Senja mulai turun perlahan. Frinza duduk di kursi kayu sambil memandangi air yang memantulkan langit jingga. Kenny ada di sebelahnya, kakinya terjulur malas sambil memainkan batu kecil dan melemparkannya ke permukaan air.
"Duluan gih lu, gua lagi mau menyendiri," ucap Frinza.
Kenny mengambil sebatang rokok yang ia sembunyikan di tempat pensilnya, lalu membakar ujungnya dengan korek geretan yang ia selundupkan di kaus kaki. Sejenak ia menarik hisapan, lalu ia buang asapnya merusak oksigen di sekitar danau.
"Ga mau," balas Kenny. "Gua temenin lu, mampus."
Dari sekolah, mereka berdua melipir ke danau. Dari sejak mereka sampai, tidak ada obrolan apa-apa. Frinza yang mau ke tempat ini, dan Kenny hanya iseng mengikutinya. Padahal, Frinza butuh waktu menyendiri dan menyuruh Kenny untuk pulang, tapi Kenny ingin mengganggunya seperti yang biasa Frinza lakukan padanya.
"Ken."
Frinza jadi orang pertama yang akhirnya bicara dan membunuh keheningan.
"Apa? Males kan lu, lagi pengen sendiri malah digangguin? Itu yang biasanya gua rasain, Anjing."
"Kalo seumpama nih, lu bisa milih keluarga waktu lahir ke bumi. Lu mau hidup di keluarga kaya yang individualis, atau keluarga miskin tapi saling topang-menopang?"
Kenny memicingkan mata. "Hah?"
"Udah jawab aja."
Pemuda berkacamata gelap itu tampak berpikir. "Kaya lah. Enak, bisa sewa jablay."
Frinza terkekeh sambil menatap danau seolah ada jawaban di permukaan airnya.
"Kenapa?" tanya Kenny. "Jawaban gua ga sesuai harapan lu?"
"Bukan. Menurut gua jawaban lu itu jawaban yang wajar selain sewa jablay-nya," jawab Frinza. "Manusia emang selalu merindukan hal yang ga pernah mereka miliki. Kayak—kadang hidup lu rasanya berat, terus kalo ngeliat hidup orang lain tuh kayaknya lebih gampang aja gitu, lebih enak, lebih nyaman. Padahal, ya ... bisa jadi sebaliknya. Merasa hidup orang lain lebih baik, tanpa sadar bahwa kita adalah orang lain di mata mereka."
Kenny diam sejenak, berusaha membaca manusia yang ada di sebelahnya. Frinza agak unik. Kadang ia bertingkah seperti manusia kurang berguna, tapi terkadang juga timbul sisi stoik nya yang membuat Kenny harus berpikir. Tap Kenny senang bergaul dengan keduanya, entah dengan sisi konyolnya, atau sisi stoiknya.
Frinza menghela napas berat. Di telinga Kenny, suara itu adalah seberat-beratnya napas yang pernah ia dengar. Rasa-rasanya, ada beban tak kasat mata yang sedang disembunyikan lelaki konyol itu.
"Gua sering mikir, orang yang punya segalanya pasti bahagia. Tapi ternyata ... rasa kosong juga bisa hidup di rumah paling mewah," ucap Frinza.
"Lu kenapa dah?" tanya Kenny yang sejujurnya heran. "Kayak sepuluh tanda-tanda orang yang mau meninggal."
Frinza terkekeh. "Bangsat lu."
Sebelum suasana berubah makin suram, dua anak kecil muncul di hadapan mereka. Mereka menghampiri dengan langkah malu-malu. Yang agak besar membawa dua batang es krim, yang kecil tersenyum lebar. Mereka adalah kakak-adik yang waktu itu, anak dari si paling keluarga harmonis.
"Bang Kenny, makasih ya, waktu itu udah nolongin saya," kata si kakak sambil menyerahkan es krim.
Kenny berkedip bingung. "Hah? Kapan?"
Frinza tertawa kecil, lalu menerima es krim itu tanpa kata-kata.
Satu hal yang Kenny baru sadari. Jangan-jangan, waktu tragedi di tanah merah itu, Jotun mencarinya akibat ulah Frinza, tapi bukan Frinza yang berulah duluan. Frinza yang melepaskan cengkeraman Jotun pada anak itu dan berakhir diburon. Meskipun, sialnya Frinza saat itu membawa kacamata Kenny dan mengaku-ngaku atas namanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Frinza
Teen FictionMencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu dan menghilangnya kedua adik kembarnya membuat keseharian Frinza berubah. Menceritakan kehidupan Frinza Martawangsa ketika duduk di bangku...
