Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Badboy Tampan : 37

281 9 0
                                        

Assalamualaikum.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

--------------------------------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

--------------------------------

Monitor kembali berdering dengan suara tak stabil. Garis-garis di layar naik turun, lalu melemah lagi. Satu perawat berusaha mempertahankan irama dengan obat penunjang, tapi hasilnya tetap rapuh.

Dokter Rangga menatap layar itu dengan wajah serius, lalu menggeleng pelan. “Kita sudah lakukan yang terbaik… tapi jantungnya mengalami kerusakan parah. Kondisi pasien masih sangat kritis.”

Semua di ruangan itu terdiam, hanya tersisa suara mesin yang lirih. Setelah memastikan pasien terhubung dengan perawatan intensif, Dokter Rangga melepaskan sarung tangannya, lalu berjalan keluar.

Di balik pintu, keluarga Alicia langsung berdiri. Wajah mereka penuh harap, meski mata masih sembab karena tangis.

Dokter Rangga menatap mereka sebentar, menarik napas panjang sebelum bicara. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi… jantung Alicia mengalami kerusakan. Transplantasi ini belum berhasil sepenuhnya. Kondisinya masih kritis, dan peluang untuk bertahan… sangat tipis.”

Tangisan langsung pecah. Alicia menutup mulutnya, tubuhnya bergetar hebat. Ayahnya terdiam kaku, seolah dunia runtuh di depannya.

Dokter Rangga menundukkan kepala. “Kami akan terus berusaha menjaganya di ruang ICU. Tapi saya ingin keluarga bersiap untuk kemungkinan terburuk.”

Hening. Hanya isak tangis yang menemani kabar berat itu, sementara di balik pintu, Alicia masih berjuang di antara hidup dan mati.

Tangis Raga akhirnya pecah. Suaranya berat, bergetar, penuh amarah sekaligus putus asa.
“Tidak! Bagaimana mungkin jantung itu tiba-tiba rusak?!” serunya dengan mata merah menatap Dokter Rangga. “Bukankah itu sudah diperiksa sebelumnya? Bukankah ini seharusnya menyelamatkan anak saya?!”

Ruangan depan ICU mendadak sunyi. Semua keluarga menunduk, hanya terdengar tangis lirih dari yang terdengar didepan ruang oprasi, Dokter Rangga tetap berdiri, menahan sorot mata Raga yang penuh luka.
“Saya mengerti perasaan mu Raga… tapi hasil transplantasi tak selalu sesuai rencana. Ada faktor yang tidak bisa diprediksi. Saya turut berduka.”

Badboy TampanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang