29 : PERANG

100 19 4
                                        

Lapangan belakang sekolah saat itu kosong. Satu-satunya keramaian justru ada di sudut tembok kusam yang dipenuhi coretan marker yang terletak tak jauh dari lokai sekolah. Di sanalah Frinza diam berdiri dengan napas berat. Pupil matanya kecil seperti seekor binatang yang kehilangan nurani.

Di hadapannya, seorang siswa berseragam dekil berdiri dengan wajah pongah. Namanya Valdi. Anak pengurus OSIS yang sombong dan terkenal licik.

"Woy, Frinza!" teriaknya. "Anak bengal modelan lu pasti lahir dari memek perek."

Ia menghina ibu Frinza di depan banyak anak buahnya dan tertawa bersama merendahkan pemuda yang selama ini mencoba bersabar tersebut.

Kalimat itu membakar urat sabar Frinza hingga gosong. Ia tak langsung bereaksi saat itu juga. Namun, Valdi tidak tahu bahwa ia baru saja menggali liang kuburnya sendiri.

Di saat tawa mereka mulai mereda, Frinza melangkah pelan seolah waktu melambat bersamaan dengan degup jantung mereka yang menonton dari kejauhan. Mereka yang cukup waras memilih untuk tidak ikut campur urusan Frinza dan Valdi.

Dan ... saat jarak mereka mulai terkikis, neraka pun turun ke bumi.

Frinza menerjang seperti binatang buas. Satu pukulan telak mendarat di wajah Valdi, memecahkan bibirnya. Valdi sempat membalas dengan dorongan, tapi itu hanya memicu kebrutalan yang lebih besar.

Frinza menekuk tubuh Valdi ke bawah dan melayangkan lutut ke arah wajahnya. Suara tulang hidung hancur membuat siapa pun yang menonton saat itu sontak merinding. Darah mengucur deras lewat hidung Valdi yang remuk. Tubuhnya roboh, tapi Frinza belum sudi berhenti. Ia naik ke atas tubuh lawannya dan menghajar Valdi habis-habisan tanpa belas kasih. Tangan dan wajah Frinza kini sudah basah oleh darah segar. Tatapannya kosong, seolah tak ada setitik pun cahaya di dalamnya. Dalam kegelapan matanya hanya diisi oleh kehampaan dan dendam. Sejak kematian ibunya, Frinza jadi pria yang sentimen pada siapa pun yang coba menyentuh harga diri ibunya.

Saat Valdi menggeliat mencoba lepas, Frinza memutar tubuhnya dan mencengkeram tangan kanan Valdi.

"Ampun!" pekik Valdi yang sudah tak mampu lagi melawan. "Ampun ...."

Namun, ada ampun. Frinza merespons ampunan itu dengan memutar tangan Valdi ke arah yang salah, lalu menginjak sendinya dengan seluruh berat tubuh.

KRAKK!

Tulang radius dan ulna kanan Valdi patah total. Struktur lengan bawahnya hancur permanen. Frinza baru saja memberikan jenis cedera yang bahkan setelah dijalankan operasi medis, tak akan pernah pulih dengan sempurna. Tangisan Valdi bukan lagi terkomposisi dari jerit ketakutan, tapi erangan kesakitan bercampur histeria yang mengoyak jiwa.

Namun, Frinza belum berhenti. Dan tidak ada seorang pun yang berani menghentikan atau memisahkan mereka. Frinza mencengkeram rambut Valdi, lalu menariknya ke atas dan menatap lurus ke matanya.

"Lu hina gua, gua tahan. Tapi lu hina nyokap gua ... darah lu halal ditumpahin," ucapnya dingin.

Wajah Frinza seperti siluet iblis. Satu sisi memar, satu sisi lagi berlumur darah, tak ada senyum di wajahnya.

Beberapa siswa mencoba mendekat, tapi langkah mereka kaku. Tak satu pun dari mereka berani melangkah lebih jauh seolah ada tekanan misterius yang membuat mereka ketakutan.

Butuh tiga guru dan dua staf keamanan sekolah untuk memisahkan tubuh Frinza dari Valdi yang sudah tak bergerak. Anak itu segera dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi sekarat. Berita itu menyebar cepat.

Sejak hari itu, semua penghuni sekolah sadar, bahwa Frinza Martawangsa bukan manusia biasa. Ia adalah titisan iblis yang tak punya hati nurani.

Satu minggu setelah kejadian itu, Frinza dikeluarkan dari sekolah dengan surat rekomendasi khusus.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang