya Allah, lu abis berantem sama siapa, Prinja? Mikteson?"
"Enggak kok, Tan. Ketabrak mobil doang dikit," jawab Frinza sambil nyengir kuda.
Mak Kenny menatap tajam. "Bujug! Ditabrak mobil?!"
"Kagak. Dia itu emang tukang boong, Mak," ucap Kenny. "Abis berantem tadi dia."
"Berantem ame siape?" tanya emak Kenny lagi.
"Intinya, dia ga salah kok, Tante," ujar Gita lembut. "Frinza cuma ngebela diri aja."
"Ya udeh, mending hari ini lu pulang, ga usah gawein bengkel. Udah, lu istirahat aje dulu."
Frinza tertunduk. "Iya, Tante ...."
"Besok-besok kalo ada yang ngajak berantem lagi, lu ajak ngomong baek-baek. Jangan pake tangan. Jangan pake emosi. Kalo ada yang nyakitin lu, jangan disakitin balik. Biarin, urusan Tuhan nanti yang nyakitin dia."
Frinza hanya tersenyum kecil. "Kalo yang disakitin bukan saya gimana, Tan?"
Emak Kenny menatapnya sejenak, lalu menghela napas dan masuk ke dalam rumah. "Au dah, puyeng gua ngomong ama lu lama-lama."
Gita menggandeng lengan Frinza. "Gua anter lu pulang."
"Gua bisa pulang sendiri," balas Frinza.
Gita menggeleng. "Ga. Lu ga bisa. Pokoknya gua anterin."
Kenny menatap mereka berdua. "Gua tinggal dulu ya, sorry ga bisa anter lu balik."
Frinza terkekeh. "Aman, Ken."
"Ya udah, yuk ah. Keburu malem." Gita menarik Frinza. "Di mana rumah lu?"
"Ah, elah lu! Gua bisa pulang sendiri."
"Lu lagi sakit! Nanti kalo ketemu orang jahat gimana?"
Frinza menoleh dan menatap Kenny sekali lagi. "Tuh, udah ketemu. Aman aja."
Kenny hanya diam menatap Frinza dan Gita yang jalan bersama. Gadis itu menggandeng lengan Frinza yang jalan terpincang-pincang. Tanpa kata-kata, ia berbalik arah dan masuk ke dalam rumah.
***
Beberapa menit kemudian, mereka berdua tiba di danau belakang perumahan Gita.
"Lu kenapa malah ke sini sih, Dodol?!" tanya Gita ketus. Ia merasa ditipu. Gadis itu pikir mereka sedang berjalan menuju rumah Frinza, tapi malah dibawa ke danau oleh pemuda itu.
Frinza terkekeh. "Biarin, gua males buru-buru pulang. Lu kalo mau pulang, duluan aja."
Frinza duduk di pinggir danau dan Gita duduk di sampingnya. Sejenak, mereka dilumat bisu sambil menatap permukaan danau.
"Frin," panggil Gita, "Kenapa tadi lu segitunya sih majuin anak Jotun?"
Frinza tidak langsung menjawab. Matanya menatap jauh ke tengah danau dipeluk kebisuan. Sampai pada satu titik, ia menghela napas berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
