Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 34

3 0 0
                                        

Beberapa minggu kemudian, di koridor sekolah semua orang berkerumun melihat pemandangan seperti biasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa minggu kemudian, di koridor sekolah semua orang berkerumun melihat pemandangan seperti biasa. Para anak yang membuli anak penerima beasiswa. Hal sudah biasa terjadi dari berdirinya sekolah. Sistem kasta ini menjadi ajang anak kaya menindas anak dari keluarga tak bercukupan.

"Hei, rendahan, tidak dengar tadi aku bilang apa? Hei!" Anak laki-laki menendang anak yang duduk meringkuk dengan tubuh bergemetaran.

"Tidak, ya? Berikan itu, Bro." Ia mengulurkan tangannya. Anak yang disampingnya memberikan botol yang berisikan air.

"Rasakan ini, hahaha!" Ia menyiramkan anak itu hingga diterwakan anak-anak lain.

Di sisi lain, Ashilla hanya bisa menonton. Ia sangat kesal, tetapi dirinya bukan anggota OSIS lagi. "Aku gak bisa berbuat apa pun, tahu gini harusnya aku mencalonkan diri lagi pas naik kelas." Ashilla sedikit menyesali keputusannya dulu ketika diajak Dannies bergabung dengannya.

"Eh, Dol, kamu kan anggota OSIS, kenapa gak melerai mereka?" tanya Vanessa melirik Vedol yang melihat ponselnya sedari tadi.

"Belum saatnya, lagian terakhir waketos berusaha melerai malah dia yang terluka gara-gara mereka. Dannies sampai murka dan menyuruh kami memantau dulu," jawab Vedol yang masih tidak lepas dari ponsel.

"Waketos bukannya Kelin? Dia kan lumayan kuat, aku pernah satu lawan satu dengannya," ucap Ashilla sambil mengingat seorang anak laki-laki yang tahun pertama masuk SMA sudah disukai teman sekelasnya kala itu.

"Satu lawan satu iya, tapi tidak berlaku jika ia dikeroyok. Dannies aja harusnya udah keluar rumah sakit malah masih menetap di sana karena Kelin dirawat. Yah, kudengar hari ini udah keluar tinggal nunggu pak ketua," ujar Vedol.

"Woi! Dodol!" Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Vedol sampai laki-laki itu terperanjat.

"Ih, siapa sih?" Vedol menoleh ke arah si pelaku lalu berdecak. "Kelin? Baru saja, diomongin udah nongol aja," sambungnya.

"Hehe, oh iya, ketua kita seram banget. Anak-anak lain sampai enggan masuk ruangan OSIS," jelas Kelin yang membuat Ashilla mengernyit.

"Serem? Kenapa?" tanya Ashilla.

"Pake nanya lagi ni bu ketua, tentu saja karena aku dihajar dan kejadian di depan mata. Sekarang aja dia ingin sekali ke sini buat menonjok orang itu, tapi ku tahan. Aku rada takut kejadian tahun lalu kejadian lagi, kalian setuju denganku, kan?" Keringat mulai bercucuran tiap ia teringat kejadian kelam yang hampir membuatnya cacat.

"Jangankan kamu, kami semua takut termasuk bu ketua disamping ini sangat menyeramkan. Lebih menyeramkan dari hantu." Tatapan Kelin bergetar dan enggan menatap Ashilla karena takut.

"Hah? Apa? Walau kamu waketos, aku ketua kelas di kelas kita dan gebetanmu wakilku." Wajah Ashilla mendekat dengan mata melotot.

"Kalian minggir!"

Suara berat serak yang tidak asing sontak membuat mereka menyingkir dan memberinya jalan. Arkam, Vedol, dan Kelin hanya bisa menelan ludah begitu laki-laki itu berjalan mendekati para pelaku pembuli.

"Kalian ini tidak ada kapok, ya. Membuli adik kelas dan melakukan pelanggaran sekolah. Sekolah ini memang ada sistem kasta sampai guru pun tidak peduli, tapi OSIS SMA Darma tak begitu. Kalian tahu sendiri aku mengetahui rahasia kelam satu sekolah dan semua datanya ada padaku," jelasnya, "Leon, kamu murid baru, tapi berulah dari hari pertamamu, ya. Bahkan, berani menyentuh sahabatku. Aku pastikan kamu tidak bisa menyombongkan diri lagi dan menanggung malu sampai lulus." Dannies berkata sambil menyeringai lalu mengulurkan tangan pada anak yang dirundung.

Setelahnya, mereka pergi meninggalkan tempat. Leon yang tidak terima pun bertekad membalas. "Dannies, lihat saja, aku akan menghancurkanmu, sama seperti aku dan ibuku menghancurkan keluargamu."

Semua orang kembali ke aktivitas masing-masing, tetapi satu orang tidak beranjak dari sana. Hanya diam berdiri.

"Aku baru selesai pemulihan malah melihat kejadian ini. Apa ku bantu kakak sepupuku? Si Leon itu tidak tahu apa keluarga pihak ibu Dannies siapa?"

"Tapi, bukannya menarik? Menurutmu, kejadian itu terulang kembali? Dannies dan Ashilla memiliki banyak musuh sejak masuk ke sini sampai banyak yang mencari kelemahan mereka."

"Harun Alio Ardana, mau bertaruh?"

Harun menyeringai. "Siapa takut, Chandra Maharaja Adinata."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CandramawaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang