42. Setiap Jalan adalah Pilihan-

19 3 0
                                        

Api Teratai Biru itu tertegun, tidak menyangka bahwa Sakuya akan menjawab seperti itu.  Api Teratai Biru terdiam. Lebih lama dari sebelumnya.

Nyala birunya tidak lagi bergerak… justru menjadi sangat tenang, seperti permukaan air yang dalam. Seolah ia sedang melihat sesuatu—bukan hanya kata-kata Sakuya… tapi masa lalunya. “Jadi begitu…” suaranya lirih.

“Bukan hanya dunia yang melukaimu… tapi juga takdir yang tidak pernah kau pilih.” Untuk sesaat, nyala api itu bergetar pelan. “Kau bukan sekadar menginginkan kekuatan…kau ingin mengambil kembali sesuatu yang menurutmu dirampas sejak awal.”

Hening.

Sakuya tetap berdiri tegak, tapi matanya sedikit menyempit. Api itu melanjutkan, kali ini lebih dalam...lebih tajam tanpa meninggikan suara: “Namun… keinginan itu bukan lagi milikmu sepenuhnya.”

Angin seolah berhenti.

“Ada suara lain di dalam dirimu. Bukan suaramu… tapi kau biarkan ia tumbuh.”

Jantung di tubuh Sakuya berdenyut tidak stabil.

“Seseorang telah menanamkan api yang berbeda dalam hatimu…api yang tidak ingin kau kuat—tapi ingin kau hancur bersama segalanya.” Untuk pertama kalinya, Sakuya terlihat sedikit terganggu.

Api Teratai Biru tidak mendekat. “Aku bisa saja membantumu.” Nada suaranya tetap lembut. “Menjernihkan pikiranmu… atau bahkan membimbingmu keluar dari jalan ini.”

Hening sekejap.
Lalu—

“Tapi itu bukan pilihanku untuk menentukan.” Cahaya birunya mulai meredup perlahan. “Karena meskipun kau disesatkan…yang melangkah tetaplah dirimu.”

Kata-kata itu jatuh… pelan, tapi berat.
“Dan selama kau masih memilih jalan ini…aku tidak akan menjadi bagian darinya.”

Api itu perlahan berputar, menjauh. “Jika suatu saat kau berhenti… dan benar-benar melihat dirimu sendiri…
maka mungkin kita akan bertemu lagi.” Nyala tubuhnya mulai terurai menjadi kelopak-kelopak cahaya. “Tapi bukan sekarang.”

Dan sebelum benar-benar menghilang—“Karena saat ini… kau tidak berjalan sendirian.”
Kalimat itu menggantung.
Seolah… ada sesuatu yang lain di balik bayangan Sakuya.

"Nak, ingatlah ini. Setiap jalan adalah pilihan mu. Dan setiap pilihan.. memiliki harga yang tidak bisa di hindari.."

Dan kemudian—Api Teratai Biru lenyap.

Sakura dan Sakuya berfikir sejenak. Meresapi kata demi kata.

Sunyi yang tersisa terasa berat..seolah dunia ikut menahan napas. "Yang mulia! Mohon buat keputusan!" Suara salah satu tetua menembus kesunyian.

Syura menatap tajam tetua itu. "Keputusan apa yang ingin kamu aku buat."

Wajah tetua itu tetap tenang. "Yang Mulia! Ratu Sakuya, telah melakukan banyak kejahatan yang tidak bisa di maafkan! Apalagi dia pernah membunuh saudarinya beratus-ratus tahun yang lalu. Yang dalam hukum kita sendiri kejahatan itu harus di hukum mati! Jadi mohon yang mulia buat keputusan!" Di ikuti kesetujuan lainnya.

Para klan juga sontak meneriakan hukum Sakuya! Dengan lantang.

Wajah Syura muram, dan Inari tertegun. Tidak boleh! Dia tidak bisa kehilangan putrinya lagi! "Syura! Aku tau, kejahatan yang di lakukan Sakuya itu sudah keterlaluan! Tetapi! Apakah kamu sanggup menanggung kehilangan putri mu lagi!? Aku tidak sanggup! Kamu boleh menghukumnya, tetapi jangan hukum mati dia! Kumohon! Jika kamu ingin putri ku mati, maka bunuh aku bersamanya!"

Otsutsuki SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang