Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

extra iv. midnight rains

490 42 3
                                        

hi, ini last chapter dari series extra midnight rains yaa! aku nulis tau-tau udah 3.6k kata, ini cukup panjang jadi bacanya pelan-pelan aja ya. 

happy reading <3

. . .

Jarum jam merangkak pada angka tiga. Tersisa tiga puluh menit sebelum pertandingan dimulai. Suara seluruh anggota klub sepak bola bergulung menjadi satu memasuki telinga Giory. Ia tidak dapat menangkap inti sarinya, tapi yang pasti teman-temannya sedang berbicara soal lapangan–-soal sesuatu yang jauh dari perhatian Giory sekarang.

"Gi, hari ini ibu buat soto." Marco bicara sambil memakai kaus kakinya yang berwarna biru. "Mau ikut, ga?" Marco menyikut lengan Giory. "Oi," lalu berdecak kemudian. "Dara lagi?" tanyanya, mulai jengkel.

"Bukan," balas Giory seperti bergumam.

"Kenapa lagi?" tanya Marco. "Bentar lagi kick off, kalau lo masih kayak gini, kacau nanti."

"Co," Giory menghela pelan, "kayaknya gue sama Dara bakal putus."

"Karena?"

"So, you met someone else?"

Mereka diam. Dara mulai menjelaskan siapa Givero, yang diakuinya sebagai orang asing yang tidak sengaja bertemu terus menerus di berbagai situasi. Di sepanjang jalan, di setiap gulungan penjelasan yang Dara beri, Giory melihat dirinya memproyeksikan ketakutannya. Ketika Dara menutup pintu mobil, Giory mencoba membayangkan bagaimana jika hubungan mereka benar-benar berakhir.

Marco menepuk bahunya pelan, menyadarkannya setelah tidak menjawab. "Gue ga punya apapun yang bisa bantu lo lupa. Tapi ini pertandingan krusial. Gue harap lo ga lupa apa aja yang udah kita lakuin buat sampai ke sini."

. . .

Sudah sedari tadi jarinya mengetuk-ngetuk permukaan lokernya. Lokernya hampir kosong, hanya tersisa kamera analog miliknya. Sudah lima kali gulungan filmnya diganti, satu dua alasannya adalah Giory. Lelaki itu senang sekali membawa kameranya pergi jika ada pertandingan, atau ketika hari recital pianonya, atau hanya saat-saat tertentu ketika mereka merasa ingin.

Dara merindukannya, sangat banyak sampai ia menutup loker sambil menghela napasnya panjang. Tangannya sedang memutar kunci tatkala sebuah suara datang dari samping.

"Langsung pulang?" Cesar di sana. Datang bersama Raja yang mengekor di belakang. Masing-masing dari mereka berdua membawa dua kantong popcorn, mereka pasti akan pergi ke lapangan. "Ga nonton Gio?"

"Eh, Dara." Raja menyambar, menyikut Cesar di ulu hati. "Hehe," cengirannya terasa aneh. "Kita cuman mau tanya, lo mau ikutan pre-order ganjang gejang, gak?" Butuh satu orang lagi nih, please."

Dara meringis, sepertinya ia akan terus dikejar soal kepiting korea itu. "Boleh deh, Kak. Papa gue suka kepiting. Nanti kabarin aja ya gue harus transfer ke mana."

"Lo manfaatin Sharlene, dong." Raja terkikik geli. "Bilang ke Sharlene, 'Kak Shar, aku mau ikut pre-order kepiting juga, ya.' Kalau lo minta, dia bakal beliin kok. Yang suka banget kepiting kan dia, Dar. Kita-kita cuma casual enjoyer aja."

Gila saja jika harus meminta ke Sharlene seperti itu. Hubungan mereka terlalu kucing liar dan anjing galak untuk memulai beramah tamah seperti itu. Raja dan Cesar masih terkikik geli, lalu berbicara soal kepiting dan rentetan makanan lain yang ingin dan akan mereka coba. Meskipun mereka adalah teman-teman Giory, tidak sedikitpun mereka berbicara tentangnya sekarang.

Percakapan mereka terhenti ketika orang-orang di lorong mulai menepi memberi jalan. Orang-orang dengan seragam yang berbeda dari Dharma mulai melintasi lorong. Supporter klub yang akan bertanding telah datang. Mata Dara berusaha menyipit saat membaca nama sekolah klub lawan,

Walk to 17th [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang