Senin pagi datang dengan malas, persis seperti Frinza yang muncul di kelas dengan senyum setengah ngantuk dan rambut berantakan.
Di meja sebelah, Kenny sudah duduk lebih dulu. Ia sedang melamun memandang keluar jendela. Bekas lebam di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Frinza langsung menyapa pemuda galak itu.
"Masih idup lu?"
Kenny menoleh. "Balikin kacamata gua, Anjing. Kebawa sama lu kan waktu kerja kelompok?"
Frinza tertawa geli melihat tampang Kenny. Gara-gara kacamatanya ia ambil, Kenny jadi pakai kacamata orang tua.
"Lah, itu lu udah pake kacamata," kata Frinza.
"Ini kacamata baca bapak gua, Anjing! Ga bisa. Tiap gua liat orang, jadi tiga orangnya pake ginian."
Frinza terbahak-bahak. Belum sempat ia membalas dan mengaku, pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan keras sampai terbanting ke dinding. Suara obrolan langsung sunyi. Tiga siswa kelas tiga berdiri di ambang pintu. Salah satunya tinggi dan berkepala cepak, satunya berkulit gelap dengan luka di dagu, dan yang terakhir pendek tapi bermata tajam seperti burung elang.
Satu hal yang sama. Mereka bertiga memakai jaket Jotun. Frinza langsung paham ini bukan kunjungan silaturahmi. Ketiganya menatap ke dalam kelas, mencari seseorang.
"Kenny mana, Kenny?" tanya si cepak.
Semua mata langsung menyorot ke arah Kenny. Hanya Frinza yang tahu alasan mereka bertiga datang ke kelas sepagi ini. Anak yang dipukulnya sabtu lalu ternyata punya label. Mereka anggota Jotun.
"Lu Kenny?" Ulang si cepak sambil menujuk Kenny. "Yang kemarin mukul junior gua?"
Kenny diam sambil celingak-celinguk. Ia pun tak tahu apa-apa. Kemarin ia tidak memukul siapa-siapa. Jangankan kemarin, rasanya sudah lama sekali ia tidak memukul orang lain.
Frinza ingin mengaku, tapi instingnya menahan. Ia mempelajari ekspresi Kenny dan melihat kebingungan di wajah lelaki itu. Frinza belum pernah lihat Kenny setegang itu. Biasanya Kenny lebih cuek dari genteng sekolah.
"Lapangan merah. Pulang sekolah. Kalo lu cowok, nongol, bangsat!"
Setelah berucap begitu, tiga anak Jotun itu keluar begitu saja, meninggalkan keheningan dan tatapan menggantung pada sosok Kenny Haris Pratama.
Beberapa detik berlalu sebelum kelas kembali gaduh. Gita langsung berjalan cepat ke arah Kenny dan menginterogasinya.
"Ken, lu ada masalah apa sama anak Jotun?"
Kenny menggeleng. "Entah, gua juga heran. Terlalu banyak keajaiban di muka bumi."
Di sisi lain, si bangsat hanya duduk santai di kursinya tanpa bilang apa-apa. Tak ada tampang-tampang bersalah di wajah Frinza. Yang ada hanyalah dorongan aneh dalam dirinya. Dorongan yang berkata, "Lanjutkan."
Entah karena bosan, atau karena dalam dirinya ada bagian kecil yang menikmati kekacauan ini. Pada dasarnya, Frinza memang bajingan.
"Eh, Ken. Ngomong-ngomong, kacamata lu gimana? Udah ketemu?" tanya Gita.
Kenny menatap Frinza. "Kacamata gua sama lu ga sih?"
Frinza menggeleng sebagai jawaban. "Ngapain gua bawa-bawa kacamata tukang pijet."
Ia duduk bersandar dengan kedua tangan yang bersembunyi di balik saku celana. Tangan kanannya meremas kacamata Kenny yang tadinya ingin ia kembalikan beberapa menit lalu, sebelum kekacauan ini hadir.
***
Lapangan itu bertanah merah seperti Padang darah. Gersang, ditandai oleh jejak motor, rumput kering, dan bau keringat dari sejarah tempur anak-anak sekolah. Tempat itu seperti panggung bagi kekerasan yang dilegalisasi secara diam-diam, oleh sistem sosial kancah tawuran para berandal terdidik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Roman pour AdolescentsMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
