18 : Brotherhood

152 16 5
                                        

Pagi ini, langit Jakarta di dominasi background biru dan tongkrongan awan putih. Kabut polusi tidak terlalu kental menyelimuti udara seperti biasanya.

Frinza berangkat ke sekolah mengenakan jaket hitam dan masker tipis. Seragam sekolahnya ia sembunyikan di balik jaket tersebut, sebab hari ini Frinza berniat bolos sekolah.

Ia sedang tidak ingin ke sekolah. Tidak hari ini. Maka dari itu, Frinza memutuskan menghilang ke tempat paling netral sejagat, yaitu warnet.

Lagi-lagi Galaxy Net. Sebuah warnet dua lantai dengan ventilasi minim dan aroma khas rokok menjadi pelariannya pagi itu. Di dalamnya, suara keyboard beradu dengan jari, klik mouse, dan speaker bocor menciptakan simfoni kekacauan yang baginya—cukup menenangkan.

Begitu membuka pintu, ia langsung melihat sosok Bambang yang duduk bersila di bilik nomor empat.

"Woy, Bud!" sapa orang itu tanpa menoleh.

Frinza tersenyum miring. "Lah, lu belom ngeliat aja, tapi udah tau gua yang dateng, Bang?"

"Langkah lu ada genderang perangnya. Lu tuh satu-satunya orang di sini yang pake Nevermore sanggup satu lawan lima, bikin musuh leave sebelum menit lima belas," jawab Bambang masih fokus di layar.

Frinza duduk di sebelahnya. "Bikin room baru. Gua ikut."

Frinza sudah punya member Galaxy. Ia punya sisa billing bekas waktu lalu. Namun, biar lebih hemat, ia tetap ikut happy hour. Setelah itu, ia langsung membuka Warcraft 3 dan masuk ke fitur BattleNet. Frinza memilih server NusaReborn, lalu login dengan akun miliknya.

Mereka pun mulai fokus dalam permainan DoTA. Bambang dan Frinza adalah simbolik dari kekacauan baik in game mau pun out game. Saling teriak, saling bacot, dan tawa jahanam yang lepas saat menghina musuh jadi bagian dari ritual tersebut.

Selama enam jam, dunia terasa tak punya beban. Tak ada sekolah. Tak ada Jotun Wrath. Tak ada luka. Tak ada keluarga yang sok iye.

***

Setelah puas bermain, mereka berdua berjalan di tepi trotoar Jakarta untuk mencari makan siang. Soto babat di depan warnet tutup, dan kebetulan pemuda yang mengenakan jaket bertuliskan YOUR SOUL IS MINE itu tidak bawa motor hari ini.

"Motor ke mana, Bang Bambang?" tanya Frinza.

"Di bengkel, lagi perawatan," keluhnya.

"Kayak cewek aja butuh perawatan?" tanya Frinza.

"Emang itu pacar gua sih," jawab Bambang. "Dipakenya gampang, tinggal colok kunci. Kalo pacar yang satu lagi agak susah makenya. Lobangnya ketutup."

"Padahal sama-sama dicolok ya, bang?"

Bambang dan Frinza tertawa dengan dirty jokes tersebut. Namun, belum juga reda tawa mereka berdua, tiba-tiba dari gang di depan, tiga pria muncul. Dua di antaranya bertubuh kekar dan besar, yang satunya lagi tampak kurus tapi punya tato di leher.

"Eh, eh, sini lu berdua," ujar si tato, kakinya menghalangi jalan mereka.

"Duit, duit. Buat beli rokok," sambung yang bertubuh kekar sambil mendekat.

"Ga ada duit," sahut Bambang cepat.

"Ga usah boong lu kalo ga mau mampus. Udah sini cepet!" bentak si kurus.

Frinza menghela napas, lalu hendak merogoh dompet. Ia tidak mau ambil pusing karena belum pulih dari luka kemarin. Namun, Bambang menahannya.

"Biar gua aja," ucapnya sambil merogoh kantong celana.

FrinzaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang