Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

extra: i. midnight rains

694 54 18
                                        

hi! i'm so back, hope you still remember! aku ingin publish mini series dara&gio (anggap aja ini extra chapter), ini ceritanya somewhere after the books end ya. 

disclaimer: draft pertama chapter ini tahun 2022, aku cuman edit sedikit, jadi mungkin gaya bahasanya agak campur-campur ritmenya. but it still dara&gio tho. 

anyways,  I'm still active on instagram (dharmagazine_) hit me there, xoxo. 

happy reading <3

. . .

Chapter 1
The Field and The Stage

"Kita briefing sebentar lagi! Ga ada yang boleh pegang handphone setelah itu, kalau ingin menghubungi tamu undangan, sekarang waktunya."

Perasaan cemas dan gugup mulai merasuki hampir seluruh anggota musik klasik. Sebagian dapat mengendalikan gusar setelah melihat seseorang yang diundang duduk di ballroom orchestra. Lain halnya dengan seorang gadis bersurai coklat panjang dengan gaun emerald yang rasa gusarnya semakin membuncah seiring waktu berjalan.

Iris coklatnya terus berpendar ke seluruh penjuru berharap "tamu" undangannya sudah menempati kursi. Lagi - lagi nafasnya kembali berhembus menyimpan perasaan jengkel yang menggerogoti hatinya. 

"Ck, Giory kebiasaan," rutuknya pelan.

Dara, si gadis yang tengah gusar kembali mengetuk- ngetuk sepatu haknya. Sorot matanya menyimpan kecemasan begitu sosok yang dinantikan tidak kunjung datang.

Andai saja jika Aksa memiliki waktu luang malam ini, Dara pasti akan memprioritaskan undangan untuk orang tuanya, apalagi ini kali pertama Dara berpartisipasi dalam penampilan symphony orchestra dari klub musik Dharma.

Dara mempercayakan undangannya pada Giory yang tengah sibuk dengan jadwal latihan turnamen sepak bola antar provinsi. Meskipun Giory sudah berjanji untuk menyempatkan hadir tapi batang hidungnya tidak kunjung terlihat. Ralat, Dara bahkan belum melihat laki - laki itu sejak dua hari yang lalu terlebih ruang chat mereka tidak menunjukan balasan lebih dari 10 jam.

"Kamu undang Giory, ya?" Dara berjengit. Tubuhnya berbalik perlahan mendapati tiga orang senior dari klub musik klasik yang menatapnya penuh ejekan tanpa usaha menutupinya.

"Iya—" ketiga senior itu saling berbagi tawa, mengejek kondisi yang tidak bisa Dara kendalikan. Dara tercekat menangkap respon jahat yang membuat awan kekhawatiran semakin terbentuk di matanya.

Dara membenci perasaan ini: lemah, putus asa, dan takut. Air matanya bisa jatuh jika ia terus berdiri disini. Jadi Dara melengos menghindari situasi yang membuat dirinya semakin tertekan.

Dengan jantung yang berdegup kencang sarat kepanikan. Dara berjalan tanpa arah sembari mengecek waktu, dan hanya menemukan sisa 40 menit sebelum penampilannya di mulai.

Dara terus berjalan menuju pintu masuk utama sambil menelepon Giory. Hanya Giory yang bisa Dara andalkan saat ini, tapi mengapa meskipun ponsel lelaki itu aktif, Giory tidak pernah menjawabnya sedari kemarin. Dara jengkel terus mengejar - ngejarnya seperti ini. Detak jantungnya semakin kencang merespon seluruh perasaan cemas yang berkumpul hingga membuatnya ingin melarikan diri dari orchestra. Langkahnya semakin jauh tanpa memiliki arah yang pasti untuk berlabuh.

Dug-

Tubuhnya terhuyung, hampir saja terjembab jika lengannya tidak ditahan oleh seseorang yang menabraknya.

"Sorry."

"Sorry."

Mereka berucap dalam waktu yang sama dan Dara mendongak begitu mendengar suara bariton yang asing di telinga. Nada dering yang tidak kunjung terjawab itu akhirnya Dara akhiri begitu menemukan sosok laki – laki yang menjulang tinggi. Iris coklatnya tanpa permisi mengamati perangainya untuk disimpan dalam memori; surai hitam yang tertata rapi, alis tebal, juga rahang tegas membingkai wajahnya sangat rupawan. Kemeja hitamnya dilipat hingga siku membiarkan jas coklat seharga jutaan itu tersampir di lengan. Laki - laki ini begitu tenang dan memikat disaat yang sama. Dara bahkan dapat menatapnya tanpa bosan.

Walk to 17th [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang