32 : Kemenangan yang Kosong

139 19 3
                                        

Era Jotun Wrath telah berakhir. Sudah hampir satu bulan ini mereka tidak menampakkan taringnya. Tidak ada lagi teror dan pemalakan yang terjadi. Para mantan anggota geng raksasa itu jarang keluar kelas, meskipun sesekali Frinza masih sering melihat Aksa dan beberapa anak berkeliaran di kantin.

Setelah kemenangan itu, suasana  di SMA Adinata menjadi damai dan tentram. OSIS pun mendukung penuh dan memberikan ultimatum keras bagi siapa pun pelaku perundungan di sekolah agar dihukum berat.

Namun, kemenangan dan ketenangan itu justru membawa kekosongan baru dalam hidup Frinza.

"Bengong mulu lu bego," ucap Kenny yang duduk di dalam kelas. "Istirahat gini malah bengong, kangen dipalak lu?"

"Bosen gua," balas Frinza dengan tampang malas menghadap jendela.

"Eh, kantin yuk," ajak Gita yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Udah lama kita ga jalan bareng bertiga."

"Jajanin ga?" tanya Frinza.

Kenny mengerutkan kening. "Lu kan orang kaya! Lu yang harusnya jajanin kita."

"Ga ada urusan sama lu," balas Frinza. "Gua nanya sama Gita."

"Oke, gua jajanin kalian berdua. Ayo," jawab Gita.

Frinza tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Nah, gitu dong. Ayok."

Frinza berjalan di belakang Kenny dan Gita menuju kantin. Derap langkahnya seirama dengan riuh suara siswa lain yang sedang bercanda di depan kelas mereka, tapi bagi Frinza semua itu hanya seperti suara televisi yang tak ia tonton.

Ia menatap lorong sekolah yang kini terasa terlalu aman. Tidak ada tatapan menantang dan aura mengancam yang dulu justru membuat darahnya mengalir deras.

'Padahal, bukannya ini yang gua mau dari awal? Hidup normal kayak siswa biasa.'

Frinza terus berjalan dengan pikiran mengembara.

'Tapi kenapa sekarang malah terasa kosong?'

Seperti ada ruang besar di dalam dadanya yang tak bisa diisi oleh tawa Gita dan celetukan Kenny, atau bahkan aroma gorengan kantin yang biasa membuatnya ngiler. Semua yang Frinza lihat kini hanyalah warna-warna pucat tanpa gradasi. Tidak buruk, tapi tidak baik juga. Rasanya hambar.

Frinza menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia mencoba mengalihkan rasa aneh itu dengan menatap punggung Gita yang berjalan di depannya sambil berceloteh soal tugas seni. Namun, bahkan suara Gita yang biasanya menghibur kini terdengar jauh, seperti gema dari lorong panjang.

'Apa yang gua cari sebenernya?' gumamnya dalam hati.

Sebelum Frinza sempat menemukan jawabannya, Kenny menepuk bahunya. "Lu dengerin ga sih? Dari tadi diem doang kayak mumi Fir'aun."

Frinza tersentak kecil, lalu memasang senyum tipis. "Hehe, sorry. Lagi banyak pikiran, maklum orang kaya. Lagi mikirin cara ngabisin duit."

Kenny mendengus. "Freak lu, anjing."

Frinza terkekeh, tapi di dalam hati ia merasa seperti orang yang tertawa di tengah lapangan kosong. Hampa. Begitu luas sampai ia bahkan tak tahu dari mana asalnya. Seolah-olah sekolah ini telah banyak berubah.

Dan yang paling menakutkan bagi Frinza adalah, perasaan ini persis seperti yang ia rasakan setiap kali pulang ke rumah kediaman Martawangsa.

"Lu udah gua perhatiin beberapa hari ini bengong mulu, Frin. Kenapa sih?" tanya Gita yang kini sedang duduk di depan Frinza.

Kenny pergi ke tukang gorengan untuk memberikan ruang untuk kedua sahabatnya. Namun, di sisi lain Frinza hanya diam sambil menghela napas berat tanpa melihat ke arah Gita.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang