Pertarungan berakhir dengan kemenangan yang di yakini milik Ejen muda, tapi entah kenapa pihak mereka yang mendapat banyak kerugian, Ejen Dayang juga merasa bersalah pada Ejen yang mengalami cedera serius sewaktu berhadapan dengan Ejen Ganz.
"Kenapa serang kuat-kuat! Kan saya dah cakap tadi, guna tinju energi je. itu pun jangan sampai betul-betul kena." omelan panjang Ejen Dayang ketika melihat banyaknya tandu yang membawa Ejen tak sadarkan diri.
"Err, bukan kau keh yang suruh aku untuk serang budak-budak tu, agar diorang dapat rasa bagaimana pertarungan sebenar masa melawan musuh. Dan lagi, awak bagi ball drone biar saya semakin leluasa berlawan kan?" sahut Ejen Ganz membela diri tapi tetap takut menatap balik.
"Ball drone tu untuk jauhkan awak dari budak-budak, bukan untuk... Dah lah, saya lanjutkan pun awak tak kan paham. Sekarang biarkan mereka bercuti lima hari, habis tu baru sambung Arena lagi." Ejen Dayang berbalik berbicara para Ejen mentor yang sedari tadi hanya diam menunggu arahan.
"Ish, lama tu. Jadikan tiga hari je, buat apa bagi cuti lama-lama. Semakin cepat kan makin bagu-"
"Awak nak mereka tarung dengan cedera seteruk itu!" bentak Ejen Dayang memotong omongan Ejen Ganz yang langsung bungkam.
Hening beberapa saat sampai jendral Rama mulai angkat bicara mewakilkan para Ejen mentor yang nampak takut bersuara melihat Ejen Dayang memarahi Ejen Ganz yang notabenenya adalah salah satu dari ketua Teras terkuat di MATA.
"Khem... Baik! Mengikut perkataan Ejen Dayang, Ejen muda akan di cutikan selama lima hari. Baru setelah itu arena kita lanjutkan. Dan juga jangan abai dengan perawatan bagi Ejen yang mengalami cedera!" ucap jenderal Rama.
Para mentor mengangguk patuh sedangkan ketua Teras sudah pergi entah kemana. Setelah istirahat beberapa menit dan mendapatkan perawatan, Ejen muda di persilahkan untuk kembali kerumah dan diminta berkumpul Arena di hari Minggu.
Sekarang hari pertama diliburkan dari misi, Ali tidak mengalami cedera separah yang lain jadi dia masih bisa sekolah dan beraktifitas seperti biasa.
"Ali, Afi boleh masuk?" suara pelan dari luar kamar terdengar.
"Masuk lah~" sahut Ali, tangannya yang memegang obeng terlihat sibuk.
Afifah melangkah perlahan ke dekat meja belajar kakaknya, ia terpukau menyaksikan Ali yang tengah memperbaiki gangsing dan yoyo, saat merasakan kehadiran di sampingnya, Ali langsung menghentikan kegiatan.
"Kenapa Afi?" tanya Ali sambil memutar kursi menghadap Afifah.
"Err, saya nak jalan-jalan. Tapi masih belum hafal dengan jalan sekitar. Ali nak temankan?" jawab Afifah.
Lama Ali merenungkan jawabannya, setelah memeriksa ponselnya, Ali baru mau menyetujui ajakan Afifah. Ke dua kini berada di sekitar komplek perumahan, berniat ingin menikmati matahari terbenam di area taman.
"Cantiknya~ " mata Afifah berbinar melihat langit berwarna jingga.
Ali yang duduk disebelah hanya tersenyum ikut menatap langit dalam diam merasakan hembusan angin.
"Ali.." lama Afifah terdiam.
"Awak benci tak kalau tahu Afi sembunyikan banyak rahasia?" lanjutnya dengan suara bergetar.
"Tak lah. Aku pun ada banyak rahasia yang kau tak tahu, jadi tak perlu kau berfikir berlebihan. Nanti ada lah tu, masa untuk kita bercakap yang sebenar tentang rahasia masing-masing. Kau fikirkan baik-baik sebelum kau bagikan rahasia tu pada aku." jawab Ali.
Perkataan panjang Ali sedikit menghangatkan suasana, diam-diam Afifah tersenyum tanpa Ali sadari. Merasa sudah tidak ada lagi yang ingin dia katakan, Afifah mengajak Ali untuk pulang sebelum hari semakin gelap. Di kejauhan tampak sekumpul orang tengah memperhatikan gerak-gerik Afifah dan juga Ali.
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI (Enam)
Fanfiction~ini lanjutan cerita ~Black Code ~ Apa nak kita buat hari ni?" tanya Ali antusias karena sudah lama mereka di liburkan dari misi. "Aku tak tau," jawab Alicia. "Kau dah sehat betul-betul ke ni?" Ali memandang khawatir Alicia. "Mestilah, lama masa raw...
