35 : Bayangan Paling Gelap

171 19 2
                                        

Waktu terus melaju. Hari-hari yang dulu terasa panjang kini terlipat seperti halaman buku yang disibak angin. Senja-senja di danau itu, keringat yang bercucuran di bengkel itu, tawa-tawa di kelas, layar monitor sebagai pelampiasan, dan ketegangan saat jam istirahat ... semuanya perlahan menjadi kenangan yang hanya bisa diulang di dalam kepala.

Frinza tidak pernah menghitung langkahnya menuju akhir masa putih abu-abu. Namun, tiba-tiba ia berdiri di balkon lantai dua, memandang hamparan lapangan sekolah yang kini riuh oleh teriakan kebebasan. Coretan spidol menodai baju seragam anak kelas tiga yang baru saja resmi menjadi bagian dari masa lalu. Ada warna, ada euforia, ada rasa lega atas segala perjuangan mereka selama ini. Namun, bagi Frinza pemandangan itu justru memunculkan sebuah kesenduan tersendiri. Tahun depan, ia dan teman-temannya yang akan berada di posisi itu. Terbesit sebuah pertanyaan besar di dalam kepalanya.

Jika saat itu datang, apakah semua masih bisa seperti ini tanpa berubah?

Di antara kerumunan yang menulis pesan konyol di seragam masing-masing itu, Frinza menangkap sosok yang sangat ia kenali. Bambang, alias Rudi Kuncoro, pemegang takhta tak terbantahkan selama dua tahun terakhir di SMA Adinata. Di sekelilingnya, para pasukan Jotun Wrath berbaris layaknya pengawal yang menjaga raja mereka di hari kebebasan tersebut. Ada Reynard dan juga Bagas tepat di sisi kanan dan kiri Rudi.

Rudi tak sengaja mendongak saat merasa diperhatikan. Tatapannya bertemu dengan Frinza yang bersandar di dinding balkon, kedua tangan pemuda itu masuk ke saku celana, wajahnya dingin tak banyak bicara. Sudut bibir Rudi terangkat. Ia mengangkat tangan dan melambai santai, lalu melengkungkan telapak tangannya ke arah bawah, memberikan kode untuk menyuruh Frinza turun.

Frinza menyeringai. Tanpa banyak kata, ia berbalik arah dan melangkah ke arah tangga.

"Mau ke mana lu?" tanya Kenny.

"Dipanggil temen warnet," jawab Frinza sambil terkekeh.

Kenny menghela napas panjang, lalu berjalan mengekori Frinza sambil membetulkan posisi kacamata hitamnya.

Melihat Frinza dan Kenny turun, Andre yang berada di kelas paling ujung pun berjalan cepat menyusul mereka berdua.

Suara teriakan dan tawa siswa lain seolah runtuh saat sosok Frinza muncul di lapangan dan berjalan ke arah Rudi.

"Frinza turun. Dia ketemu Rudi ...."

Bisikan itu riuh memenuhi seantereo Adinata. Suasana mendadak tegang. Mata-mata menatap ke arah lapangan, seakan takut situasi pecah menjadi ricuh. Namun, ketika Frinza melangkah semakin dekat, ekspresi Rudi malah terlihat santai. Bahkan, tawa kecil pecah di wajahnya.

"Masih sering bolos lu.Bud?" sapa Rudi sambil menepuk bahu Frinza begitu ia tiba di hadapannya.

Frinza terkekeh tipis. "Sejak lu tobat, dunia per-DoTA-an jadi ngebosenin. Gua sering ngerasa sepi di tengah Galaxy. Jadi gua udah ga pernah bolos lagi gara-gara kesepian. Ga seru ga ada lu, Bang Bambang."

Rudi tertawa lepas. "Ya begitulah, persiapan perang terakhir sebelum masuk ke dunia nyata. Mau ga mau harus tobat sejenak."

"Kalo gua sih ga ngaruh. Mau belajar, mau kagak, udah pasti lulus," balas Frinza.

"Eh, ngomong-ngomong ... gua mau nanya," ucap Rudi. Ekspreinya berubah agak serius.

"Apa?" tanya Frinza.

"Sebagai generasi penerus, lu punya nama buat geng lu? Cepet atau lambat, nanti anak baru dan kelas satu mungkin bakal ngeberontak kayak lu ke gua. Gua pikir, sekolah ini butuh nama buat jaga keadilan yang lu buat."

Frinza memicing, lalu menoleh sekilas ke arah Kenny dan Andre yang berdiri di sisi kanan dan kirinya. Lalu, dengan santai ia menjawab. "Ada."

Kenny dan Andre kini saling bertatapan. Mereka berdua tak tahu kalau gerombolan mereka punya nama.

FrinzaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang