Derian POV
Sungguh betapa bodohnya lidahku ini sampai lepas kendali saat melihat Zahra menampakkan rona wajah yang berseri-seri di hadapanku. Aku tidak tau kenapa Zahra tiba-tiba muncul dengan mood yang sangat bagus setelah ia melakukan kesalahan dengan pergi tanpa izin dariku. Meski hati ini sebenarnya masih merasa kesal tapi melihat rona di pipinya yang seputih porselen itu, membuat seluruh perasaan negatif itu hilang dalam sekejap.
Aku bisa bersumpah kalau ada orang yang melihat kejadian ini mereka juga pasti akan merasakan hal yang sama denganku. Harus kuakui wajah Zahra yang sangat memikat itu benar-benar sudah menghipnotisku. Astaga, bahkan rona pink di pipinya itu mampu membuatku bermimpi untuk mengecupnya saat ini juga.
Tapi apa daya dia bukanlah wanita yang pantas aku inginkan, dia tetaplah seorang Purnama, dan aku tidak boleh jatuh terpikat olehnya.
Entah kenapa mata dan tubuhku ini rasanya tidak bisa mengkompromi perasaan benciku pada si pewaris darah Sarah Purnama ini, mataku tidak bisa berhenti untuk menatap setiap tindak-tanduknya, caranya berbicara, tatapan matanya, caranya makan, tidur, berdoa semua sungguh sangat indah.
Setiap kali aku mengagumi seorang Zahra aku selalu berpikir pasti ini karena efek luka di kepalaku. Berada seharian bersama Zahra ternyata tidak terlalu buruk juga, harus aku akui kalau wanita itu adalah seorang multitasking yang sangat baik. Dia bisa mengerjakan berbagai hal dalam satu hari dan semuanya berjalan sesuai keinginanku.
Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran bimbangku, sontak mataku dan Zahra dibuat menoleh ke asal suara itu. Ku lihat seorang pria berjas dokter masuk ke dalam ruanganku, dan berjalan menghampiriku sambil tersenyum ramah, diikuti oleh tiga orang lainnya dengan pakaian yang sama hanya saja mereka kelihatan lebih muda.
" Tuan Derian selamat sore bagaimana keadaan anda saat ini apa kepala anda masih terasa nyeri ? " tanya dokter tua yang biasa ku panggil dokter louis.
" Mmm...sebenarnya masih sakit sedikit, oh ya apa perban ini bisa dilepas sekarang ? Aku sudah tidak nyaman aku ingin membasuh kepalaku rasanya gatal sekali " Aku berkata sambil mengusap perban yang menutupi bagian atas kepalaku.
" Oh biar aku check dulu, sebelumnya aku ingin meminta izin padamu karena aku membawa beberapa dokter koas bimbinganku, mereka ingin aku ajarkan tentang perawatan luka benturan kepala " Dokter tua itu kelihatan gugup saat meminta izin kepadaku, seketika kedua mataku ini menatap satu-persatu murid bimbingannya, dan yang mengejutkanku saat melihatnya adalah ternyata ada seseorang yang pernah ku lihat hadir di tengah-tengah mereka.
Jhonson !
Pria yang pernah menjadi pahlawan bagi Zahra itu berdiri dengan membusungkan dadanya dan menatapku seolah aku menjadi santapan siangnya.
Dasar bocah tengik
Entah kenapa hatiku rasanya panas melihat sosoknya.
" Baik lakukan saja " aku memberikan izinku.
Si dokter tua itu mulai mengobrak-abrik luka kepalaku, sambil menuturkan berbagai istilah yang sangat asing di telingaku kepada setiap muridnya, mereka semua kelihatan sangat berkonsentrasi termasuk Zahra, wajahnya yang bersinar semakin manis dengan kilat cerdas di matanya. Tapi sedetik kemudian pemandangan yang kulihat membuatku muak, dimana Zahra tiba-tiba menoleh ke arah Jhonson yang sedang diberikan pertanyaan oleh louis. Aku bisa melihat Zahra tersenyum gembira saat pria itu berhasil menjawabnya, dan apa yang kulihat selanjutnya sungguh sangat menjijikan dimana satu mata pria tengik itu mengedip ke arah Zahra. Membuat Zahra terlihat kaget dan langsung menundukkan kepalanya malu, dan dapat kulihat lagi rona merah tercetak di pipinya.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada respon tubuhku melihat itu, jantungku berdegup cepat mengalirkan darah yang panas membara membawa elemen emosi hingga ke ujung rambutku. Ada rasa seperti ingin menguasai Zahra seutuhnya menjadi milikku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband For Zahra
Romance" bunda aku memang selalu memimpikan diriku untuk menikah, tapi tidak dengan cara seperti ini bu, aku mohon....sadarlah bunda..ini tidak baik...ini sama saja kau menjual diriku !!!" Zahra menangis terisak-isak suara gerungan tangisannya terdengar be...
