Langkah besar Kedrick membawa dirinya menuju ruang keluarga, diikuti oleh Asher dan Orion samping kiri-kanan Kedrick. Tak juga melupakan Ace yang masih dalam gendongan Kedrick. Makhluk menggemaskan itu masih berceloteh ria menceritakan kesehariannya bermain sepeda tadi, sesekali Orion mencubit pelan pipi gembul kemerahan itu yang terlalu sayang jika di abaikan.
Lalu ada Asher yang senantiasa menanggapi setiap kata yang keluar dari bilah bibir Ace. "Bang Nono ngejal, tapi Ace kebulu jatuh.."
Ace bercerita dengan nada yang riang seolah jatuh saat bermain sepeda tadi bukan apa-apa untuknya, beda hal untuk keluarganya yang sudah cemas dengan kondisinya. Terlebih Asher, dokter muda itu bahkan sudah menyiapkan alat kesehatannya kala Ace sudah pulang. Namun, hatinya merasa lega ketika melihat tidak ada luka terbuka pada tubuh gembul itu.
Tepat di lorong sebelum ruang keluarga, Ace sudah melihat Alice dan Rylee yang tengah melangkah menuju mereka.
"MOMMYY!! DADDYY!!" panggilnya dengan semangat, tangannya melambai-lambai, siapapun yang melihat hanya bisa menggigit pipi dalam mereka karena menahan gemas.
"Ace ingin mommy," tangan buntal itu terulur ke arah Alice, Alice hendak menghampiri pun tertahan ketika Kedrick yang mengerti langsung mendekat, membiarkan Ace beralih pada dekapan hangat Alice.
"Ace lindu." Gumam Ace sembari mengalungkan tangannya pada leher Alice, wajah imutnya ia sembunyikan di sana. Oh Tuhan, lihatlah manusia kecil ini, padahal tidak ada sehari Ace meninggalkan mansion untuk bermain tetapi Ace merindukan wanita cantik nomor satu di hatinya.
Suasana tiba-tiba menghangat menjalar ke hati.
Kekehan pelan pun terdengar, "Mommy juga rindu, Ace lama sekali mainnya, hm?"
Wajah Ace terangkat, senyuman manis terukir, "Soalnya selu, mom!"
Rylee menjawil hidung mungil Ace, "Ace senang hari ini?"
"Hum!" anggukan kepala Ace sudah menjawab semuanya. "Ace happy, dad!"
Melihat itu seketika hati Rylee menghangat. Apakah ia harus memberikan sesuatu pada Noah? Karena keponakan nakalnya itu bisa membuat Ace tersenyum lebar hingga matanya menyipit hari ini.
"Ace mau main lagi nanti!" pinta Ace.
"Tentu, baby. Tapi sebelum itu, mandi dulu!" Rylee tiba-tiba mengalihkan gendongan Ace, sedikit mengangkat tinggi tubuh mungil itu membuat Ace tersentak kaget namun setelahnya Ace tertawa bahagia. Hal ini yang paling Ace suka jika Rylee sudah mengangkat tubuhnya ke udara.
Rylee menghirup ceruk leher Ace, sesekali menciumi wangi yang selalu menjadi candunya. Walaupun sudah seharian bermain, wangi khas bayi pada Ace tidak hilang. Malah semakin menguar menimbulkan kesan menenangkan baginya.
Belum sempat melangkah menuju kamar, Amber bersama dua menantu lainnya datang menghampiri. Mata mereka menelisik setiap inci tubuh Ace. Memastikan Ace baik-baik saja, tidak lupa mereka mulai bertanya heboh. Terutama Jane.
"Ya Ampun, my baby! Ace jatuh ya tadi?
"Sayangnya oma nggak apa-apa, 'kan?"
"Ada yang sakit, sweety?"
"Asher, tolong periksa. Oma takut ada luka."
Emily mengangguk setuju, "Ya, Ash. Takutnya ada memar yang nggak kelihatan."
"Apa perlu ke rumah sakit saja? Biar lebih jelas."
Alice sedikit meringis dengan peruntunan nada khawatir dari para wanita, "Mom, Ace baik-baik—
KAMU SEDANG MEMBACA
little ace
Roman d'amourace, bocah imut yang kehadirannya disembunyikan oleh kedua orangtuanya hingga keluarga besarnya pun tidak mengetahui bahwa mereka memiliki cucu, adik, keponakan, sepupu yang begitu menggemaskan. hingga waktu itu semua mengetahui fakta besar ini, apa...
