7 : Rumah

133 21 9
                                        

Cahaya senja mulai memudar saat kumandang adzan maghrib menggema. Frinza terbangun dengan tubuh berdebu dan rasa sakit di sekujur tubuh. Ia membuka matanya perlahan dan menatap langit merah. Di sampingnya, Kenny tergeletak dengan napas tersengal, matanya terpejam, bibirnya robek, dan pelipisnya berdarah.

Tanpa berkata-kata, Frinza mendorong dirinya bangkit dan merangkak ke arah Kenny. Tangannya menyentuh bahu pemuda itu pelan.

"Ken, Kenny ... hwoy ... bangun, pulang yok."

Kenny menggeram, matanya terbuka perlahan. Wajahnya mengernyit saat melihat Frinza membungkuk di atasnya.

"Anjing ...," gumamnya lirih. "Ternyata semua gara-gara lu."

Frinza tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan lengan untuk membantu. Tapi Kenny menepisnya dengan kasar.

"Gua ga butuh bantuan," ucapnya angkuh. Ia memaksa berdiri, tapi tubuhnya limbung.

Frinza menangkapnya tepat waktu sebelum Kenny jatuh lagi.

"Ah, anjing! Homo lu, ya?!" bentak Kenny sambil berusaha melepaskan diri.

"Udah ah, terima aja ditolong! Gua yakin lu ga bisa jalan bener. Gua anter lu sampe rumah, sebagai permohonan maaf udah ngaku-ngaku jadi tukang pijet atas nama lu." Frinza terkekeh.

"Anjing," balas Kenny.

Ia membantu Kenny bangun dan berjalan. Frinza meletakkan tangan pemuda itu di atas pundaknya. Langkah mereka tertatih menyusuri jalanan tanah merah menuju jalan beraspal. Sepanjang jalan, Kenny terus mengoceh, suara seraknya penuh amarah.

"Sejak lu pindah ke sekolah ini, hidup gua jadi berantakan. Lu pembawa sial, Anjing. Gua ga butuh bantuan lu. Cabut aja lu sono."

Frinza menoleh. "Kalo lu mau ngasih perintah atau nyuruh-nyuruh orang, pastiin dulu lu lebih kuat dari orang itu."

Kenny berhenti melangkah. Matanya menyala seperti dipantik bensin. "Maksud lu—gua lebih lemah dari lu gitu?"

Frinza melepaskan tangan Kenny dari pundaknya dan menatap lurus ke matanya. "Meskipun mulut lu kasar suka anjing-anjingan, tapi lu ga ada ngeri-ngerinya. Gua ga akan nurut sama orang yang ga bisa buktiin kekuatannya. Orang dipukulin aja ga ngebales."

Kenny mengepal tinju, rahangnya mengeras. "Oke. Kalo gitu, kita selesain sekarang aja. Kalo gua menang, lu minggat dari hidup gua. Jangan deket-deket gua lagi. Pindah tempat duduk lu sono, Anjing. Pindah kelas kalo bisa, kalo perlu pindah sekolah lagi."

Frinza mengangguk. "Kalo gua yang menang, lu diem dan terima aja jadi temen gua, oke?"

Tanpa aba-aba, Kenny langsung menyerang. Tinju meluncur cepat ke arah Frinza, tapi Frinza miringkan tubuhnya untuk menghindar tipis. Serangan demi serangan menghujaninya, tapi Frinza seperti bayangan yang tak bisa Kenny sentuh.

"Cuma segitu?" tanya Frinza.

"Diem lu, Anjing."

Kenny serius. Dengan satu lompatan, pemuda itu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan belakang berputar yang nyaris menghantam pelipis Frinza. Frinza menunduk tepat waktu, rambutnya tergerai terhembus angin akibat serangan itu.

"Jangan cuma ngindar, Anjing!" teriak Kenny. Ia melompat mundur untuk mengambil jarak.

Frinza menatapnya, kemudian memasang posisi rendah dengan tangan terulur ke depan dan kaki belakang menapak mantap. Gerakannya tidak seperti petarung terlatih, tapi efisien seperti seseorang yang terbiasa bertarung di jalanan.

Kenny maju lagi. Kali ini ia makin cepat. Pemuda itu melompat dan memutar badan di udara mengeluarkan teknik Dwi Chagi. Tendangannya meluncur cepat mengarah ke kepala Frinza.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang