Langit gelap mulai memudar, menampikan cahaya jingga kemerahan yang menghiasi indahnya cakrawala. Udara yang terasa sejuk, segar, hangat dan suara alam yang mulai bersahut-sahutan menimbulkan rasa ketenangan batin.
"Mommy," gumam Ace dalam tidurnya. Tubuhnya mulai bergerak tak nyaman seolah sesuatu mengimpitnya.
Kelopak kecil itu bergerak–terbuka perlahan, Ace mengejapkan matanya menyesuaikan dengan sinar lampu yang menusuk lembut, berkedip beberapa kali seraya tubuh mungilnya menggeliat lalu melenguh kecil kala merasakan berat pada badannya. Rylee masih tertidur pulas dengan tubuh shirtless nya, tak menyadari bahwa lengannya yang besar itu masih memeluk Ace seolah menjadikan Ace guling yang nyaman.
Ace menguap pelan, manik indahnya mulai di lapisi oleh cairan bening.
"Belat," keluh Ace berusaha menyingkirkan beban dari atas tubuhnya.
Rylee tampak tidak terusik sama sekali, wajah tegasnya terlihat tenang bahkan terlalu tenang untuk menyadari pergerakan Ace bahkan saat Ace mulai mencubit kecil kulit lengannya, malah suara dengkuran halus yang semakin terdengar.
Ace semakin bergerak tak karuan, kaki mungilnya menendang lengan Rylee, badannya mulai terlepas hingga dengan tidak sengaja bokong Ace mendarat tepat pada wajah Rylee. Rylee sedikit mengerang, merasakan sesuatu yang empuk menimpa hidung mancungnya, namun hal itu tidak berhasil membuatnya terbangun.
Ace menghempaskan lengan Rylee ketika dirinya berhasil lepas dari kukungan daddy nya itu. Ace merangkak kecil menuju tepi kasur, lalu turun dari kasur yang cukup tinggi dengan berpegang selimut. Kaki mungilnya berjalan menuju pintu yang memang tidak tertutup rapat.
Lorong masih terlihat sepi dengan pencahayaan yang rendah. Para maid di pagi hari biasanya langsung ditugaskan untuk menyiapkan sarapan di main kitchen tentunya dengan chef pribadi milik keluarga Walter. Maka dari itu, belum ada maid yang berkeliaran di setiap lantai.
Ace berjalan menyelusuri koridor dengan boneka sapi yang sempat bocah itu bawa. Langkah kecilnya berhenti di sebuah pintu lift yang ada di ujung koridor.
"Lift!" seru Ace bahagia.
"Tolong antal Ace pada mommy, ya."
Beberapa kali menaiki lift entah itu bersama Rylee, Alice, Kedrick atau yang lainnya membuat otak Ace terbiasa dan hafal bahwa kotak logam yang bergerak naik-turun ini pasti bisa membawa dirinya pada Alice. Tapi perlu di ingat kamar Rylee terletak di lantai tiga, bukan hal mudah bagi Ace untuk turun sendiri.
Kepala Ace menoleh ke arah tombol di sebelah pintu lift, indikator tersebut menampilkan angka satu dengan panah ke arah atas, tanda ada seseorang di balik pintu logam itu.
Ting! Dentingan lembut itu membuat tubuh Ace terperanjat pelan, sedetik kemudian sebuah bilah senyum manis terbentuk di bibir Ace ketika pintu itu terbuka perlahan.
"OMAAAA!"
Amber tak beda jauh, dirinya terkejut melihat Ace yang tengah berdiri di depan lift dengan boneka yang dirinya sematkan di antara lengan gendut dan dadanya. Niatnya kembali ke kamar untuk membangunkan Frank, jantungnya malah di pompa lebih kencang ketika menyadari bahwa Ace sendirian di lorong yang masih sepi dan mencoba turun sendiri dengan lift.
"Ya ampun, sayang. Sudah bangun?" Amber menunduk kemudian menyelipkan kedua tangannya ke ketiak Ace, mengangkat Ace ke dalam gendongannya.
Anggukan kepala Ace menjawab pertanyaan Amber seraya memberi satu kecupan di pipi Amber, "Sudah, oma."
"Kenapa sendiri, hm?" Amber mengusap pipi Ace yang terasa dingin mungkin terpapar udara pagi, "Mana daddy?"
"Dad masih tidul." Amber menggerutu dalam hatinya mendengar jawaban Ace. Bisa-bisanya Rylee tidak menyadari Ace yang lepas dari pelukannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
little ace
Romanceace, bocah imut yang kehadirannya disembunyikan oleh kedua orangtuanya hingga keluarga besarnya pun tidak mengetahui bahwa mereka memiliki cucu, adik, keponakan, sepupu yang begitu menggemaskan. hingga waktu itu semua mengetahui fakta besar ini, apa...
