Epilog

90 13 4
                                        

Jalanan sore itu basah oleh sisa hujan tipis yang baru saja reda. Roda motorku membelah genangan kecil di aspal, memantulkan wujud langit kelabu yang masih menyisakan guratan awan berat. Angin sore menampar wajah, tapi bukan dinginnya yang membuat dada terasa sesak, melainkan sesuatu yang mengendap di kepala dan tidak pernah benar-benar hilang.

Sekolah sudah jauh tertinggal di belakang, tapi suara tawa teman-teman yang berpencar ke rumah masing-masing masih terdengar di telinga. Mereka pulang untuk disambut.

Bagaimana dengan ku?

Aku pulang untuk membuka pintu yang tidak pernah menunggu siapa-siapa.

Lampu-lampu jalan mulai menyala, memanjang seperti garis-garis cahaya yang menuntunku pulang. Bukan ke rumah, tapi ke sebuah tempat yang hanya kebetulan aku singgahi. Aku tidak pernah merasa pulang, karena memang alasanku pulang sudah tak berada di rumah.

Angin sore menyelinap di sela-sela jaket, tapi rasanya tidak dingin. Aku sudah kebal dengan rasa dingin. Tidak ada yang lebih dingin dari hati yang dibiarkan kosong tanpa pelukan wanita bernama ibu.

Tapi manusia datang dan pergi seperti angin. Tidak ada kehendak selain Tuhan yang bisa menghadang siklus pertemuan dan perpisahan.

Di ujung jalan yang sunyi itu, terhampar sebuah rumah megah dengan nuansa tradisional Jawa yang kental. Arsitekturnya dipenuhi oleh detail-detail ukiran halus dan ornamen klasik yang menghiasi setiap jengkal dindingnya. Bangunan itu adalah tempat ku tinggal, yang mereka sebut rumah.

Sebuah gerbang besar menjulang tinggi. Namun, meskipun terlihat megah dari luar, bagiku rumah itu hanya seperti istana yang ditinggalkan, terabaikan dan terasingkan oleh waktu.

Aku memarkirkan motor di garasi dan lanjut berjalan, lalu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah. Aroma sepi langsung menusuk hidung saat melewati meja makan yang terlupakan, dengan kursi-kursi kosong yang kehilangan hangatnya. Di setiap langkah yang kuambil, kesendirian yang menyelimuti rumah ini semakin terasa nyata.

Hingga pada akhirnya, langkah ini membawaku ke depan pintu kamarku sendiri. Perlahan, ku buka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Ku nyalakan lampu, lalu berjalan ke tepi ranjang.

Aku duduk sendirian di pinggir ranjang kamar ku yang redup, di mana cahaya lampu yang remang hanya menyoroti sebagian kecil dari ruangan yang berantakan ini. Di atas meja, ada sebuah kue lengkap dengan lilin-lilin yang menyala. Tepat di sebelah kue itu, ada selembar kertas.

"Selamat ulang tahun, Frinza ...," lirihku membaca surat tersebut. Terbesit senyum tipis di bibirku. Sejenak aku tenggelam di dalam lamunan, lalu menghela napas berat. "Yaaa ... seenggaknya gua masih punya diri gua sendiri, kan?"

Ruangan ini hanya diisi oleh gelak sunyi yang terasa menyakitkan, dan hening yang merupakan bentuk ilustrasi hakiki dari eksistensi yang bernama kekosongan. Aku menatap ke dalam kegelapan di pojok ruangan, mencari jawaban yang tidak kunjung datang itu. Dalam kesendirian yang mengeroyok, aku merasakan dingin yang semakin mengoyak. Meskipun aku mencoba menutupinya dengan senyum, kekosongan di dalam hatiku terasa semakin dalam. Rasanya seperti kehilangan dan tidak punya kesempatan untuk menemukan.

Pada satu titik, aku berdiri dari pinggir ranjang dan melangkah ke jendela, menyaksikan kota yang sibuk di luar sana, di mana kehidupan terus berjalan tanpa peduli akan kesendirianku.

Bagiku ... kesepian adalah bukti bahwa hati manusia masih merindukan sesuatu yang tak tergantikan. Ia menjadi pengingat akan ruang-ruang kosong dalam jiwa yang tak bisa diisi hanya dengan kehadiran belaka. Lebih dari itu, kesepian adalah bukti bahwa kita pernah memiliki sesuatu yang berharga, yang mungkin kini tinggal kenangan. Mengingatkan kita akan kebahagiaan yang pernah ada, mengajarkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang selalu mencari, dan tak pernah puas dalam keterasingan.

Di saat sedang memikirkan banyak hal, tiba-tiba terdengar gerombolan suara knalpot motor sember di luar rumah, tepatnya dari arah halaman depan.

Aku terkekeh. "Mikir apa sih."

Ku tiup lilin-lilin di atas kue, lalu berjalan ke arah pintu, mengambil jaket varsity Burn Wheeler yang tergantung di sana. Segera, kedua kakiku melangkah keluar dari istana yang hampa ini, pergi ke tempat di mana kesepian tak pernah merajai. Ke tempat yang ku sebut rumah.

Udara separuh maghrib langsung menyergap kembali begitu aku keluar dari rumah. Di depan gerbang, pasukan yang ku bangun sudah menunggu. Mereka bukan orang-orang yang kuat dan tangguh, tapi mereka adalah manusia-manusia yang bisa sangat bisa diandalkan dan menerimaku apa adanya.

"Lama banget lu!" teriak Andre dari atas motornya. Di sebelahnya ada Bima dan Dipo.

"Kita jemput Gita dulu," ucapku.

Aku menutup pagar. Mesin naga biru ku meraung-raung saat ku ajak berlari, meninggalkan rumah yang ramai diisi oleh kesepian itu di belakang. Kami melaju beriringan, membelah malam yang baru saja memulai pesta sunyinya.

Gita sudah menunggu di pinggir jalan, jaket denim dan senyum kecilnya langsung membuat suasana malam terasa hangat.

"Ultah ya, bos besar?" godanya sambil naik ke jok belakang ku.

Aku mengangkat alis. "Gimana rasanya pacaran sama yang lebih tua dikit?"

"Ga ada bedanya kayak pacaran sama anak kecil," balas Gita sambil tertawa. Ia memelukku dari belakang, menghangatkan hati ku yang tadi sempat menggigil dan hipotermia ditikam rindu saat di rumah tadi.

Tujuan kami hanya satu. Ke markas besar Burn Wheeler di bengkel keluarga Kenny.

***

Begitu sampai, Kenny sudah berdiri di depan menyambut kami memegang sebotol besar soda dengan senyum lebar. Kacamata hitamnya masih bertengger seperti Si Buta dari Goa Hantu.

Tawa, obrolan, dan sedikit ribut jadi latar malam itu. Dari luar, kami hanya terlihat seperti sedang merayakan pesta ulang tahun di bengkel kecil. Tapi di sela-sela candaan kami, aku tetap sadar, bahwa di balik tawa ini, ada pekerjaan lain yang menunggu. Pekerjaan yang tidak akan pernah bisa kuceritain ke Gita, Kenny, atau siapa pun di sini.

Aku hanya ingin ada di sisi mereka dan berharap kebersamaan ini tidak pernah berakhir. Ku tatap wajah mereka satu per satu, mencoba mengabadikan wajah-wajah yang masih bersih dari kotoran dunia ku. Karena aku paham, begitu aku keluar dari lingkaran cahaya bengkel ini, dunia akan kembali ke warna aslinya. Gelap, hitam, dan bau darah.

Dan di situlah aku akan kembali menjadi diri ku yang sebenarnya, dengan jubah Martawangsa. Bukan ketua geng motor, bukan teman mereka, bukan pacar dari gadis yang manis itu. Namun, monster yang dibentuk oleh dunia keluarga ku sendiri, demi menjaga sisa-sisa yang ku anggap berharga.

Tidak semua yang terlihat jahat lahir dari niat buruk. Kadang, seseorang memilih jalan yang kelam karena di sanalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang mereka cintai.

Dunia tidak peduli pada alasan. Dunia hanya melihat hasil. Dan dosa tetaplah dosa.

Kita hidup di dunia yang memaksa orang untuk memilih menjadi korban, atau menjadi sesuatu yang menakutkan.

Pilihan itu tidak pernah indah, dan jarang sekali adil. Namun, di tengah semua lumpur itu, yang tersisa hanyalah keyakinan. Sampai sejauh mana kita rela berkorban, dan menanggung kotoran untuk mereka.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan bicara soal menjadi pahlawan untuk semua orang. Hidup ini bicara soal tetap menjadi rumah bagi orang-orang yang tak punya tempat lain untuk pulang.

Maka bersiaplah menanggung segalanya. Termasuk menjadi monster di mata dunia. Karena bagi sebagian orang, menjadi rumah berarti membakar diri sendiri untuk menghangatkan yang tersisa.

FrinzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang