Seperti namanya Bintang, dia hanya ingin selalu menyinari orang-orang yang dia sayangi dengan cahaya kebahagiaan. Namun, hal yang tidak terduga datang menghampirinya dan membuat sinarnya perlahan meredup dan akhirnya menghilang.
Starlight
Start :...
"Yang paling menyakitkan bukan mengetahui sebuah rahasia, tetapi mengetahui bahwa orang-orang yang kamu percaya memilih menyimpannya darimu."
***
Setelah obrolan mereka di kafe sore itu, Biru dan Bintang mulai menyelidiki lelaki misterius yang selama ini sering bertemu dengan ibu tiri Biru. Mereka benar-benar bekerja keras untuk mengungkap sesuatu yang sudah terasa seperti sebuah misteri besar.
Mereka memilih melakukannya berdua, tanpa melibatkan yang lain. Keduanya berpikir mungkin mereka bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.
Tidak terasa, satu minggu telah berlalu. Setelah melakukan berbagai cara, akhirnya mereka mulai menemukan titik terang.
Saat ini, di tempat yang sama-Kafe Moana-Biru dan Bintang sedang membahas hasil penyelidikan mereka selama satu minggu terakhir.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi, apa yang kamu dapat, Dek?" tanya Bintang, membuka pembicaraan setelah meneguk minumannya.
"Saat aku melihat laki-laki itu, aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Dan, Kabin, aku baru ingat kalau aku pernah melihat laki-laki itu dua tahun yang lalu, tepat di hari Buna akan menemui Abba di Jakarta," kata Biru.
Ucapan itu tentu saja membuat Bintang terkejut.
"Oh ya? Kamu yakin, Dek?" tanyanya, masih terlihat syok.
Biru mengangguk yakin.
"Ya, Kak. Aku yakin sekali. Saat Buna sedang bersiap-siap sebelum pergi, aku melihat Tante Jenny mengobrol dengan seseorang di dekat mobil Buna. Waktu itu aku sedang ingin pergi mengerjakan tugas kelompok di rumah temanku, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku pikir mungkin Tante Jenny sedang berbicara dengan temannya."
Biru terdiam sejenak.
"Namun, setelah aku tumbuh lebih besar, aku mulai berpikir kalau itu adalah sesuatu yang janggal. Apa mungkin rem blong itu memang sudah direncanakan oleh Tante Jenny dan laki-laki itu?"
Bintang terdiam. Pendapat yang disampaikan Biru terdengar masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal.
Namun, ada satu hal yang masih membuatnya bingung.
"Oke. Apa yang kamu katakan itu terdengar sangat masuk akal, Dek. Tapi yang jadi pertanyaanku adalah... kenapa dia bisa ada di sana waktu itu? I mean, bukannya dia orang lain sebelum menjadi ibu tiri kamu? Kenapa dia bisa ada di rumahmu?"
Bintang sengaja bertanya karena ingin memahami semuanya.
Biru menghela napas panjang. Tatapannya yang semula sedikit berbinar perlahan kembali meredup.
"Percaya atau tidak, saat Buna masih ada, aku cukup dekat dengannya karena dia memang tinggal bersama kami. Dia anak angkat Kakek, Kak. Jadi, dia tumbuh bersama Buna."