Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

extra: ii. Midnight Rains

513 55 20
                                        

italic means flashback, and don't forget to click on the stars, okkieee!

Happy Reading!

Chapter 2:
Glimpse of Us

"Papa," Dara mengekori langkah Aksa. Di undangan nikahan anak teman Papa, Dara hanya datang karena makanan, "Dara mau antri sushi, ya."

Aksa mengangguk secara singkat, melanjutkan aktivitasnya mengobrol bersama rekan kerja. Tangan Dara kosong, ponselnya menganggur di dalam tas, sudah cukup lama berada dalam mode jangan diganggu. Setidaknya Dara menghargai Aksa tidak berkomentar apapun, tidak mendorongnya cepat-cepat mengambil keputusan, tapi selalu mendengarkan jika Dara terbuka lebih dulu. Dara butuh lebih banyak waktu untuk benar-benar yakin menyudahi semua ini.

Sushi yang ia inginkan sudah di tangan, tinggal mencari tempat duduk, dan ia akan makan sambil menatap lalu lalang orang yang lewat. Langkahnya baru setengah saat ia mendengar ada yang berkata:

"Glad to see you again."

Indra penciumannya mulai mencium wangi maskulin yang memabukan seiring iris coklatnya menyipit mencari tahu sang pemilik suara.

"Gue Givero," lelaki itu mengenalkan diri kembali. Memori yang hampir Dara tanggalkan di hari orchestra kembali terbuka. "I met you at the orchestra."

Dara menatap uluran tangan itu gamang. Hatinya menuntun Dara untuk membalas sedangkan benaknya ragu. Ada sebuah tarikan yang membuatnya terpikat pada lelaki ini dan Dara tidak ingin membiarkannya tumbuh.

Tidak ketika ia masih bersama Giory.

Nalarnya mengambil alih, mengingat pondasi yang ia miliki, langkahnya bergerak mundur membiarkan uluran tangan laki-laki itu menggantung di udara. "Gue harus segera ke backstage, maaf."

Memorinya berputar mengingat bagaimana ia meninggalkan Givero di depan pintu masuk begitu saja.
"Amazing performance, anyway." Givero melontar pujian. Gesturnya hangat, ramah, tapi tidak terlalu berlebihan dalam segala aspek.

"Thank you."

Suasana canggung mulai merayap. Dara tidak pandai mengubah itu, atau mungkin ia memang tidak ingin mencoba?

"Gue ga tau lo anggota Baylor Orchestra," ucap Givero. "Itu kali pertama lo tampil di sana? Gue ga pernah lihat lo sebelumnya."

"Udah beberapa kali sebenarnya bareng Baylor," balas Dara. "Lo... sering nonton orchestra?" Asumsi Dara mulai berkembang menebak latar belakang lawan bicara. Dalam kepalanya, Givero antara penikmat musik klasik atau pemain instrumen.

"Gue—Sorry."

Givero menarik lengannya. Dara tersentak meraup wangi maskulin yang terasa semakin memabukan tatkala Givero mengikis jarak. Begitu menoleh, ia melihat seseorang dari kitchen yang akan mengisi ulang persediaan makanan. Dara masih membeku menatap dada bidang Givero yang menampakan kemeja putih yang dibalut jas coklat.

"Sorry." Givero melepas genggamannya, dan memberinya cukup jarak seperti semula. Dara mengangguk pelan, tidak sengaja mengikuti pergerakan tangan Givero yang membenarkan letak dasi secara canggung. "Tadi sampai mana?"

"Lo... sering ke orchestra?"

"Oh... gue nonton orchestra karena adik gue main instrumen."

"Violin?" terka Dara.

"Cello."

Dara mengangguk-angguk kecil. "That's cool."

"Dia masih di tahap awal, belum sampai perform di aula besar kayak lo gitu."

Walk to 17th [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang