Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-----------------------------
S
ean tertegun di tempat. Hening sesaat menyelimuti dirinya. Suara di seberang terus berbicara, namun pikirannya seolah berhenti di satu kalimat itu. “Apa!!! Gak mungkin!” serunya spontan, suaranya parau di antara campuran haru dan bingung. “daddy yakin? Daddy sedang tidak bercanda kan sama Sean?"
“daddy sendiri yang lihat, Sean! Alicia buka mata! Dia nyebut nama ayahnya dan namamu!”
Seketika lutut Sean terasa lemas. Ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang selama ini ia harapkan, sesuatu yang bahkan sudah ia pasrahkan pada takdir, kini benar-benar terjadi.
Ia dengan cepat memasuki mobilnya teman temannya pun sampe bingung.
"Eh bos lu Napa anjir" tanya fathah.
"Cewe gue sadar, cepet kita kerumah sakit"
Wajah fathah terkejut ia memandang Sean yang begitu bahagia"Ha Dede gemes gue udah sadar, Alhamdulillah"
Yang lain pun ikut terkejut mendengar kabar ini. Mereka dengan cepat mengikuti sena dari belakang
--------------🌿🌿🌿--------------
. Nafas Sean memburu, langkahnya tak teratur. Jalanan sore itu seolah kabur di matanya. Yang ia tahu, hanya satu: Alicia sadar. Gadis yang selama ini terbaring tak berdaya di rumah sakit, dengan jantung yang nyaris tak berfungsi, kini membuka matanya.
Ruang operasi itu penuh dengan suasana haru. Raga, ayah Alicia, duduk di samping tempat tidur putrinya dengan mata yang masih basah. Tangannya menggenggam erat tangan Alicia yang terasa hangat untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
“ayah…” suara Alicia lemah, tapi jelas. Raga nyaris tak mampu menahan air mata. “Ya, Nak… ayah di sini. Kamu sadar, sayang… kamu sadar.”