Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
------------------------------
Perawat menarik napas lega, tapi keringat dingin masih bercucuran di pelipisnya. Semua mata tertuju pada layar monitor yang kembali menunjukkan denyut.
“Stabilkan infusnya. Tambah oksigen!” perintah Dokter Rangga tanpa mengalihkan pandangan dari pasien. Tangannya masih menekan erat luka pendarahan, memastikan tidak ada tetes darah yang terbuang sia-sia.
Alicia tampak pucat, wajahnya seperti kehilangan seluruh warna. Namun sedikit gerakan di ujung jarinya memberi tanda tipis bahwa ia masih bertahan.
“Dok… tekanan darah perlahan naik,” ujar salah satu perawat dengan suara bergetar, seolah takut kabar itu hanya ilusi.
Dokter Rangga mengangguk cepat. “Bagus. Jangan lengah. Kita belum keluar dari bahaya.”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruangan kembali dipenuhi suara alat medis, napas yang berat, dan degup jantung yang kini terasa senada dengan bunyi monitor.
Di balik kaca, seseorang menatap dengan cemas, menggenggam erat kedua tangannya, berdoa dalam hati agar kehidupan Alicia benar-benar terselamatkan malam itu.
--------------🌿🌿🌿-------------
Ruang operasi kini dipenuhi ketegangan baru. Kotak pendingin berisi jantung donor dibuka dengan sangat hati-hati. Semua mata tertuju pada organ yang akan menjadi harapan hidup Alicia.