Bus pariwisata sudah standby di lapangan SMA Adinata. Anak kelas 10 dan 11 hendak melepas masa-masa transisi sekolah mereka di daerah Bogor, tanpa kehadiran kelas 12 yang sebentar lagi akan Ujian Nasional.
Frinza diam tak bisa maju di pertengahan bus. Di depannya, Kenny tampak berseteru dengan beberapa anak-anak sisa peradaban Jotun.
"Woy, gua udah booking bangku belakang, Anjing. Pergi ga! Atau gua Jambak bulu pantat lu pada," ucap Kenny kasar.
"Booking ke siapa, hah?!"
"Minggir, minggir. Lu pada udah pada kagak punya otoritas lagi," sambung Andre yang masuk dari pintu belakang.
Beberapa anak sisa Jotun itu angkat kaki dan maju ke depan begitu Andre muncul.
Frinza terkekeh. "Parah lu berdua."
"Harus digituin biar sadar diri," balas Andre.
"Bodo amat, anjing." Kenny duduk di pojok kanan bus, pemuda itu langsung menutupi diri dengan jaketnya yang difungsikan sebagai selimut.
Frinza duduk di sebelah Kenny. Lalu, di sebelah Frinza ada Andre, dan dua orang anak basis.
Anak-anak berandal penghias kursi belakang itu tampak akrab. Tak ada kecanggungan di antara mereka. Andre dan enam anak basis yang kemarin membantu Frinza sudah seperti satu geng sekarang.
Begitu mereka semua duduk, suasana langsung pecah. Musik EDM campur dangdut remix meledak dari speaker, membuat anak-anak keterbelakangan itu kegirangan dan langsung ramai.
Namun, dari semua begundal yang duduk di belakang, rupanya ada satu pecinta damai.
"Woy! Volumenya kecilin, anjing!"
"Siapa itu anjing-anjing?!" seru Pak Maman sambil melongok ke belakang. Namun, semua mendadak diam. "Sekali lagi ngomong kasar, saya tampar pake kaki!"
"Iya, Pak, ampun," jawab para anak belakang.
Andre tiba-tiba saja tertawa. "Kicep si Kenny!"
"Bacot, anjing ...," lirih Kenny.
Frinza terkekeh sambil menatap keluar jendela. Dan tak lama setelah itu, bus mereka mulai bergerak maju.
Gita tiba-tiba muncul dari bagian tengah. "Pada mau camilan ga?"
Kenny langsung bangun saat mendengar suara Gita. "Mana? Mau dong."
Gadis itu memberikan beberapa camilan pada Kenny, tapi Frinza langsung merebutnya.
"Kenny mau bobok. Buat gua aja."
"Deh, anjing. Siniin ga kalo ga mau mati," ucap Kenny berbisik. Ia sudah trauma dimarahi Pak Maman.
"Kan elu yang mati," balas Frinza cengengesan.
"Kan bisa bagi-bagi itu, hey!" Gita mendengus sambil menggeleng.
"Iya, iya. Ampun." Frinza pun berbagi dengan Kenny, tapi saat Kenny hendak mengambil, Frinza menariknya kembali. "Eee—tapi boong!"
Gadis itu berjalan mundur balik ke kursinya sambil melihat pertengkaran Frinza dan Kenny yang sudah mulai intens seperti biasanya. Setidaknya gadis itu tahu, kalau Frinza sudah kembali normal.
Perjalanan berlanjut. Setelah keluar dari tol, jalan pun mulai menanjak, pemandangan hijau pegunungan Bogor terbentang di luar jendela. Udara sejuk menembus ventilasi bus. Beberapa anak sudah tertidur, yang lain sibuk bernyanyi lagu-lagu nostalgia.
Di bangku belakang, Kenny sibuk memandangi panorama tanpa peduli dengan keributan di dalam bus.
Frinza pun hanya bersandar sambil menatap pemandangan yang sama dengan Kenny, dengan pikiran yang mengembara entah ke mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
