45. Dia Menyedihkan

56 6 2
                                        

Ruang yang hancur itu bergetar. Pecahan dimensi berputar lebih cepat, seperti terseret ke pusat kehendak yang saling bertabrakan.

Di satu sisi—
kegelapan pekat, retakan merah, tekanan yang mencekik.

Di sisi lain—
cahaya biru… perlahan bangkit kembali.

Sakura berdiri. Tubuhnya terluka, napasnya berat—tapi matanya…tidak goyah. Kelopak-kelopak cahaya mulai muncul di sekelilingnya, satu… dua… lalu ratusan.

Namun kali ini berbeda.
Tidak liar.
Tidak tersebar.
Semua mengarah ke satu titik.

Sakura mengangkat tangannya perlahan. “Sayang sekali jika dunia ini hancur begitu saja…”Suaranya tenang. “Maka biarkan Aku… memperbaiki nya.”

Cahaya biru berdenyut—
“Teratai Biru—Shinsei Renge (Sacred Rebirth Lotus)!”

BOOOOOOM—!!

Ledakan cahaya biru mekar seperti bunga raksasa di kehampaan. Kelopak-kelopak itu tidak hanya menyerang—mereka menstabilkan ruang, menahan retakan, memaksa realitas kembali pada bentuknya.

Untuk pertama kalinya—
kekuatan Shisiya… terdorong mundur.

Namun—
ia tersenyum. “Bagus… tapi masih belum cukup.” Matanya bersinar. Lingkaran di dalamnya berputar cepat—lebih cepat dari sebelumnya.

Aura merah meledak. “Kekkei Mata—Enkoku Shigan (Abyssal Crimson Dominion)!”

RRRRAAAKKKK—!!!

Seluruh ruang kembali runtuh. Kali ini lebih brutal. Cahaya biru Sakura dipaksa terlipat, dipelintir, bahkan beberapa bagian hancur menjadi serpihan energi.

Sakura terhuyung. “Hah—!” Tubuhnya hampir jatuh—namun ia menahan. Matanya tetap terkunci pada mata merah itu.
“Ini dia!… sudah melihatnya…” Kesempatan telah tiba!

Kelopak di sekelilingnya berhenti bergerak liar.Mereka… menyatu.
Menjadi satu lintasan.
Satu serangan.

Di kejauhan, Sakuya mengepalkan tangannya. “..Saudari…” kamu pasti bisa! Untuk pertama kalinya dia bergumam dengan tulus memanggil Sakura dengan 'Saudari'.

Sakura menarik napas panjang.
Lalu—
ia menghilang. Bukan berpindah. Tapi menjadi arus cahaya biru murni yang melesat lurus. Langsung menuju mata itu.

Shisiya menyipitkan mata.
“Kau pikir bisa—”

Namun—
terlambat.

Sakura muncul tepat di hadapannya.
Sangat dekat. Cahaya biru terkumpul di tangannya—padat, tajam, berdenyut seperti jantung hidup.
“Tenang saja,…tidak akan sakit.”

Matanya bergetar… tapi tetap kuat.

“Ini hanya untuk mengakhiri kebencianmu.”

Cahaya itu meledak—“Kōrin—Seika no Hitomi (Descending Bloom: Eye of Purification)!”

DUAAAAAAAAARRRRRR—!!!!!!!

Serangan itu langsung menghantam—
mata merahnya.

Untuk sesaat—
semuanya berhenti.
Waktu… seperti terhenti.
Lalu—

CRACK.

Pola rumit di mata itu retak.
Satu garis.
Lalu dua.
Lalu—
hancur.

Cahaya merah meledak keluar, bercampur dengan biru. Ruang di sekitar mereka bergetar hebat pecahan dimensi mulai runtuh, tapi kali ini bukan karena kehancuran…
melainkan karena kembali ke bentuk semula.

Shisiya membeku. Matanya melebar. Untuk pertama kalinya—
tanpa kendali. “Tidak… mungkin…” Tubuhnya mulai kehilangan bentuk dominannya. Aura gelapnya retak… seperti topeng yang pecah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Otsutsuki SakuraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang